Kematian Paskibraka Aurel, Polisi Tidak Temukan Adanya Kekerasan

Hukum  SELASA, 13 AGUSTUS 2019 , 18:33:00 WIB | LAPORAN: LANI PAHRUDIN

Kematian Paskibraka Aurel, Polisi Tidak Temukan Adanya Kekerasan

Foto: LAN

RMOLBanten. Kepolisian Resor (Polres) Tangsel akhirnya secar resmi merilis kepada media bahwa penyebab meninggalnya Paskibraka asal Tangsel atas nama Aurel Qurrota Ain bukan karena kekerasan kontak fisik.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung Kapolres Tangsel, AKBP Ferdy Irawan dan dihadiri juga oleh Wali Kota Tangsel, Airin Rachmi serta KPAI dan pemerhati anak Kak Seto.

Polres Tangsel yang langsung mengambil langkah untuk menyelidiki apa yang menjadi  penyebab meninggalnya almarhumah Aurel.

Menurut Ferdy, selama proses penyelidikan dari tanggal 1 sampai tanggal 13 ini, tim penyelidik di bawah  Kasat Reskrim telah memeriksa 30 orang saksi.

Pertama, dari kedua orangtua untuk bagaimana situasi atau kondisi sebelum almarhumah meninggal. Kemudian  meminta keterangan petugas atau pihak yang memandikan jenazah.

Selanjutnya, pihak rekan sesama peserta paskibraka, kemudian dari pelatih dari PPI Tangsel yang sehari-hari melatih dan termasuk pelatih dari unsur TNI. Terkahir daripihak Dispora Tangsel sebagai Dinas yang bertanggung jawab untuk menyelanggarakan pelatihan Paskibra

"Dari 30 saksi yang dimintai keterangan, Kepolisian menyimpulkan bahwa tidak ada luka dibagian tubuh almarhum yang selama ini di duga menjadi penyebab meninggalnya Paskibraka asal Tangsel," terang Ferdy di Mapolres Tangsel, Selasa (13/8).

"Dari keterangan orang tua dan orang yang memandikan jenazah, termasuk dokter dan perawat memberikan keterangan yang sama bahwa tidak ada bekas kekerasan yang nampak di tubuh almarhumah," sambungnya.

Bahkan, dari hasil penyelidikan pihak kepolisian menyimpulkan bahwa tidak ada kekerasan kontak tubuh yang dilakukan oleh pihak PPI Tangsel.

"Berita yang berkembang menyatakan seolah-olah, meninggalnya akibat adanya pola tindakan kekerasan pelatih kepada Aurel. Dari hasil penyelidikan, kita belum menemukan adanya aksi penganiyaan atau tindak kekerasan yang dialami oleh almarhum. Memang ada bekas memar akibat push up, tapi itu tindakan untuk melatih disiplin dan dilakukan secara bersama-sama," beber Ferdy.

"Artinya belum kita temukan adanya keterangan dari saksi rekan paskibraka yang menyatakan bahwa ada tindakan kekerasan," tegasnya kembali.

Sementara Wali Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany setelah kejadian tersebut telah memonitoring dan mengevaluasi kepada Dispora mengenai pelatihan.

"Karena masih ada 49 anak yang sedang dipersiapkan adik-adik yang sedang berjuang untuk menaikan dan menurunkan bendera pusaka di upacara kemerderkaan. Saya meminta untuk melakukan pengecekan kesehatan pun setelah latihan. Selain itu asupan gizi sehingga mereka harus fokus dalam latihan tersebut," pungkas Airin. [ars]



Komentar Pembaca
PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

SELASA, 06 AGUSTUS 2019 , 21:57:45

Jokowi Marah PLN Tidak Becus: Perlu Tindakan Lebih Keras
Antri Salaman Dengan Gubernur

Antri Salaman Dengan Gubernur

SENIN, 10 JUNI 2019 , 20:34:00

JK Sambangi SBY

JK Sambangi SBY

KAMIS, 27 JUNI 2019 , 02:27:00

Razia WNA Di Tangerang

Razia WNA Di Tangerang

KAMIS, 11 JULI 2019 , 21:20:00

The ads will close in 10 Seconds