Semoga Ini Hanya Ketoprak Politik

KATA BUNG JOKER  SENIN, 11 MARET 2019 , 21:14:00 WIB

Semoga Ini Hanya Ketoprak Politik

Sugihono

MAKIN dekat hari H pencoblosan, panggung politik kita terasa makin sumuk, gerah, panas. Sejak awal Pemilu 2019 memang terasa berbeda dibanding pemilu sebelumnya. Resapan efek kontestasi kali ini terasa lebih dalam.

Lebih tajam. Lebih ruwet. Meski kedua capresnya sudah pernah bertarung sebelumnya. Meminjam kata anak milenial, pemilu kali ini benar-benar warbiasa. Itu menurut apa yang aku rasa. Dan sangat mungkin juga dirasakan kebanyakan orang.

Sudah tiga edisi pemilu saya liput. Pemilu 2004, 2009 dan 2014. Ketiganya runut saya ikuti tahapannya, dan isu yang mewarnainya. Jika dibandingkan dengan tiga pemilu sebelumnya, pemilu kali ini banyak hal yang membuat dahi kita mengernyit.

Misal; soal fenomena kepala daerah dan aparatur sipil negara (ASN) pamer ‘aurat’ politik di muka publik. Di pemilu sebelumnya seingat saya tak pernah terjadi. Kalaupun ada seorang kepala daerah masuk barisan tim kampanye, mereka tak berani umbar pilihan politiknya ke publik. Apalagi ASN. Mereka tak berani umbar auratnya sama sekali.

Tapi, di pemilu kali ini, saya lihat kepala daerah tanpa malu mengumbar auratnya ke publik, mendukung salah satu capres. ASN-nya pun begitu. Beberapa pekan lalu, misalnya, ada barisan camat di Sulawesi Selatan pamer dukungan ke salah satu capres. Tak elok itu.

Sebabnya apa? Mereka itu punya ‘hadas’ untuk bicara soal dukung-mendukung capres, ke publik. Hadas di sini maksudnya hambatan. Mereka memang punya hak politik, tapi kedudukan dan jabatannya melarangnya. Hak politik mereka tak ubahnya seperti aurat. Aurat yang mesti dijaga. Tak elok jika diumbar. Itu keruwetan yang terjadi di pemilu kali ini.

Soal ketajaman dan kedalaman resapan dari dampak kontestasi saya juga menyaksikannya. Soal kasus ketajaman dampak kontestasi, kita semua bisa dengan mudah menemukannya. Coba saja Anda sejam nongkrong di warung kopi pinggir jalan. Niscaya Anda akan menemukan perdebatan tajam antar pendukung capres.

Kalau soal kedalaman resapan efek kontestasi. Saya baru-baru ini dapat cerita dari kawan. Dia pekerja kantoran biasa. Dia baru-baru ini disanksi bosnya, lantaran berbeda pilihan politik di pilpres. Dia dipindah ke bagian lain.

Mendengar cerita itu, saya membatin, mungkin bos kawan saya itu kurang piknik. Dia terlalu serius menari dalam pesta kontestasi ini. Hingga trance. Harusnya santai saja. Kita memandang pilpres, tak ubahnya nonton ketoprak. Biarkan pemainnya bertarung.

Toh diakhir cerita mereka tampil lagi ke pentas untuk ucapkan terima kasih pada penonton. Saling ucapkan selamat antar pemain, karena sukses menghadirkan tontonan terbaiknya.  Saya yang cuma nonton ketoprak dari kejauhan, ogah terlalu serius ikut alur pertarungan mereka.

Bolehlah sesekali mendukung lakon yang dimainkan. Tapi tak perlu kita mukul teman yang kebetulan suka dengan bintang ketoprak yang berlakon antagonis. Ya semoga pilpres kali ini cuma ketoprak politik. Tak perlu ada konflik sungguhan yang berlarut-larut. [***]

Sugihono

Redaktur senior Rakyat Merdeka




Komentar Pembaca
Nomor 1 Kutukan, Marc Marquez Percaya Takhayul?
Wag The Dog

Wag The Dog

SABTU, 02 MARET 2019

Mengapa Nehe Nehe

Mengapa Nehe Nehe

JUM'AT, 01 MARET 2019

Salman Tidak Mampir

Salman Tidak Mampir

MINGGU, 24 FEBRUARI 2019

Debat Dalam Bus

Debat Dalam Bus

SELASA, 19 FEBRUARI 2019

Membayangkan Perasaan Dutabesar Federasi Rusia
Ceramah Ustaz Adi Hidayat

Ceramah Ustaz Adi Hidayat

SELASA, 12 FEBRUARI 2019 , 20:31:00

Promosi Doktor Mudir MBS Ki Bagus Hadikusumo

Promosi Doktor Mudir MBS Ki Bagus Hadikusumo

SELASA, 12 FEBRUARI 2019 , 16:20:00

Pelukan Sahabat Timor Leste

Pelukan Sahabat Timor Leste

SENIN, 25 FEBRUARI 2019 , 09:10:00

The ads will close in 10 Seconds