JRDP: Jumlah Parpol Pengaruhi Perilaku Pemilih

Politik  RABU, 10 JULI 2019 , 22:16:00 WIB | LAPORAN: RIZKI AKBAR GUSTAMAN

JRDP: Jumlah Parpol Pengaruhi Perilaku Pemilih

Ilustrasi/NET

RMOLBanten. Badan Pekerja Jaringan Rakyat untuk Demokrasi dan Pemilu (JRDP) melakukan kajian hasil Pemilu 2019, Rabu, (10/7) malam.

Analisis dilakukan terhadap hasil rekapitulasi penghitungan suara yang tertuang dalam Model DC.1 yang telah disahkan KPU Provinsi Banten.

Kordum JRDP Nana Subana menerangkan, analisis hasil pemilu akan dikerucutkan pada tiga hal. Yakni tingkat partisipasi pemilih, sebaran suara tidak sah, dan perolehan suara peserta pemilu untuk setiap jenis pemilihan.

Partisipasi kami potret bukan saja dari sisi kuantitas, melainkan dikaji faktor apa saja yang menyebabkan tinggi rendahnya sebuah partisipasi di suatu daerah. Karena kami memahami bahwa partisipasi yang didorong akibat mobilisasi tentu tidak baik. Apalagi partisipasi itu distimulus oleh politik uang,” kata Nana.

Mengenai sebaran suara tidak sah, kata Nana, JRDP hendak mencari korelasi antara perilaku pemilih dengan sistem pemilu yang diterapkan.

Asumsinya, semakin banyak peserta pemilu pada satu jenis pemilihan, maka suara tidak sah nya semakin besar. Faktanya, pemilihan DPD RI suara tidak sahnya jauh lebih tinggi ketimbang jenis pemilihan lainnya. Ini juga berkaitan dengan ukuran surat suara di bilik TPS.

Pada jenis pemilihan presiden, suara tidak sah sangat rendah. Sementara untuk DPD dan DPR tinggi. Apakah ini berhubungan dengan sistem pemilu terbuka proporsional dimana pada surat suara nama caleg dituliskan berdasarkan nomor urut," ujarnya.

Dikatakan Nana, Jumlah parpol yang menjadi kontestan pemilu juga mempengaruhi perilaku pemilih. Semakin banyak parpol dan caleg, pemilih cenderung kesulitan dalam menentukan pilihan.

"Padahal kita pahami bersama, seleksi menjadi caleg pada sebuah parpol juga parameternya sama sekali tidak jelas,” kata Nana.

Tentang perolehan suara, JRDP hendak memotret raihan suara dalam setiap jenis pemilihan. Hasilnya nanti akan dihubungkan dengan afiliasi politik masyarakat terhadap peserta pemilu.

Sementara itu, Aktivis JRDP Iing Ikhwanudin menambahkan, analisis terhadap Model DC.1 disandingkan dengan pengalaman empiris JRDP melakukan pemantauan di 4 provinsi sepanjang tahapan pemilu lalu.

"Ini akan menjadi bekal kami dalam melakukan pemantauan terhadap 4 daerah di Banten yang akan melakukan pilkada tahun 2020 mendatang. Hasil analisis ini akan kami tuangkan dalam sebuah makalah dan kelak kami sampaikan kepada pemangku kepentingan, utamnya KPU, Bawaslu, dan DKPP, serta peserta pemilu,” kata Iing. [ars]

Komentar Pembaca
PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

SELASA, 06 AGUSTUS 2019 , 21:57:45

Jokowi Marah PLN Tidak Becus: Perlu Tindakan Lebih Keras
Antri Salaman Dengan Gubernur

Antri Salaman Dengan Gubernur

SENIN, 10 JUNI 2019 , 20:34:00

JK Sambangi SBY

JK Sambangi SBY

KAMIS, 27 JUNI 2019 , 02:27:00

Razia WNA Di Tangerang

Razia WNA Di Tangerang

KAMIS, 11 JULI 2019 , 21:20:00

The ads will close in 10 Seconds