Akademisi Ikut Sikapi Billboard Rokok di Alun-Alun Pandeglang

Kabupaten Pandeglang  SELASA, 09 JANUARI 2018 , 22:17:00 WIB | LAPORAN: ROSIDARTA

Akademisi Ikut Sikapi Billboard Rokok di Alun-Alun Pandeglang

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan llmu Politik (FISIP) UNMA Banten, Eko Supriatno/Daday

RMOL. Terpampangnya reklame, atau iklan produk rokok di kawasan alun-alun kota Pandeglang. Rupanya tidak hanya disikapi oleh aktivis anak saja. Salah seorang akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan llmu Politik (FISIP) UNMA Banten, Eko Supriatno juga ikut menyikapi sikap pemerintah daerah yang terkesan tidak memiliki konsep dalam upaya menggali sumber pendapatan daerah, sehingga potensi pendapatan yang dianggap tidak pantas pun, dilabraknya.

Menurut Dosen FISIP UNMA Banten ini, bahwa Iklan billboard rokok tersebut jelas akan menjadi penghambat Pandeglang untuk dapat menyandang predikat Kabupaten Layak Anak (KLA). Karena hal tersebut menjadi salah satu indikator KLA, yaitu tersedianya Kawasan Tanpa Rokok, yang bebas asap rokok dan tidak adanya iklan rokok di semua fasilitas umum maupun di tempat yang banyak anak berkumpul, sesuai dengan Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 12 Tahun 2011 Poin 14.

"Menyoal iklan billboard rokok di alun-alun Pandeglang, saya anggap ini darurat dan sangat mengkhawatirkan, terlebih iklan billboard rokok tersebut berdekatan dengan sarana pendidikan atau sekolah yang berada di sekitarannya. Sehingga saya menganggap Pemkab Pandeglang sudah mulai kehilangan kepekaanya, hanya karena ingin mengejar target pendapatan semata. Padahal masih banyak lokasi lain untuk memasang iklan itu, dan tidak harus di ruang publik seperti saat ini," jelasnya, Selasa (9/1/2018).

Masih menurut Eko, dari data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menunjukkan, bahwa saat ini ada 61 juta perokok aktif di Indonesia, dan lebih dari 3,9 juta nya adalah anak-anak berusia antara 10-14 tahun, yang akan terus bertambah setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan rasa penasaran serta tekanan dari lingkungan dan kelompok sebaya, bahkan menjadi indikator yang paling memberi andil, dalam membuat sebagian anak sekolah ini ikut merokok.

"Data Kemendikbud tersebut seakan memberi gambaran betapa rasa penasaran dan lingkungan memberi andil besar pada generasi usia dini tersebut untuk mencoba merokok. Sehingga dituntut peran serta semua pihak dalam upaya mencegah bertambahnya perokok aktif di usia dini. Dan bukan malah memberi ruang pada produsen rokok untuk melakukan promosinya di ruang publik seperti saat ini," tegas Eko, yang juga pengurus Associate Banten Institute for Regional Development (BIRD), Bidang Politik dan Pemerintahan.

Masih menurut Eko Supriatno, bahwa kunci keberhasilan mengurai persoalan iklan billboard rokok di Pandeglang terletak pada upaya advokasi yang melibatkan berbagai unsur. Hal tersebut membutuhkan sinergi antara kekuatan pengambil kebijakan, partisipasi masyarakat, kearifan akademisi, maupun hasil penelitian. Seperti perlunya penegasan terhadap SKPD yang didaulat sebagai penanggung jawab Perda, sesuai dengan lingkup tugas masing-masing.

"Disini dibutuhkan sinergitas antara berbagai unsur, terutama para pemangku kebijakan di masing-masing instansi pemerintah. Mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial, maupun kepedulian unsur masyarakat, termasuk swasta, seakan menjadi suatu keniscayaan. Sehingga dapat tercipta Kawasan Tanpa Rokok, yang bebas asap rokok dan tidak adanya iklan rokok di fasilitas umum maupun di tempat yang banyak anak berkumpul, untuk terciptanya KLA," papar Eko. [ryan]


Komentar Pembaca
Anies Pencitraan Pakai Becak

Anies Pencitraan Pakai Becak

RABU, 17 JANUARI 2018 , 19:00:00

50 Ribu Advokat Akan Boikot KPK

50 Ribu Advokat Akan Boikot KPK

SELASA, 16 JANUARI 2018 , 19:00:00

Beras Mahal, Rakyat Irit Makan

Beras Mahal, Rakyat Irit Makan

SENIN, 15 JANUARI 2018 , 17:00:00

Workshop Media Menyambut Pilkada

Workshop Media Menyambut Pilkada

KAMIS, 04 JANUARI 2018 , 11:53:00