Senjakala Pariwisata Banten

Opini  KAMIS, 11 JANUARI 2018 , 13:39:00 WIB | LAPORAN: ROSIDARTA

Senjakala Pariwisata Banten

Eko Supriatno/Daday

Oleh. Eko Supriatno

Siapa yang tak kenal Banten dengan sejumlah destinasi wisatanya. Namun terdapat persoalan lain mengapa daerah pariwisata seolah-olah jalan di tempat.

Ironis memang! Banten belum mampu menarik banyak wisatawan untuk datang melancong walaupun provinsi ini memiliki Bandara Soekarno-Hatta yang lalu lintasnya terpadat di Pulau Jawa.
 
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten yang dipublikasikan dalam Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Bank Indonesia Banten menyebutkan sejauh ini wisatawan yang masuk ke provinsi ini hanya 7% dari total pelancong yang datang ke Pulau Jawa.
 
Persentase tersebut mencakup wisatawan domestik maupun mancanegara. Provinsi yang paling banyak dikunjungi tak lain DKI Jakarta 50% diikuti Jawa Timur 17%, Jawa Barat 13%, DI Jogjakarta 8%, dan Jawa Tengah berkisar 5%.

Padahal seharusnya Banten percaya diri, karena berbagai potensi ada di Banten. Serba beragam pariwisatanya: alam, satwa langka 'Rhino', budaya, sejarah, religi, komunitas adat, wisata belanja, bahkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tanjung Lesung yang menjadi potensi pariwisata yang sangat luar biasa. Tanjung Lesung ditetapkan pemerintah pusat sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata. Selain Tanjung Lesung, Banten juga mempunyai Pulau Umang, Suku Baduy, Taman Nasional Ujung Kulon, dan Pantai Sawarna.

Tetapi, lagi dan lagi persoalan infrastruktur penunjang pariwisata di Banten, terkhusus seperti akses jalan ke objek wisata di Banten Selatan yaitu Kabupaten Pandeglang dan Lebak masih belum baik. Begitu pula untuk pengembangan pariwisata, masyarakat dan pemangku kepentingan kepariwisataan belum padu. Hal tersebut mengakibatkan jumlah wisatawan yang datang masih sangat minim.

Menurut penulis pengembangan pariwisata di Banten sudah harus segera dibenahi, selain harus membenahi infrastruktur, pemerintah harus juga harus membenahi unsur lainnya, misalnya sumber daya manusianya. SDM merupakan bagaikan lain yang penting dalam pengembangan kepariwisataan, sebagai contoh, kenapa di Banten tidak mengoptimalkan sekolah pariwisata, sehingga anak-anak Banten tidak harus jauh-jauh sekolah pariwisata ke luar. Bila perlu kita harus dorong perguruan tinggi yang ada di Banten rame-rame mengusulkan membuka jurusan pariwisata.

Banten mempunyai potensi wisata yang sangat besar, hanya saja terkendala persoalan akses. Banyak wisatawan yang datang ke Jakarta tapi sedikit yang mengunjungi wisata di Banten karena membutuhkan waktu lama untuk mengunjunginya. Misalnya ke Tanjung Lesung, yang harus menghabiskan waktu lima jam lebih.

Solusinya adalah tagih komitmen pemerintah pusat dalam memajukan pariwisata di Provinsi Banten dalam menunjang infrastruktur pariwisata yang ada di Banten perlu ditagih beneran!, seperti pembangunan jalan tol Serang-Panimbang dan rencana reaktivasi jalur kereta, perlu kita tanya apakah gubernur sudah mengajukan pengaktifan kembali jalur Kereta Api (KA) yang membentang di sejumlah daerah seperti di Kabupaten Serang, Pandeglang dan Lebak yang telah lama tidak berfungsi ke Kementerian Perhubungan.

Peluang pariwisata Banten untuk memulai memperbaiki citra pariwisatanya di mata publik sangat berat. Tidak berlebihan kalau ada yang mengatakan Inilah periode senjakala Pariwisata Banten.

Bali dan Masa Depan Pariwisata Banten

Siapa yang tak kenal Bali dengan sejumlah destinasi wisatanya. Pulau Bali mendapat predikat pulau wisata terbaik kedua di dunia pada 2015 setelah Kepulauan Galapagos, Ekuador, versi majalah Travel and Leisure. Di tingkat Asia, Pulau Bali mendapat peringkat pertama, mengungguli Maldives dan Phuket, Thailand.

Pencapaian ini diraih karena Bali mempunyai keindahan alam, keunikan budaya, dan keramahtamahan penduduk. Penghargaan pulau terbaik dunia untuk Bali itu bukan yang pertama. Bali menjadi tiga besar pulau wisata terbaik dunia versi Travel and Leisure sejak 2009. Setiap tahun, wisatawan asing yang datang melalui Bandara Ngurah Rai, Bali, meningkat. Pada 2015, jumlah wisatawan asing sekitar 4 juta orang, sedangkan wisatawan domestik sekitar 6 juta orang.

Namun, lama tinggal wisatawan menurun dalam lima tahun terakhir, dari lima hari menjadi tiga hari. Indonesia pantas bangga dengan kepercayaan yang diberikan TripAdvisor tadi. Maklum, TripAdvisor merupakan komunitas wisata terbesar di dunia yang menjangkau 350 juta pengunjung unik setiap bulannya.

Web ini juga menampilkan lebih dari 290 juta ulasan dan opini tentang 5,3 juta akomodasi, restoran, dan obyek wisata dunia. Bayangkan saja, Bali berhasil mengalahkan pulau-pulau yang disebut traveler sebagai surga duniawi. Phuket, Havelock Island hingga Taketomicho Iriomote-jima kalah oleh Pulau Dewata!

Dalam mimbar ini, setidaknya penulis menggaris bawahi ada 3 (tiga) catatan penting Banten seharusnya belajar dari Bali:

Pertama, Bali itu "keren" dalam strategi pencitraan destinasi pariwisatanya, pemerintah daerahnya getol menggenjot pencintraannya. Selain strategi promosi dan pencitraan yang baik. Stake holders pariwisata di Bali (Pemerintah daerah Bali, termasuk pelaku pariwisata, serta masyarakat) malah terus berkreasi dengan destinasi baru.

Kedua, Bali terus memperkuat eksistensi desa adatnya. Alasannya, desa adat berperan dalam memperkuat pariwisata Bali yang masih mengandalkan keindahan alam dan tradisi yang bersumber di desa adat. Keberadaan dari desa adat di Bali seperti halnya dengan masyarakat hukum adat di tempat-tempat lainnya.

Desa Adat lahir sejalan dengan kepentingan orang-orang untuk secara bersama-sama mengikatkan dirinya kedalam satu ikatan kelompok yang bersifat teritorial guna memudahkan tercapainya berbagai kebutuhan hidup mereka baik yang bersifat lahirlah maupun batiniah.

Ketiga, Bali sangat optimal dalam Pembangunan infrastruktur pariwisatanya. Peningkatan fasilitas pariwisata, mulai dari peningkatan pelayanan, penyediaan zonasi, kebersihan dan akses-akses pariwisata dengan memberikan bimbingan kepada para SDM yang ada di Bali.

Dalam situasi demikian Pemda Banten dituntut perlu belajar ke Bali.

Simpulannya adalah harus ada ikhtiar/cara patungan antara pemerintah/ pengelola dan perusahaan penghuni kawasan dengan pengaturan yang jelas. Dalam konteks Bali (atau Kabupaten/Kota lainnya) konsep ini dapat dilaksanakan melalui keterpaduan eksekutif dan legislatif dalam penyediaan dana daerah.

Kearifan untuk mengambil sikap yang tepat. Tentu sudah bukan masanya lagi jika penanganan dunia wisata ditempatkan semata-mata dalam penggalangan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kemaslahatan para pelaku wisata tentu harus diletakkan pada prioritas pertama. Dalam hal ini seyogyanya Pemda dapat berfungsi sebagai regulator sekaligus fasilitator bagi kemajuan obyek wisata alternatif tersebut.

Dengan jalan seperti itu, tampaknya pariwisata Banten masih punya masa depan!!

Data Penulis:
Eko Supriatno
Dosen FISIP UNMA Banten
Associate Banten Institute for Regional Development (BIRD) Bidang Politik dan Pemerintahan
Tenaga Ahli FPKB DPRD Provinsi Banten


Komentar Pembaca
Ahlan Wa Sahlan Jenderal  Budi Gunawan

Ahlan Wa Sahlan Jenderal Budi Gunawan

MINGGU, 14 JANUARI 2018

Jokowi, Prabowo, Budi Gunawan, dan Siapa Lagi?
Melodrama Ahok-Veronica

Melodrama Ahok-Veronica

KAMIS, 11 JANUARI 2018

Blunder Terbesar Anies-Sandi

Blunder Terbesar Anies-Sandi

RABU, 10 JANUARI 2018

Signal Awal Perpisahan Jokowi-Megawati?

Signal Awal Perpisahan Jokowi-Megawati?

MINGGU, 07 JANUARI 2018

Mengapa Anies-Sandi Blunder Terus Menerus?
Anies Pencitraan Pakai Becak

Anies Pencitraan Pakai Becak

RABU, 17 JANUARI 2018 , 19:00:00

50 Ribu Advokat Akan Boikot KPK

50 Ribu Advokat Akan Boikot KPK

SELASA, 16 JANUARI 2018 , 19:00:00

Beras Mahal, Rakyat Irit Makan

Beras Mahal, Rakyat Irit Makan

SENIN, 15 JANUARI 2018 , 17:00:00

Workshop Media Menyambut Pilkada

Workshop Media Menyambut Pilkada

KAMIS, 04 JANUARI 2018 , 11:53:00