Dadi: Pemanfaatan Gedung Shelter Tsunami Agar Tetap Terawat

Kota Serang  SABTU, 12 AGUSTUS 2017 , 11:36:00 WIB | LAPORAN: ROSIDARTA

Dadi: Pemanfaatan Gedung Shelter Tsunami Agar Tetap Terawat

Gedung Shelter Tsunami, di Kampung Sawah, Desa Labuan, Kecamatan Labuan, Pandeglang/Daday

RMOL. Bangunan Shelter Tsunami yang berada di Kampung Sawah, Desa Labuan, Kecamatan Labuan, Pandeglang, yang berfungsi sebagai tempat evakuasi sementara, jika terjadi bencana tsunami di wilayah Pesisir Labuan. Rencananya, lantai dasar bangunan itu, akan dimanfaatkan untuk Sub Terminal Angkutan Umum Labuan, maupun sebagai alternatif lahan parkir Pasar Labuan.

Bangunan yang digarap Mei 2014 lalu, dengan menggunakan dana APBN sebesar Rp. 23 milyar tersebut, memang terkesan mubajir bila tidak termanfaatkan. Karena tujuan dari dibangunnya gedung itu, yakni untuk evakuasi masyarakat Pesisir Labuan, seandainya terjadi bencana Tsunami. Hanya saja, rencana Tuhan tidak bisa diprediksi, sehingga kondisi bangunan pun saat ini, sudah mulai terlihat kumuh, kusam dan banyak fasilitasnya yang rusak, termakan usia.

"Memang sayang bila tidak kita manfaatkan. Karena setidaknya, perawatan gedung tersebut harus tetap dilakukan, agar tidak kropos, rusak, atau hancur termakan usia. Namun demikian, pemanfaatan bangunan itu pun, jangan sampai berubah fungsi, kontruksi, maupun manfaat dari bangunannya, sebagai gedung evakuasi, bila terjadi bencana tsunami di Pesisir Labuan itu," jelas Dadi Supriadi, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pandeglang, Sabtu (12/8/2017).

Dijelaskan Dadi, pemanfaatan bangunan Shelter Tsunami tersebut, juga bertujuan untuk adanya tanggungjawab pemeliharaan terhadap bangunan itu. Sehingga bangunan bisa tetap terawat dan ada manfaatnya, disamping fungsi awal, sebagai gedung evakuasi bencana. Maka dari itu pihaknya mengaku, salah satu cara pemanfaatan yang tidak harus merubah bentuk, maupun fungsi bangunan, yakni dengan cara memanfaatkannya sebagai Sub Terminal Angkutan Umun Labuan, maupun Lahan Parkir.

"Bangunan ini ada 3 lantai, di setiap lantainya tidak ada sekat-sekat pembatas, karena memang konsep kontruksinya dibuat demikian, untuk memudahkan evakuasi, serta memudahkan hempasan air yang melewati bangunan itu tanpa terhalang sekat seandainya terjadi Tsunami. Dimana lantai dasar inilah yang menurut saya, layak buat dijadikan terminal, dengan syarat tidak membuat sekat-sekat, baik sekat permanen maupun tidak," tambahnya.

Menurut Kepala BPBD Pandeglang ini, bangunan tersebut saat ini nemang sudah menjadi Aset Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang. Hanya saja, secara tanggungjawab pemeliharaannya, belum diketahui berada di instansi apa, meskipun secara tugas dan fungsi bangunan itu, berada di bawah BPBD. Sehingga ia berharap, dengan memanfaatkan bangunan itu, setidaknya dapat memperingan biaya perawatannya.

"Sayang, bangunan itu dibangun dengan dana yang besar, dan fungsinya pun cukup bermanfaat seandainya terjadi bencana tsunami, meskipun hal itu tidak kita inginkan. Akan tetapi, bila bangunan itu dibiarkan kumuh dan tanpa perawatan, atau pemeliharaan secara kontinue jelas akan rusak dengan sendirinya termakan usia. Karena memang banyak item yang harus dirawat, baik kontruksi, instalasi listrik, air, maupun pengecatan, maupun item-item yang lainnya," tutup Dadi Supriadi ini.[Imn]

Komentar Pembaca
Zulhas Jadi Prioritas Capres PAN

Zulhas Jadi Prioritas Capres PAN

SELASA, 22 AGUSTUS 2017 , 19:00:00

Bendera RI Dilecehkan, Dubes Rusdi Diam Saja?

Bendera RI Dilecehkan, Dubes Rusdi Diam Saja?

SENIN, 21 AGUSTUS 2017 , 17:00:00

Prabowo Puji Mahasiswa UBK

Prabowo Puji Mahasiswa UBK

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 21:00:00