Darah Reyhan

Suara Publik  MINGGU, 26 MEI 2019 , 01:19:00 WIB | OLEH: SYAHGANDA NAINGGOLAN

Darah Reyhan

Reyhan Fajari/Repro

SATU atau dua peluru tajam telah menembus dada Reyhan Fajari, anak Tanah Abang usia belia 16 tahun. Dia langsung mati. Semoga Allah menjadikannya Syahid.

Kejadian itu dialaminya dinihari 22 Mei. Dalam tragedi bungkus membungkus isu kerusuhan vs isu hak-hak rakyat mendukung kebebasan sipil berdemonstrasi.

Pada malam hari selepas membersihkan sampah masjid, Reyhan melihat suasana hiruk pikuk dekat masjidnya. Lalu dia dan kawannya melihat ke sana. Lalu kena tembak dari kekuatan bersenjata. Ini cerita versi teman dan keluarganya di media.

Kemungkinan kecil lainnya adalah Reyhan merupakan pendemo rusuh yang kata aparat ada kelompok perusuh yang dibayar jutaan rupiah pada saat demo 21 Mei.

Kecilnya kemungkinan ini karena usia Reyhan terlalu kecil untuk dibayar sebagai perusuh.

Lalu siapa pembunuh Reyhan? Awalnya pembunuh Reyhan dispekulasikan pada polisi atau tentara atau tentara China maupun perusuh pembawa senjata.

Spekulasi pada polisi dan tentara karena merekalah penanggung jawab keamanan negara. Namun, setelah polisi menjelaskan ke publik bahwa mereka tidak menggunakan peluru tajam, maka polisi berlepas tangan atas hal ini.

Dalam keterangannya polisi juga mengatakan tentara tidak menggunakan peluru tajam. Kecurigaan pada tentara RRC (Republik Rakyat China) menguak setelah beredar foto-foto adanya tentara China memakai seragam Brimob pada aksi 21 hingga 22 Mei kemarin. Itupun sudah dibantah polisi bahwa foto-foto itu orang Manado, bukan China RRC.

Jika mengarahkan pembunuh Reyhan adalah para perusuh yang berbayar Rp 100 ribu, mungkinkah orang-orang sekelas mereka bisa menggunakan senjata api? Apalagi memilikinya? Terlalu spekulatif.

Jika mengarahkan tuduhan pada kelompok bersenjata pro aksi 21-22 Mei, jika ada, dengan asumsi seperti dituduhkan pada Mayjend (purn) Sunarko, kenapa mereka mengarahkan senjatanya pada anak kecil, Reyhan?

Jika diarahkan pada ISIS, bukankah ISIS dan para teroris umumnya selalu menyiarkan klaim jika melakukan tindakan? Mungkinkah jaringan ISIS membunuh Reyhan.

Jika pembunuh Reyhan tidak pernah terungkap, maka dapat dipastikan negara ini kurang mampu mengontrol sistem keamanan nasionalnya. Ini misteri kedua sebelum misteri butanya mata Novel Baswedan yang tidak terungkap.

Dalam misteri seperti ini, bagaimana Reyhan wafat dan untuk apa Reyhan ikut melihat huru hara paska gerakan 21 Mei, serta pembicaraan darah Reyhan sangat penting. Sebab, jika Reyhan wafat dalam bagian hak-hak demokrasi rakyatnya, maka darah Reyhan adalah darah Syuhada.

Dia dikategorikan mati Syahid. Apalagi dia ditembak tidak jauh dari masjidnya.
Seseorang yang mati Syahid harus dikenang. Oleh siapa? Setidaknya oleh GNKR sebagai pengundang aksi 21-22 Mei.

Karena, selain Reyhan, ada beberapa kemungkinan korban peluru tajam lainnya, seperti Azis dari Pandeglang Banten dan Farhan Safero di Petamburan, Harun (15 tahun) di Slipi, dan lain-lain. (Merujuk berbagai berita media).

Sampai saat ini, kita tentu berpendapat kemulian untuk Reyhan. Bahwa memang dia pergi keluar rumah atau masjidnya, untuk menyaksikan huru hara apa paska demonstrasi damai Bawaslu. Apalagi merebak isu masjid diserang saat itu di sekitar Tanah Abang. Lalu ia ditembak.

Darah keluar deras dari dada dan punggungnya atau keningnya. Lalu ia mati mengerang kesakitan.

Di malam lailatul qadar ini para malaikat turun ke bumi. Mereka tidak mencari Reyhan lagi, karena dia mungkin sudah di surga. [***]

Penulis adalah Direktur Sabang Merauke Circle


Komentar Pembaca
Rekonsiliasi Tanpa Tapi

Rekonsiliasi Tanpa Tapi

JUM'AT, 16 AGUSTUS 2019

Konsepsi Dan Strategi Pengentasan Pengangguran 2019-2024
Idul Adha Dalam Risalah Kebangsaan

Idul Adha Dalam Risalah Kebangsaan

SENIN, 12 AGUSTUS 2019

Lagi, Polemik Harga Tiket Pesawat

Lagi, Polemik Harga Tiket Pesawat

MINGGU, 11 AGUSTUS 2019

Kategori High Politic

Kategori High Politic

SABTU, 10 AGUSTUS 2019

Mega Politik

Mega Politik

JUM'AT, 09 AGUSTUS 2019

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

SELASA, 06 AGUSTUS 2019 , 21:57:45

Jokowi Marah PLN Tidak Becus: Perlu Tindakan Lebih Keras
Antri Salaman Dengan Gubernur

Antri Salaman Dengan Gubernur

SENIN, 10 JUNI 2019 , 20:34:00

JK Sambangi SBY

JK Sambangi SBY

KAMIS, 27 JUNI 2019 , 02:27:00

Razia WNA Di Tangerang

Razia WNA Di Tangerang

KAMIS, 11 JULI 2019 , 21:20:00

The ads will close in 10 Seconds