Pembangunan RSP "Disoal" Terkait Amdal

Kesehatan  KAMIS, 15 JUNI 2017 , 15:16:00 WIB | LAPORAN: ROSIDARTA

Pembangunan RSP

Ilustrasi/Net

RMOL. Adanya kekhawatiran dari sebagian warga Kampung Soreang, Benteng dan Spur, Desa Menes, serta warga Kampung Alas Wangi, Balebogo, Cipogor dan Kadu Cukang, Desa Alas Wangi, Kecamatan Menes, Pandeglang. Terkait dampak lingkungan, yang akan ditimbulkan oleh beroprasinya Rumah Sakit 'Tipe D' Pratama (RSP) mendatang.

Kekhawatiran warga tersebut, terkait dampak Bahan Beracun dan Berbahaya (B3), sisa limbah medis yang dihasilkan dari beroprasinya RSP tersebut, yang kemungkinan besar dapat mengancam keberlangsungan ekosistem, manusia, maupun mikro organisme lainnya.

"Sebuah program prestise Nawacita Jokowi yang ada di Pandeglang ini, memang sepertinya tidak dibarengi dengan kajian-kajian lingkungan yang mendalam. Terutama terkait dampak yang akan ditimbulkan pra, maupun pasca pembangunan, serta pada saat beroprasinya RSP tersebut, apa lagi berdirinya bangunan itu, berada di bibir aliran sungai," terang Ketua Himpunan Mahasiswa Lestari Alam, Universitas Mathla'ul Anwar (Unma) Menes, Ninda Paramitha, Kamis (15/6/2017).

Menurutnya, proses pengelolaan limbah yang bersifat B3 ini, sudah sangat jelas aturannya, baik tertuang dalam UU No. 32 Tahun 2009, UU No. 23 Tahun 1997, UU No 4 Tahun 1982, Permen Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2011, maupun Kep Permen Lingkungan Hidup No. 86 Tahun 2002, yang kesemuanya menerangkan tentang Pedoman Perumusan Materi Muatan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

"Bahkan dalam PP No. 18 tahun 1999, dijelaskan. Limbah dengan katagori B3, merupakan sisa suatu usaha, atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun, yang karena sifat atau konsentrasinya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan merusakan lingkungan hidup, serta membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lain," jelas Ninda.

Berkaca dari aturan-aturan itulah, mahasiswi semester V di Unma inin berharap. Instansi, maupun pihak-pihak terkait yang berkompeten terhadap suksesnya pembangunan RSP tersebut, untuk kembali mencermati akibat dampak kingkungan yang akan terjadi, apabila pihak Dinkes Pandeglang tidak melakukan kajian terlebih dahulu terkait Analisa Dampak Lingkungannya (Amdal).

"Dari informasi yang kami dapat, pembangunan RSP di Menes tersebut, baik pihak Dinkes, maupun pihak pelaksananya, belum mengantongi izin apa pun, baik IMB, Andalalin, maupun Amdal. Sehingga bila proses pembangunannya tetap berjalan, ini adalah sebuah preseden buruk buat Pemkab Pandeglang," tambahnya.

Terpisah, PPTK Pembangunan RSP Menes, Dindin Muhamad mengatakan. Bahwa sebenarnya, isu pembangunan RSP ini, sudah ada sejak beberapa tahun lalu, dan di tahun 2017 ini, programnya baru berjalan, dengan menggunakan anggaran APBN Pembantuan sebesar Rp. 29 milyar. Sedangkan terkait perizinan-perizinan, baik Andalalin maupun Amdal, pihaknya mengaku sedang berproses, bebarengan dengan pembangunan RSP tersebut. [jem]



Komentar Pembaca
Ulama Doakan Gatot Jadi Presiden

Ulama Doakan Gatot Jadi Presiden

KAMIS, 22 JUNI 2017 , 19:00:00

Besok Ahok Dijebloskan Penjara

Besok Ahok Dijebloskan Penjara

RABU, 21 JUNI 2017 , 21:00:00

Tim TNI AD Diganjar MURI

Tim TNI AD Diganjar MURI

SELASA, 20 JUNI 2017 , 21:00:00

Peresmian Jawarah di Istana Wapres

Peresmian Jawarah di Istana Wapres

JUM'AT, 28 APRIL 2017 , 18:24:00

Pembagian Piala Lomba Baca Puisi

Pembagian Piala Lomba Baca Puisi

JUM'AT, 12 MEI 2017 , 14:33:00

Agus Sandjadirdja Raih Penghargaan PCNO

Agus Sandjadirdja Raih Penghargaan PCNO

JUM'AT, 28 APRIL 2017 , 16:34:00