Ancaman Kepunahan Badak Bercula Satu, BTNUK Siapkan Habitat Cadangan

Pariwisata & Budaya  SENIN, 12 AGUSTUS 2019 , 20:25:00 WIB | LAPORAN: MAULANA

Ancaman Kepunahan Badak Bercula Satu, BTNUK Siapkan Habitat Cadangan

IlustrasiNET

RMOLBanten. Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTUNK) telah menyiapkan cadangan habitat untuk Badak Bercula Satu mengantisipasi ancaman kepunahan badak langka ini.

Penyiapan lokasi baru untuk hidup kedua Badak Jawa itu sudah masuk dalam strategi dan rencana aksi konservasi badak jawa periode 2019-2029.

Kepala Balai TNUK Anggodo menuturkan, pihaknya mempunyai misi untuk menjamin kelestarian minimal 90 individu badak jawa ditahun 2029 mendatang.

"Serta menyediakan second habitat yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi," ujarnya dalam kegiatan konsultasi publik Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak Jawa 2019-2029 di Istana Negara Pendopo Bupati Pandeglang, Senin (12/8).

Anggodo menjelaskan, masuknya renaksi second habitat dalam konservasi badak jawa itu lantaran kekhawatiran para pakar dan peneliti akan potensi bencana. seperti halnya gempa bumi,  tsunami dan letusan gunung anak krakatau.

"Kalau second habitat ini kan sebetulnya  kekhawatiran dari pihak-pihak pakar, bahwa badak yang tinggal disemenjung ini akan semakin berkurang atau punah, karena adanya potensi bencana gempa, tsunami dan gunung berapi krakatau, sehingga mereka berpikir kenapa nggak dibuatkan habitat kedua itu sebetulnya intinya," terangnya.

Meski begitu, Anggodo belum mengetahui secara pasti lokasi yang akan dipilih menjadi habitat kedua untuk satwa purba yang masuk dalam warisan dunia itu.

"Kalau penjelasan dari teman-teman sudah disurvei kelokasi second habitatnya itu disekitar Cikepuh (cibaliung-red). Tapi ternyata sering dipakai untuk latihan militer saya kira tidak akan disana. Namun, untuk lokasi lainya saya belum tahu," ucapnya.

Anggodo menjelaskan, selain second habitat, ada empat strategi tujuan lainya yang disiapkan, diantaranya pengembangan wilayah dan sistem pengelolaan kawasan yang menjamin peningkatan populasi dan kualitas habitat badak jawa. Strategi keduanya, yakni mengembangkan sistem pengelolaan yang menjamin peningkatan kuantitas dan kualitas individu di TNUK.

"Ketiga, membentuk metapopulasi badak jawa di second habitat. Dan terakhir adalah membentuk satu populasi semi-in-situ di dalam sebuah suaka yang kini di TNUK telah memiliki Javan Rhino Sanctuary and Conservation Area (JRSCA)," urainya.

Anggodo menjabarkan, strategi itu disiapkan untuk menghadapi tantangan yang bakal dihadapi di masa mendatang. Tantangan itu berupa luas habitat efektif badak jawa diperkirakan hanya 60% dari luas semenanjung TNUK, ancaman bencana tsunami dan gempabumi, kegiatan ilegal, penyakit, dan sex ratio jantan dan betina yang tidak seimbang serta adanya potensi inbreeding atau kawin sedarah.

"Kalau tahun lalu mengedepankan 3 pilar. Tetapi tahun ini bertambah untuk memperhatikan kuantitas dan kualitasnya. Jadi bukan cuma bertambah jumlahnya, tetapi juga lebih baik kualotasnya. Artinya badak lebih sehat, terjaga fisik dan keamanannya. Tentunya agar tidak terjadi badak yang inbreeding," jelasnya.

Guru Besar Fakuktas Kehutanan di Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Ali Kodra menambahkan, strategi yang disusun dinilainya sudah baik. Hanya saja ia menekankan agar TNUK bersama pihak terkait lainnya meningkatkan koordinasi dan integrasi. Mengingat pengembangan populasi badak jawa merupakan investasi besar.

"Strategi ini menurut kami bagus. Tetapi harus diperhatikan agar bagaimana strategi ini berjalan dalam upaya konservasi badak. Sehingga harus cukup persyaratan, yang meliputi SDM yang cukup, organisasi harus cukup, dan dana harus cukup. Termasuk mekanisme kerja harus cukup yang berkaitan koordinasi, integrasi," bebernya.

Dari empat hal itu, dua yang masih perlu menjadi perhatian besar. Keduanya yakni pendanaan dan strategis mengenai koordinasi dan sinergis supaya nantinya tidak ada yang saling egois.

"Cuma yang perlu menjadi PR besar dimasalah dana dan strategis mengenai koordinasi dan sinergis supaya tidak ada yang egois. Harus ditentukan siapa koordinatornya," ucapnya.

"Pendanaan bisa melibatkan APBN, APBD, dan swasta. Tapi jangan lupa BLUD juga bisa digerakkan. Sehingga nanti TNUK bisa menjalankan bisnis," saran mantan anggota Dewan Riset Nasional itu.

Sementara dari data yang dirilis TNUK, jumlah populasi badak jawa kini hanya menyisakan 69 individu, yang terdiri atas 12 individu anak dan 57 individu dewasa. Jumlah ini dianggap mengalami peningkatan populasi sebesar 28,1% dalam kurun waktu 2013 hingga 2018. [ars]






Komentar Pembaca
PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

SELASA, 06 AGUSTUS 2019 , 21:57:45

Jokowi Marah PLN Tidak Becus: Perlu Tindakan Lebih Keras
Antri Salaman Dengan Gubernur

Antri Salaman Dengan Gubernur

SENIN, 10 JUNI 2019 , 20:34:00

JK Sambangi SBY

JK Sambangi SBY

KAMIS, 27 JUNI 2019 , 02:27:00

Razia WNA Di Tangerang

Razia WNA Di Tangerang

KAMIS, 11 JULI 2019 , 21:20:00

The ads will close in 10 Seconds