Soal Pak Wiranto, Kita Mesti Gimana?

Suara Publik  SENIN, 14 OKTOBER 2019 , 09:57:00 WIB

Soal Pak Wiranto, Kita Mesti Gimana?

Penusukan Wiranto/Net

"REMEMBER that everything you post online is permanent"

Begitu mendengar Pak Wiranto ditusuk, atau peristiwa teror lainnya, di antara kita terbiasa langsung menuduh lewat medsos, bahwa ini ulah kelompok radikal dari agama tertentu. Ada juga yang menuduh ini rekayasa, settingan.

Langsung menuduh, bisa jadi karena si penuduh punya ketidaksukaan, kebencian, bahkan phobia pada seseorang, suku, agama, ras, golongan tertentu. Bisa jadi sekadar spekulasi agar terlihat beda, hebat, pakar, dan lainnya.

Kita berharap jangan terjadi, namun jika pelaku teror kembali berulah, bagaimana sikap kita sebagai pengguna media sosial?

Pertama, tunda menyampaikan kesimpulan di medsos, apalagi langsung menuduh ini ulah kelompok radikal dari suku, agama, ras, golongan tertentu, ini settingan, rekayasa, dan tuduhan lain. Sebab tuduhan langsung tanpa mikir panjang itu melahirkan ketersinggungan, membuat antar kita, antar agama, antar suku, antar golongan, antar ormas saling tersudut dan tidak percaya.

Kedua, bebaskan diri dari berbagai kepentingan lain, fokus pada kepentingan bersama (national interest). Jika anda intelektual, pengamat, tolak siapapun yang mendorong anda untuk berkomentar sesuai pesanan mereka.

Ketiga, hindari penggunaan emoticon, emoji, gif dalam merespons peristiwa teror, bencana alam, kematian dan musibah lainnya. Perkuat empati digital.

Keempat, jangan mensyukuri kematian seseorang lewat medsos. Karena boleh jadi anda tidak suka banget dengan orang tersebut. Namun Anda tetap harus menjaga perasaan kedua orangtuanya, saudara kandungnya dan keluarga besarnya.

Kelima, jangan memproduksi konten yang bisa memanaskan situasi, dan jangan menyebarkan konten tak bertuan.

Keenam, jangan menyebarkan konten, sebelum konten tersebut diberitakan oleh media arus utama yang memiliki verifikasi ketat, atau berkonsultasilah dengan tiga orang yang memiliki verifikasi ketat sebelum menyebar konten.

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan konten”

Hariqo Wibawa Satria
Penulis adalah Direktur Eksekutif Komunikonten



Komentar Pembaca
Rektor Baru ITB, Isu Radikalisme Dan Matinya Otonomi Kampus
Gudang Tua Itu Sudah Menjadi Masjid

Gudang Tua Itu Sudah Menjadi Masjid

SENIN, 04 NOVEMBER 2019

Cadar, Cingkrang, Dan Kebangkitan Peradaban Islam
Mobil Tua Che Guevara

Mobil Tua Che Guevara

SABTU, 02 NOVEMBER 2019

Nasdem Bisa Jadi

Nasdem Bisa Jadi Imam Oposisi

SABTU, 02 NOVEMBER 2019

BPJS: Tugas Presiden Yang Tidak Tuntas

BPJS: Tugas Presiden Yang Tidak Tuntas

JUM'AT, 01 NOVEMBER 2019

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

Indonesia Kehilangan Kiai Kharismatik

SELASA, 06 AGUSTUS 2019 , 21:57:45

Jokowi Marah PLN Tidak Becus: Perlu Tindakan Lebih Keras
Antri Salaman Dengan Gubernur

Antri Salaman Dengan Gubernur

SENIN, 10 JUNI 2019 , 20:34:00

JK Sambangi SBY

JK Sambangi SBY

KAMIS, 27 JUNI 2019 , 02:27:00

Razia WNA Di Tangerang

Razia WNA Di Tangerang

KAMIS, 11 JULI 2019 , 21:20:00

The ads will close in 10 Seconds