Kisah Bindes Di Lebak Melawan Buruknya Insfratruktur

Kesehatan  MINGGU, 12 MEI 2019 , 15:51:00 WIB | LAPORAN: RIZKI AKBAR GUSTAMAN

Kisah Bindes Di Lebak Melawan Buruknya Insfratruktur

Foto/Rizki

RMOLBanten. Infastruktur jalan masih menjadi salah satu kendala utama bagi masyarakat di Desa Kadurahayu Kecamatan Bojongmanik Kabupaten Lebak.

Kondisi tersebut menganggu keselamatan warga terutama saat persalinan ibu dan bayi saat melahirkan.

Seperti yang dialami Wilyani Efendy (25) Bidan Desa (Bindes) di Desa Kadurahayu Kecamatan Bojongmanik Kabupaten Lebak yang sudah tiga tahun mengabdi untuk pemerintah di bidang kesehatan.

Jauh dari bisingnya kota, Wilyani harus siap melayani masyarakat selama 24 jam di tengah buruknya infrastruktur jalan yang tidak memadai.  
 
"Begitulah kalau seorang bidan desa. Berat-berat juga dijalanin,” katanya, Minggu (12/5).

Wily sapaan akrabnya menceritakan, akibat infrastruktur yang kurang memadai di tempat dririnya mengabdi, pernah seorang ibu hamil harus digotong melalui jembatan gantung menuju fasilitas kesehatan.

"Mobil dari rumah pasien cuman bisa sampai diujung jembatan. Selelebihnya kami harus melewati jembatan gantung ini dengan cara digotong dan dijemput mobil satunya lagi diujung jembatan,” ujarnya.

Hal itu terpaksa dilakukan, karena memang sulitnya mencari jalan alternatif yang cepat untuk menyelamatkan pasien, dan juga sulitnya Insfratruktur jadi mobil ambulans hanya bisa sampai ujung jembatan.

Jembatan tersebut kata Willy benar-benar yang terbilang lebih dekat dari kediaman pasien di Desa Kadurahayu menuju fasilitas kesehatan.

Bukan tidak ada jalan lain, tapi karena kondisi jalan yang rusak tidak memungkinkan untuk dilintasi kendaraan roda empat.

Kalau jalan lain yang bisa dilalui mobil itu jauh lagi. Hampir 2 jam-an, karena harus melewati kecamatan lain, sedangkan pasien ini harus segera ditangani," ucapnya.

"Sebab, ibu hamil mengalami ratensio plasenta (plasenta bayi belum keluar selama lebih dari 30 menit dari bayi lahir)," tambahnya.

Selain sulitnya medan jalan, persoalan lain masyarakat sendiri terbilang sulit untuk diajak ke Puskesmas saat melakukan persalinan.

Wily membeberkan, kondisi jalan yang tidak memadai yang kebanyakan dijadikan alasan masyarakat untuk lebih memilih melahirkan di desa saja.

Sementara kami diwajibkan membawa pasien untuk melahirkan di Faskes, dan untuk menolong persalinan itu minimal harus 4 tangan bidan. Jadi tingkat stresnya bidan menolong lahiran di desa itu lebih tinggi daripada menolong lahiran di Puskesmas,” ujarnya.

Menghadapi persoalan itu, wanita lulusan Akbid Salsabila tahun 2015 itu. Tak jarang harus sering berkonsultasi dengan koordinator bidan, dan sesama bidan Desa lainnya guna menemukan solusi yang baik untuk pelayanan terhadap masyarakat. [ars]


Komentar Pembaca
Senyum Usai PKB

Senyum Usai PKB

KAMIS, 09 MEI 2019 , 17:22:00

Pemilu Ulang Di Jakarta Sepi

Pemilu Ulang Di Jakarta Sepi

SABTU, 27 APRIL 2019 , 17:29:00

Kemenangan Indonesia

Kemenangan Indonesia

SABTU, 20 APRIL 2019 , 00:27:00

The ads will close in 10 Seconds