Banten Puncak Kemarau, Waspada ISPA Mengintai

Kesehatan  KAMIS, 22 AGUSTUS 2019 , 01:09:00 WIB | LAPORAN: DEDI RUSTANDI

Banten Puncak Kemarau, Waspada ISPA Mengintai

Ilustrasi/Net

RMOLBanten. Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan mengungkapkan saat ini Banten telah memasuki puncak musim kemarau. Kondisi itu berdampak pada meningkatkan potensi polusi udara.

Selain berdampak pada kekeringan, masyarakat juga diminta waspada terhadap timbulnya penyakit pernafasan akut atau Ispa dan batuk disertai demam tinggi.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi pada Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan Yanuar Hendri, mengungkapkan, beberapa wilayah di Banten terpantau tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari.

Terpantau tidak hujan selama lebih dari 60 hari, antara lain di wilayah Jakarta. Kemudian di wilayah Tangerang, kemudian Serang di bagian utara, di Pandeglang di wilayah selatan dan Lebak bagian selatan,” kata Yanuar, Rabu (21/8).

Ia menjelaskan, dari kondisi itu pula timbul beberapa potensi dampak yang harus diwaspadai seperti berkurangnya kapasitas air bersih. Kemudian juga meningkatkan potensi polusi udara, terutama di wilayah padat kendaraan.

Kemudian juga mungkin dengan adanya musim kemarau yang panjang lalu banyak kendaraan polusi udara akan meningkatkan polusi udara juga,” ungkapnya.

Peningkatan potensi polusi udara pada musim kemarau, kata dia, terjadi dari menumpuknya hasil pembuangan dari pembakaran bahan bakar kendaraan. Saat musim kemarau, polusi udara yang terlempar ke atmosfer bisa dinetralisir oleh air hujan yang turun.

Biasanya yang akan menetralkan atmosfer itu hujan. Jadi kemungkinan adanya hujan, atmosfer akan kembali normal polusinya. Akan Tetapi karena perkirannya tidak hujan maka polusinnya menumpuk bagi atmosfer,” ungkapnya.

Meski demikian, pola musim hujan yang terjadi saat ini terbilang masih normal. Pihaknya memprediksi musim kemarau akan berakhir seiring masuknya musim hujan pada Oktober mendatang.

Musim hujan untuk Banten nanti paling cepat di akhir Oktober. Dari Agustus sampai Oktober ini kan masih ada sekitar dua bulan lagi. Himbauannya lebih kepada (suplai) air bersih akan menurun, defisit kapasitasnya, mungkin bisa lebih kepada penghematan air bersih,” tuturnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banten Husni Hasan mengatakan, saat ini pihaknya terus melakukan pemantauan kualitas udara. Selain pemanatuan udara, pemprov juga terus berupaya untuk mengendalikan pencemaran.

Salah satunya adalah dengan mengendalikan limbah dan pencemaran udara.

Limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun), limbah komunal, limbah rumah tangga, plastik dan kemudian juga gas buang dari pabrik, dari kendaraan itu bisa dikendalikan. Sehingga kita bisa melaksanakan amanat undang-undang 1945 di pasal 28 a. Di situ dijelaskan bahwa pemerintah hadir memberikan jaminan kepada masyarakat untuk bisa hidup nyaman,” ungkapnya.

Salah satu pengendalian pencemaran udara yang terus dilakukan adalah melakukan uji emisi kendaraan bermotor. Untuk sasaran pengujian pihaknya mengincar kendaraan plat hitam. Sebab, kendaraan umum telah tercover dalam uji KIR.

Ini yang akan kita jadikan sasaran itu adalah kendaraan pribadi, plat hitam. Kalau misalnya enggak lulus uji emisi kita sarankan kepada pemiliknya untuk memperbaiki sistem gas buangnya agar memenuhi baku mutu. Kemudian secara periodik kita menguji cerobong asap industri,” pungkasnya. [ars]

Komentar Pembaca
PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

SELASA, 06 AGUSTUS 2019 , 21:57:45

Jokowi Marah PLN Tidak Becus: Perlu Tindakan Lebih Keras
Antri Salaman Dengan Gubernur

Antri Salaman Dengan Gubernur

SENIN, 10 JUNI 2019 , 20:34:00

JK Sambangi SBY

JK Sambangi SBY

KAMIS, 27 JUNI 2019 , 02:27:00

Razia WNA Di Tangerang

Razia WNA Di Tangerang

KAMIS, 11 JULI 2019 , 21:20:00

The ads will close in 10 Seconds