Jangan Ngomong Jati Diri Bangsa, Kalau Ruang Publik Masih Pakai Bahasa Asing

Pendidikan  SABTU, 07 SEPTEMBER 2019 , 02:34:00 WIB | LAPORAN: MAULANA

Jangan Ngomong Jati Diri Bangsa, Kalau Ruang Publik Masih Pakai Bahasa Asing

Hidayat Widiyanto/MUL

RMOLBanten. Pemakaian bahasa asing pada media luar ruang seolah kontradiktif dengan semangat menonjolkan jati diri dan daya saing Bangsa Indonesia di dunia global.

Juga tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Begitu kata Kepala Sub Bidang Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hidayat Widiyanto usai menutup Penyuluhan Penggunaan Bahasa Media Luar Ruang di Kabupaten Pandeglang di Hotel S'Rizki Pandeglang, Jumat (6/9).

"Kita selalu membicarakan bahwa harus punya jati diri dan daya saing. Tetapi kita sendiri menghilangkan atribut itu. Padahal atribut kita salah satunya Bahasa Indonesia,"ujar Hidayat.
 
Hidayat menerangkan, Bahasa Indonesia menjadi salah satu atribut penting dalam memberi pembeda dengan bangsa lain.

"Maka untuk memenangkan daya saing global, kita harus menggunakan bahasa Indonesia termasuk di ruang publik. Bukan sebaliknya," jelas Hidayat.

Tahap awal yang perlu dilakukan, kata Hidayat adalah dengan menumbuhkan semangat memakai Bahasa Indonesia di media luar ruang. Jika kesadaran itu sudah muncul, tinggal memperbaiki kompetensi penggunaan bahasanya.

Karena itu Bahasa Indonesia di ruang publik, wajib dihadirkan. Baru diikuti oleh bahasa lain, baik daerah atau asing.

"Setelah menggunakan Bahasa Indonesia, baru kita lihat kompetensi penggunaannya. Apakah sudah tepat atau belum. Tetapi bukan kita menolak bahasa asing," jelasnya.

Senada, Kepala Kantor Bahasa Banten, Muhammad Luthfi Baihaqi menyampaikan berdasarkan penelitian Kantor Bahasa Banten, masih banyaknya penggunaan bahasa asing karena dianggap lebih memiliki wawasan luas.

"Padahal pengutamaan Bahasa Indonesia di ruang publik memiliki fungsi agar penggunaan bahasa negara tidak luntur oleh penggunaan bahasa asing dan juga ikut aktif berpartisipasi dalam pemakaian bahasa negara," katanya.

Sebab itu, untuk meningkatkan pengutamaan Bahasa Indonesia, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan. Diantaranya dengan menyosialisasikan ke seluruh lapisan masyarakat, pembinaan dan pemasyarakatan ke seluruh lapisan masyarakat melalui media massa dan media sosial.

"Hal penting lainnya, yakni meminta dukungan regulasi dari pemerintah pusat maupun daerah. Kami di Kantor Bahasa juga berupaya mengutamakan Bahasa Indonesia dengan memberi penghargaan kebahasaan, misal AdiBahasa, Baluwarti Basa, dan Penghargaan Wajah Bahasa Sekolah dan lain-lain," tutupnya. [ars]


Komentar Pembaca
PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

SELASA, 06 AGUSTUS 2019 , 21:57:45

Jokowi Marah PLN Tidak Becus: Perlu Tindakan Lebih Keras
Antri Salaman Dengan Gubernur

Antri Salaman Dengan Gubernur

SENIN, 10 JUNI 2019 , 20:34:00

JK Sambangi SBY

JK Sambangi SBY

KAMIS, 27 JUNI 2019 , 02:27:00

Razia WNA Di Tangerang

Razia WNA Di Tangerang

KAMIS, 11 JULI 2019 , 21:20:00

The ads will close in 10 Seconds