Wapres JK Sindir Krakatau Steel Tak Bekerja Efisien

Ekbis  KAMIS, 11 JULI 2019 , 22:20:00 WIB | LAPORAN: APRILIA RAHAPIT

Wapres JK Sindir Krakatau Steel Tak Bekerja Efisien

Foto: RMOLNetwork

RMOLBanten. Dalam forum diskusi Smart Business Talk bertajuk Making Indonesia 4.0 VS Super Smart Society 5.0. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) membahas polemik perusahaan pelat merah, Krakatau Steel yang alami kerugian.

JK awalnya menyinggung soal lambannya perkembangan industri 4.0 yang disebabkan karena ketidakefisienan dalam bekerja.

Ketidakefisienan itulah yang kemudian membawa industri baja tanah air kalah dari produksi luar negeri.

"Polanya itu, kesimpulannya efisien. Tidak bisa semuanya pabrik sepatu. Bisa saja, tapi ongkosnya bisa naik. Contohnya banyak di koran, pabrik baja kita bermasalah, kenapa bermasalah? Karena tidak bisa efisiensi dibandingkan dengan China," ungkap JK di Hotel Arya Duta, Jakarta Pusat, Kamis (11/7).

Salah seorang peserta diskusi yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini kemudian mempertanyakan eksistensi China yang menyerang pasar baja.

Disinggung pula soal banyaknya jembatan Indonesia yang dibangun oleh China.

Menjawab hal tersebut, JK menegaskan bahwa keterlibatan China dalam membangun jembatan tak banyak.

"China hanya Suramadu, tidak ada yang lain," tuturnya.

JK menilai baja Indonesia lebih mahal dibandingkan China. Jika harga pokok baja Indonesia senilai 600 dolar per ton, ujar JK, China bisa menjual dengan harga yang lebih murah di kisaran 400 dolar.

"Kalau mencapai sampai 500 dolar, dia (China) untung 100 dolar, kita rugi seratus. Jadi makin banyak diproduksi Krakatau Steel makin susah karena pakai teknologi lama, teknologi Jerman tapi lama sehingga kalah dengan teknologi baru yang simpel," tegasnya.

"Ya jadi rusak karena harga. Dulu harga bahan itu 1000 dolar per ton, sekarang sudah 500 dolar. Semuanya industri kita harga pokoknya di atas itu. Jadi mau efisien atau mau konteks harga mahal?" tuturnya.

Melihat fenomena ini, JK kembali menegaskan bahwa PT Krakatau Steel seharusnya bisa lebih efisien.

"Jadi harus bisa menyesuaikan efisiensinya, Krakatau Steel ya harus efisien," tegasnya.

Lebih detil, efisiensi juga tak hanya pada harga bahan, melainkan jumlah pekerja yang dipekerjakan.

Beberapa negara lebih memilih menggunakan mesin dan mengurangi pekerja, hal ini berimbas pada efisiensi pengeluaran.

"Pabrik semen kita katakanlah 600 sampai 800 orang satu pabrik, tapi pabrik China cuma 70 orang karena semuanya otomatis. Jadi ongkosnya murah, jadi itulah yang namanya revolusi industri, itulah efisiensi, semua yang mahal akan mati," lanjut JK.

Menutup jawabannya, JK kembali menawarkan dua pilihan terkait polemik Krakatau Steel.

"Yang mana, kepentingan rakyat yang ingin murah atau kepentingan industri yang tidak efisien? Pilihannya sulit memang, tapi pemerintah justru memberi jalan agar industri kita lebih efisien juga," tandasnya. [dzk] 

Komentar Pembaca
Shalat Ied Di Alun-Alun Rangkasbitung

Shalat Ied Di Alun-Alun Rangkasbitung

RABU, 05 JUNI 2019 , 13:31:00

Antri Salaman Dengan Gubernur

Antri Salaman Dengan Gubernur

SENIN, 10 JUNI 2019 , 20:34:00

JK Sambangi SBY

JK Sambangi SBY

KAMIS, 27 JUNI 2019 , 02:27:00

The ads will close in 10 Seconds