Gagal Masuk SMA, 14 Anak Lulusan SMP Tangerang Ngadu Ke Inspektorat Banten

Pendidikan  SENIN, 19 AGUSTUS 2019 , 19:57:00 WIB | LAPORAN: DEDI RUSTANDI

Gagal Masuk SMA, 14 Anak Lulusan SMP Tangerang Ngadu Ke Inspektorat Banten

Foto: RUS

RMOLBanten. Belasan anak lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari berbagai sekolah di Kabupaten Tangerang, tak bisa melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA), padahal sebelumnya dijanjikan dimasukan ke SMA 24.
   
Mereka akhirnya mengadukan nasibnya ke Inspektorat Provinsi Banten, setelah tidak ada kepastian dari pihak sekolah maupun dinas pendidikan dan kebudayaan  (Dindikbud) setempat.
 
Salah seorang wali murid, Meri Adha saat ditemui usai melaporkan ke tim aduan Inspektorat Banten, Senin (19/8) menceritakan, sebanyak 14 anak siswa siswi dari lulusan berbagai sekolah SMP terkena dampak dari sistem zonasi yang diterapkan oleh pemerintah pada saat penerimaan peserta didik baru (PPDB) online tahun ajaran 2019/2020.
  
"Pada saat pendaftaran resmi ada 1.039 calon siswa,  setelah diverifikasi yang dinyatakan lolos 396 siswa," katanya.
  
Meri mengaku sebelumnya ada 90 wali murid yang keberatan anak didiknya tidak masuk ke SMA 24 Pasar Kemis  Kabupaten Tangerang lantaran dianggap tidak masuk zonasi, meskipun jarak dari rumahnya ke sekolah hanya berkisar 1,5  sampai 2 Km  saja.
 
"Pada saat proses daftar ulang, daru tanggal 22 Juni sampai 12 Juli, kami yang 90 orang ini dijanjikan akan dimasukan ke sekolah itu. Jani dijanjikan akan dibuatkan dua rombel. Dan itu telah disepakati diatas materai. Kesepakatan ini memang dianggap emergency karena di luar zonasi," ungkapnya.
 
Namun pada prosesnya pada tanggl 12 Juli lalu, dimana siswa sekolah memulai kegiatan belajar mengajarnya  dari puluhan siswa yang telah disepakati, hanya 15 orang yang masuk ke sekolah tersebut.
 
"Itupun 15 orang,  bukan yang ada namanya dalam kesepakatan. Tapi menurut oknum Komite Sekolah seperti tersebar dalam rekaman videonya, 15 orang yang masuk itu merupakan titipan anggota dewan. Dan oknum Komite Sekolah juga yang melakukan verifikasi ke 15 orang siswa tersebut," paparnya.
 
Ditempat yang sama, salah seorang Komite Sekolah SMA 24 Kabupaten Tangerang, Fahrudin mengungkapkan, sebagai komite dirinya hanya memberikan suport kepada 14 siswa siswi yang tidak lolos masuk sekolah tersebut.
 
"Mereka datang kerumah saya. Mereka mengatakan, pengen masuk sekolah tapi tidak bisa. Saya sebagai salah satu komite sekolah posisinya netral. Tidak mendukung kesana kemari. Hanya saja pada saat rapat Senin sebelum pengumuman pada hari Rabu, ada pengakuan dari Pak Haji Endang Wario kalau yang 15 lolos itu telah diverifikasi oleh dia (Endang Wario)," katanya.

"Katanya ada titipan dari DPD, Anggota Dewan. Saya juga sempat menanyakan, harusnya yang jadi prioritas mereka, sesuai kesepakatan dengan pihak sekolah. Pak Endang Wario yang bertanggung jawab. Saya juga menyampaikan bahwa siswa siswi SMP yang akan ke sekolah SMA 24 Itu jumlahnya bukan 72, melainkan 156 orang," sambung Fachrudin.
 
Sementara itu sejumlah siswa siswi yang ikut melaporkan ke Inspektorat Banten mengaku sedih dengan kebijakan pemerintah tentang zonasi. Alasanya, untuk sekolah ke swasta membutuhkan biaya tak sedikit.

"Sedih.  Sudah mulai belajar, tapi sudah lebih dari sebulan ini saya tidak bersekolah. Selama tidak sekolah saya hanya dirumah bantu-bantu ibu dirumah," kata Sisca Destriana  Fitri yang merupakan lulusan dari SMP 1 Pasar Kemis Kabupaten Tangerang ini.
 
Ia mengaku, selain tak bisa bersekolah, dirinya juga harus memikirkan nasib ayahnya yang saat ini terbaring sakit dan dirawat di rumah sakit.

"Bapak saya sakit keras. Jadi kalau kesekolah lain yang jauh, biayanya akan mahal lagi," ungkapnya.
 
Senada diungkapkan oleh Muhamad Dzikri Firmansyah. Siswa lulusan SMP 3 Pasar Kemis Kabupaten Tangerang ini sudah  lebih dari satu bulan tidak bersekolah.

"Kecewa. Sedih juga, lihat teman-teman sudah pakai seragam putih abu-abu, berangkat pagi ke sekolah, pulang selepas dzuhur. Kalau saya hanya dirumah saja, mau melanjutkan ke swasta bayarnya mahal. Sedangkan orang tua saya hanya buruh biasa,"  ujarnya. [ars]

 

Komentar Pembaca
PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

SELASA, 06 AGUSTUS 2019 , 21:57:45

Jokowi Marah PLN Tidak Becus: Perlu Tindakan Lebih Keras
Antri Salaman Dengan Gubernur

Antri Salaman Dengan Gubernur

SENIN, 10 JUNI 2019 , 20:34:00

JK Sambangi SBY

JK Sambangi SBY

KAMIS, 27 JUNI 2019 , 02:27:00

Razia WNA Di Tangerang

Razia WNA Di Tangerang

KAMIS, 11 JULI 2019 , 21:20:00

The ads will close in 10 Seconds