Marak Spanduk "Sindiran" Irna-Tanto Bupati dan Wakil Bupati Pandeglang

Politik  SABTU, 08 JULI 2017 , 13:51:00 WIB | LAPORAN: ROSIDARTA

Marak Spanduk

Atih Ardiansyah, Pakar Komunikasi Rafei’i Ali Institue (RAI)/Daday

RMOL. Aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Pandeglang, Dede Nasir memasang sejumlah spanduk di pagar-pagar pemerintahan Pemkab Pandeglang. Spanduk ini berwarana putih bergambar bupati dan wakil bupati Pandeglang, Irna Narulita-Tanto Warsono Arban dengan tulisan warna merah ‘Bupati dan Wakil Bupati Kita’ plus logo Pemkab Pandeglang dibagian atasnya.

Dede Nasir mengaku sengaja memasang spanduk tersebut, karena santernya isu adanya dugaan intervensi mantan Bupati Pandeglang, Dimyati Natakusumah terhadap jalannya roda pemerintahan di Pandeglang.

Sengaja saya pasang spanduk di pagar-pagar kantor pemerintahah dan Alun-alun Pandeglang, agar terbaca oleh masyarakat. Tujuannya untuk mengingatkan, bahwa Bupati Irna dan Wakil Bupati Tanto Warsono Arban, adalah bupati kita, bukan Pak Dimyati,” kata Nasir, Sabtu (8/7/2017).

Ditambahkan mantan Ketua IPNU Pandeglang ini, di Pandeglang muncul kesan yang kurang baik, terhadap tata kelola pemerintahan yang dilakukan Bupati Irna, karena diduga adanya intervensi pihak lain.

"Isunya ada intervensi mantan bupati. Situasi ini sangat tidak kondusif dan mengambat pembangunan di Pandeglang, sehingga tak terarah dan terkesan banyak kepentingan," tegasnya.

Terpisah, pakar komunikasi Rafei’i Ali Institue (RAI) Atih Ardiansyah, megatakan. Ada dua pesan yang ingin disampaikan dalam spanduk yang dipasang aktivis tersebut. Pertama adalah ajakan keterlibatan semua komponen masyarakat, dalam pembangunan Pandeglang. Spanduk ini juga kata Atih memang berkaitan erat dengan sosok mantan Bupati Dimyati.

"Pesan yang ingin disampaikan pembuat spanduk adalah siapapun yang ada dibelakang Dimyati dan masyarakat umumnya harus berada satu shaff mendukung bupati definitif. Dan selain itu pun, gerakan ini pun bisa menjadi counter terhadap sikap dan komentar Dimyati di sejumlah media, yang sering mengritik kinerja Bupati Irna, juga pesan untuk memperkuat barisan mendukung Bupati Irna, yang barangkali dipandang sebagai pihak yang lemah atau dikesankan demikian," ungkap Magister Ilmu Komunikasi ini.

Pakar Komunikasi RAI ini, kembali menegaskan. Kalau diperhatikan, Bupati Irna meski masih minim inovasi, kecepatannya dalam menanggapi persoalan dengan dukungan media sosial, dipandang sebagai suatu kelebihan, dibanding bupati sebelumnya, temasuk Dimyati. Dan jika dikaji dari corak politik dinasti, menurut Atih, apa yang terjadi di Pandegang ini, merupakan corak politik populisme mirip dengan di Indramayu.

"Pada akhirnya dinasti yang bercorak populisme yang tujuan awalnya adalah melanggengkan kekuasaan suami atau kerabat, membikin publik membangun opini atau persepsi, bahwa pemerintah daerah tak ubahnya seperti sebuah rumah tangga. Dampaknya, pengelolaan kebijakan di tingkat eksekutif tidak akan efektif, standar yang digunakan bukan legal formal melainkan emosional. Dan ini bisa berdampak pada bupati definitif, yaitu bisa hilang wibawa atau mengikis kepercayaan publik. Makanya kenapa pemasang sepanduk melakukan hal itu, untuk menegaskan kalau bupati saat ini, masih dipandang punya marwah," pungkasnya.[dho]


Komentar Pembaca
Akhirnya Program Ini Diresmikan

Akhirnya Program Ini Diresmikan

SABTU, 22 JULI 2017 , 21:00:00

PDIP Peringatkan Gatot

PDIP Peringatkan Gatot

JUM'AT, 21 JULI 2017 , 19:00:00

Tiongkok Harus Menghormati

Tiongkok Harus Menghormati

RABU, 19 JULI 2017 , 21:00:00