Polres Tetapkan Tersangka Dokter Bodong di Pandeglang

Kesehatan  JUM'AT, 05 JANUARI 2018 , 13:34:00 WIB | LAPORAN: ROSIDARTA

Polres Tetapkan Tersangka Dokter Bodong di Pandeglang

Kapolres Pandeglang, AKBP Indra Lutrianto Amstono/Daday

RMOL. Kepolisian Resort (Polres) Pandeglang, sampai saat ini terus mendalami kasus "Malpraktek" atau praktek medis ilegal, yang dilakukan oleh salah seorang warga Kecamatan Jiput, berinisial R (50) yang diduga telah melakukan tindakan medis tanpa izin, serta tanpa didukung oleh latar belakang pendidikan medis, sehingga mengakibatkan sejumlah warga yang berobat padanya, mengalami keracunan obat, bahkan sampai ada yang meninggal dunia.

Tindakan malpraktek "Dokter Bodong" yang dilakukan warga Kecamatan Jiput berinisal R (50) ini, diakui Kapolres Pandeglang, AKBP Indra Lutrianto Amstono, dapat dijerat dengan pasal berlapis, sesuai dengan Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran dan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, yang ancaman hukumannya dapat diakumulasikan hingga mencapai 20 tahun kurungan.

"Ancaman hukuman dari Undang-undang Praktek Kedokteran 5 tahun, sedangkan Undang-Undang Kesehatan 15 tahun. Belum lagi nanti, bila hasil otopsi yang dilakukan terhadap pasien yang meninggal dunia, terbukti diakibatkan oleh kesalahan tindakan medisnya, kembali ada pasal yang dapat memberatkan hukumannya," jelas Kapolres Pandeglang ini, Jumat (5/1/2018).

Dikatakannya juga, saat ini R statusnya sudah ditetapkan menjadi tersangka, usai menjalani sejumlah pemeriksaan secara intensif, serta keterangan dari sedikitnya 14 orang saksi yang memberatkannya, sehingga pihaknya pun akhirnya melakukan penahanan terhadap tersangka, sampai didapat hasil otopsi baik dari korban yang keracunan obat, maupun terhadap jenazah korban yang telah meninggal dunia.

"Saat ini tersangka telah kami amankan di ruang tahanan Mapolres Pandeglang, guna menunggu hasil otopsi terhadap sejumlah korban, terutama korban yang telah meninggal dunia tersebut. Karena memang untuk mendapat kepastian korban meninggal akibat tindakan medis tersangka, perlu dilakukan pemeriksaan secara Toksikologi dari hati, jantung, maupun otak korban," tambahnya.

Mantan Kapolres Soppeng ini, kembali menegaskan. Akibat perbuatan tersangka tersebut, pihaknya mencatat ada 23 orang yang telah menjadi korban, dan pihaknya pun mengaku, akan terus mendalami kasus malpraktek ini, dengan memantau orang-orang yang pernah berobat pada tersangka, demikian juga akan ia lakukan penyidikan terhadap sejumlah apotek yang telah menjual obat keras pada tersangka, tanpa resep dokter.

"Kami (Kepolisian) pun akan melakukan penyelidikan ke apotek-apotek yang menjual obat keras, pada tersangka tanpa resep dokter. Termasuk salah satu apotek di yang ada di Kecamatan Jiput, yang diketahui menjadi lokasi tersangka mendapatkan obat-obatan itu. Dan dari tersangka, kita pun telah menyita sejumlah barang bukti peralatan kesehatan, baik itu berupa alat pengukur tensi, alat pijak elektrik, stetoskop, dan beberapa obat keras," aku Indra.

Diinformasikan, atas tindakan tersangka R yang diduga sebagai tenaga ahli medis tanpa izin tersebut, diketahui sedikitnya 23 orang warga yang berobat padanya, sempat mengalami keracunan obat. Bahkan kasus terakhir terjadi pada warga Kampung Kadukendi, Desa Cilabanbulan, Kecamatan Menes, Pandeglang, yang diduga meninggal dunia usai berobat pada tersangka, akibat mengkonsumsi obat-obatan keras yang diberikan oleh tersangka. [ryan]

Komentar Pembaca
Anies Pencitraan Pakai Becak

Anies Pencitraan Pakai Becak

RABU, 17 JANUARI 2018 , 19:00:00

50 Ribu Advokat Akan Boikot KPK

50 Ribu Advokat Akan Boikot KPK

SELASA, 16 JANUARI 2018 , 19:00:00

Beras Mahal, Rakyat Irit Makan

Beras Mahal, Rakyat Irit Makan

SENIN, 15 JANUARI 2018 , 17:00:00

Workshop Media Menyambut Pilkada

Workshop Media Menyambut Pilkada

KAMIS, 04 JANUARI 2018 , 11:53:00