Nasruddin

Kota Serang  SABTU, 03 NOVEMBER 2018 , 20:48:00 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

<i>Nasruddin</i>

Taman Nasruddin di Aksehir-Turki/Net

DI khasanah sastra dunia kerap tampil para tokoh terkesan sontoloyo namun sebenarnya memiliki makna lebih mendalam untuk direnungi oleh mereka yang mau dan mampu merenunginya, misalnya Diogenes, Rabi Hilel, Chuang Tse, Baron von Munchausen, Abu Nawas, Till Eulenspiegel, Piovano Arlotto, Pierrot, Harlekin, Falstaff, Feste, Autolycus, Sancho Pancha, Pinokio, Punakawan, Sabdo Palon, Naya Genggong, Mukidi, Si Pandir dan Nasruddin.

UNESCO

Tidak kurang dari lembaga kebudayaan PBB, UNESCO sempat resmi memaklumatkan tahun 1996-1997 sebagai The International Nasruddin Year.

Prof. Mikail Bayram dalam hasil penelitiannya menyatakan bahwa nama lengkap Nasruddin adalah Nasir ud-din Mahmmod al-Khoyi dilahirkan di kota Khoy, provinsi Azerbaijan Barat dan menjadi cantrik Fakhr al-Dina al-Razi di Herat.

Nasruddin diutus Khalif Baghdad ke Anatolia, Turki untuk melawan invasi kaum Mongol. Di Kayseri, Nasruddin menjadi kadi alias hakim Islam maka di dalam kisah Nasruddin kerap tampil tema hukum di samping religius.

Di tengah kemelut invasi Mongol, Nasruddin menjadi oposisi politik kaum Rumi Persia maka kerap disebut oleh Masnawi pada anekdot juha. Nasruddin juga menjad vazir pada kepemerintahan Kaykaus II.

Akibat aktifitas di berbagai kota di berbagai kawasan dan konsisten melawan invasi Mongol dengan kepribadian terkesan sontoloyo, Nasruddin populer di masyarakat kebudayaan Turki, Arab, Persia, Rusia, Afganistan sampai China yang sempat menderita akibat invasi Mongol.

Nasruddin dimakamkan di Aksehir, Turki di mana setiap tahun pada tangggal 5 sampai dengan 10 Juli diselenggarakan The International Nasruddin Hoja Festival.

Sontoloyo

Luar biasa berlimpah jumlah kisah Nasruddin yang bahkan masih terus berkembang dalam berbagai bahasa.

Satu di antara kisah Nasruddin terkesan sontoloyo namun pada hakikatnya mengandung makna jauh lebih mendalam untuk direnung oleh mereka yang mau dan mampu merenung seperti Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein atau Jean Paul Sartre akibat kandungan makna logika eksistensialistik adalah alkisah Nasruddin berkeliaran di jalan umum sambil mengumpat lalu bersyukur-alhamdullilah lalu mengumpat lalu bersyukur-alhamdullilah dan seterusnya.

Ketika ditanya kenapa berperilaku sontoloyo seperti itu, Nasruddin menjawab bahwa dia sedang berkeliaran mencari keledainya yang hilang maka mengumpat akibat jengkel kedelainya hilang kemudian bersyukur-alhamdullilah berkat dia tidak sedang mengendarai keledainya yang hilang sehingga dirinya tidak ikut hilang bersama keledai yang dikendarainya. [***]

Penulis adalah pendiri Perhimpunan Pencinta Humor dan Pusat Studi Humorologi.


Komentar Pembaca
Alasanologi Brenton Tarrant

Alasanologi Brenton Tarrant

RABU, 20 MARET 2019

Golswing

Golswing

SELASA, 19 MARET 2019

Musibah Banjir Bandang Dan Tanah Longsor Sentani
Debat

Debat

MINGGU, 17 MARET 2019

Tragedi Kemanusiaan Christchurch

Tragedi Kemanusiaan Christchurch

SABTU, 16 MARET 2019

Banten, Antara Kiai Maruf Dan Doktor Dahnil
Ceramah Ustaz Adi Hidayat

Ceramah Ustaz Adi Hidayat

SELASA, 12 FEBRUARI 2019 , 20:31:00

Airin Jenguk Anak Buah

Airin Jenguk Anak Buah

SELASA, 22 JANUARI 2019 , 10:39:00

Promosi Doktor Mudir MBS Ki Bagus Hadikusumo

Promosi Doktor Mudir MBS Ki Bagus Hadikusumo

SELASA, 12 FEBRUARI 2019 , 16:20:00

The ads will close in 10 Seconds