Menjalin Kesatuan Umat Sebangsa, Melalui Silaturahim dan Istigosah

Budaya  SABTU, 30 SEPTEMBER 2017 , 11:31:00 WIB | LAPORAN: ROSIDARTA

Menjalin Kesatuan Umat Sebangsa, Melalui Silaturahim dan Istigosah

Sejumlah tokoh agama, ulama, dan umaroh saat menggelar kegiatan Istigosah Kebangsaan, Jumat (29/9) sekitar pukul 20.00 Wib di Kecamatan Cadasari, Pandeglang/Daday

RMOL. Ribuan masyarakat, ulama, tokoh agama, umaroh (pejabat) dan santri dari berbagai wilayah di Pandeglang, tumpah ruah memadati Lapangan SMK NU Nurul Mursyida, Kampung Pasir Balida, Desa Kaung Caang Kecamatan Cadasari, dalam rangka Istigosah 10 Muharram dan Ceramah Kebangsaan, dengan tema "Menumbuhkembangkan Persatuan dan Kesatuan Umat Melalui Semangat Kebersamaan Di Bulan Muharrom,"

Selain sejumlah pejabat perwakilan dari Pemerintah Daerah (Pemda), maupun dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Pandeglang, serta perwakilan dari Dir Binmas Polda Banten, Kombes Pol Rudi Haryanto. Juga tampak hadir sejumlah tokoh agama, seperti Ketua MUI Pandeglang, Hamdi Ma’ani, Abuya Muhtadi Dimyati, Cidahu, maupun Ketua II PBNU Kabupaten Pandeglang, Marsyudi Suhud.

Kegiatan Istigosah 10 Muharram dan Ceramah Kebangsaan ini, dibuka secara resmi pejabat perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang, yang dalam hal ini diwakili Staf Ahli Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Sumber Daya Manusia, Abdul Ghaffar, yang sebelumnya memberi sambutan atas nama Bupati Pandeglang, terkait momentum Tahun Baru Hijriah 1439, serta hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram ini.

"Kegiatan Istigosah 10 Muharram, dengan mengangkat tema Menumbuhkembangkan Persatuan dan Kesatuan Umat Melalui Semangat Kebersamaan Di Bulan Muharrom ini, adalah sebuah acara yang sangat positif, serta menjadi sebuah cermin, bahwa Pandeglang tidak hanya sebatas memiliki selogan Kota Santri semata. Dan ini pun menjadi bukti, kalau Pandeglang adalah Kabupaten yang makmur dan damai," jelas Abdul Ghaffar, dalam sambutannya, Jumat (29/9/2017) malam tadi.

Diwaktu yang sama, Ketua II PBNU Kabupaten Pandeglang, Marsyudi Suhud juga mengatakan. Bahwa Indonesia didirikan dengan budaya kumpul-kumpul, sehingga jika Presiden menginginkan Indonesia damai, maka harus terus menyelenggarakan kumpul-kumpul.

"Tidak bisa dibayangkan budaya tersebut tidak ada di Indonesia, butuh biaya yang banyak untuk menyelenggarakannya. Oleh karena itu, harus berterima kasih kepada Kiyai yang mempunyai fasilitas kumpul-kumpul," ungkapnya.

Ia menambahkan, budaya kumpul-kumpul atau silaturahmi di Indonesia merupakan karakteristik khusus yang mampu menyatukan orang-orang atau kelompok-kelompok yang berselisih.

"Segala persoalan yang terjadi, maka dapat diselesaikan dengan fasilitas sosial berupa kumpul-kumpul. Jika tidak ada budaya kumpul-kumpul tersebut, maka perselisihan terus terjadi," tegasnya.

Budaya kumpul-kumpul, lanjut Marsyudi, sudah mengalami pergeseran, bukan lagi di depan Masjid, tetapi di depan Gedung DPR. Namun demikian, diakuinya juga, hal tersebut tidak masalah, selama mematuhi peraturan yang berlaku dan untuk amar ma’ruf nahi mungkar.

Acara Istigosah 10 Muharram dan Ceramah Kebangsaan, yang mengUsung tema "Menumbuh Kembangkan Persatuan dan Kesatuan Umat Melalui Semangat Kebersamaan Di Bulan Muharrom," tersebut, diakhiri dengan Istigosah dan Pembacaan Do’a yang di pimpin langsung Al-Mukaromah Abuya Muhtadi Dimyati, Cidahu. [JEM]



Komentar Pembaca
Lawatan Rizal Ramli Di Maluku Utara

Lawatan Rizal Ramli Di Maluku Utara

SABTU, 02 DESEMBER 2017 , 17:00:00

Aneh! Rakyat Menjerit, Elektabilitas Melejit

Aneh! Rakyat Menjerit, Elektabilitas Melejit

JUM'AT, 01 DESEMBER 2017 , 15:00:00

Golkar Pastikan Novanto Siap Mundur

Golkar Pastikan Novanto Siap Mundur

KAMIS, 30 NOVEMBER 2017 , 17:00:00