Donald Trump Dipermainkan Taliban

Internasional  SENIN, 09 SEPTEMBER 2019 , 00:44:00 WIB

Donald Trump Dipermainkan Taliban

Ilustrasi/Net

PEMILU tahun depan di Amerika akan memberikan kesempatan bagi petahana Presiden Donald untuk dipilih kembali oleh rakyatnya untuk masa jabatannya yang kedua. Tentu tidak mudah baginya, bila merujuk pada kemenangannya pada pemilu lalu.

Meskipun Trump kalah banyak dalam mengumpulkan suara dengan lawannya Hillary Clinton pada saat itu, akan tetapi aturan yang ada yang dikenal dengan Electoral Collegge System menyebabkan dirinya ditetapkan sebagai pemenang.

Setelah pemilu usai, tuduhan keterlibatan dan campur-tangan Rusia yang membantu kemenangannya terus menjadi perbincangan warga Amerika, disebabkan lembaga-lembaga yang berwewenang terus melakukan penyelidikan atas tuduhan ini.

Sebagai petahana tentu Trump bisa memanfaatkan posisinya sebagai orang nomor satu di Gedung Putih dan bagaimana memainkan berbagai kebijakan negara, dalam rangka  merebut hati para pemilik suara.

Salah satu isu yang kini sedang dimainkannya adalah lamanya tentara Amerika di Afghanistan, dan besarnya biaya yang harus ditanggung negara (diperkirakan 30 miliar dolar AS per tahun yang sudah berlangsung selama 18 tahun), ditambah besarnya korban yang diderita baik berupa prajurit yang meninggal, luka-luka, cacat fisik maupun gangguan jiwa.

Jika Trump berhasil membawa pulang para prajuritnya yang kini tidak tahu lagi untuk apa mereka berada di gurun tandus yang sangat jauh dari tanah kelahirannya, bukan hanya akan menggembirakan keluarga mereka yang lama menanti dengan perasaan cemas, tentu juga akan melegakan hati seluruh rakyatnya.

Hal ini bisa diklaim sebagai bagian dari prestasinya saat kampanye, dan memberikan alasan tambahan mengapa rakyatnya harus memilih dirinya kembali, saat menuju bilik-bilik suara yang dijadwalkan akan berlangsung pada November 2020.

Inilah yang menjadi motivasi utama Trump mengirim Zalmay Khalilzad dan timnya bolak-balik sebanyak 9 kali antara Washington-Doha. Dalam rentang waktu setahun, untuk bertemu tokoh-tokoh utama Taliban yang berkantor di ibukota Qatar ini.

Setelah mengantongi kesepakatan, Khalilzad langsung terbang ke Kabul untuk bertemu Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. Khalilzad menyampaikan pokok-pokok kesepakatan yang dibuatnya dengan Taliban  yang hanya menunggu persetujuan resmi Presiden Donald Trump.

Khalilzad dikabarkan keberatan atas keinginan pemerintah di Kabul menggandakan kesepakatan tersebut, dan ia hanya menunjukkan kesepakatan tersebut sejenak kepada sang Presiden.

Tentu Ashraf Ghani kecewa berat, mengingat dirinya dan pemerintahan di Kabul yang dipimpinnya tidak dilibatkan dalam perundingan tersebut. Ghani bukan saja merasa telah ditinggal, akan tetapi juga sebagai kepala negara sangat dilecehkan.

Setelah memberikan penjelasan kepada Presiden Ghani, Khalilzad lalu memberikan penjelasan kepada wartawan TV Tolo News tentang maksud kedatangannya ke Kabul, dan hasil pertemuannya dengan para petinggi Afghanistan yang dihadiri Presiden Ghani.

Naas bagi Khalilzad, karena pada saat bersamaan Taliban melakukan berbagai serangan mematikan di Kabul dan di sejumlah kota di wilayah Utara Afghanistan seperti Kunduz dan Pul e-Khumri. Serangan ini menyebabkan paling tidak 12 orang tewas, termasuk prajurit Amerika bernama Elis A Barreto Ortiz.

Jelas serangan yang diakui oleh Taliban ini, dilakukan dengan perencanaan yang matang, untuk memberikan pesan politik yang sangat jelas dan kuat, baik kepada pemerintah Amerika maupun pemerintahan di Kabul yang dituduhnya sebagai boneka Amerika.

Paling tidak ada dua pesan yang ingin disampaikan: Pertama, kepada pemerintah di Washington, bahwa penarikan prajurit Amerika dari Afghanistan, tidak berarti perjuangan bersenjata Taliban usai.

Pesan kedua, kepada pemerintah di Kabul, bahwa setelah prajurit Amerika angkat kaki, sasaran berikutnya adalah mereka.

Tampaknya Taliban yang menyebut dirinya dengan Islamic Emirate of Afghanistan (IEA) akan terus berjuang menggunakan senjata, sampai kembali memerintah di Afghanistan.

Perkiraan ini sejalan dengan analisa Michael Rubin yang ditulisnya di The National Interest dengan judul: The Afghanistan War Is Over, and Pakistan Has Won.

Inilah sebabnya Presiden Donald Trump yang sudah mempersiapkan diri sebagai tuan rumah, untuk merayakan keberhasilannya membawa pulang para prajuritnya dengan selamat dan damai, dengan cara mengundang tokoh-tokoh Taliban dan Presiden Ashraf Ghani di Kamp David, Maryland, yang dijadwalkan pada Minggu (8/9/2019) dibatalkan dengan mendadak.[***]

Dr. Muhammad Najib
Penulis adalah pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Komentar Pembaca
Scott Morrison: Jokowi Punya Semangat Nyata Untuk Rakyat Indonesia
Juru Damai

Juru Damai

MINGGU, 20 OKTOBER 2019

Vietnam Saat Ini Jauh Ungguli Indonesia
Gencatan Senjata Di Suriah,  AS-Turki Satu Suara
Ekor Kepala

Ekor Kepala

JUM'AT, 18 OKTOBER 2019

Tabloid Meghan

Tabloid Meghan

KAMIS, 17 OKTOBER 2019

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

SELASA, 06 AGUSTUS 2019 , 21:57:45

Jokowi Marah PLN Tidak Becus: Perlu Tindakan Lebih Keras
Antri Salaman Dengan Gubernur

Antri Salaman Dengan Gubernur

SENIN, 10 JUNI 2019 , 20:34:00

JK Sambangi SBY

JK Sambangi SBY

KAMIS, 27 JUNI 2019 , 02:27:00

Razia WNA Di Tangerang

Razia WNA Di Tangerang

KAMIS, 11 JULI 2019 , 21:20:00

The ads will close in 10 Seconds