Ini Dampak Pemindahan Ibukota Untuk Penelitian Bioetanol

Nusantara  SENIN, 18 NOVEMBER 2019 , 17:00:00 WIB | LAPORAN: LANI PAHRUDIN

Ini Dampak Pemindahan Ibukota Untuk Penelitian Bioetanol

Focup Group Discussion LIPI/LAN

RMOLBANTEN. Bioetanol generasi dua (G2) merupakan salah satu solusi bahan bakar dari limbah organik untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Indonesia memiliki potensi biomassa lignoselulosa seperti dari tandan kosong kelapa sawit dengan luasnya perkebunan sawit yang dimiliki.

Dalam hal ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan Focup Group Discussion (FGD) bertema 'Sinergi Riset Pengembangan Bioetanol G2 untuk Mewujudkan SDGs' di Hotel Santika BSD, Senin, (18/11).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala P2 Kimia LIPI, Raden Arthur Ario Lelono mengatakan, peran pemerintah dalam mengembangkan bioetanol untuk pengganti bahan bakar transportasi harus terus dilaksanakan.

"Ini menjadi salah satu terobosan alternatif, walaupun tantangannya cukup besar. Kita harus menunggu peran pemerintah mengendorse penerapan bietonol untuk pengganti bahan bakar bensin. Karena fasilitas yang dimiliki terus kita optimalkan untuk menjadikan nilai ekonomi dari produk bioetanol sebagai pengganti bahan bakar minyak," tutur Arthur, Senin, (18/11).

Terlebih, Kalimantan sebagai wilayah produsen terbesar kelapa sawit akan dijadikan Ibu Kota baru Indonesia.

Tentunya, dengan Kalimantan menjadi Ibu Kota akan memaksimalkan pilot project bioetanol yang menggunakan tandan kosong kelapa sawit.

"Saya rasa perpindahan ibukota ke Kalimantan, jadi kesempatan bagus pengembangan unit Biotenol di Kalimantan. Pilot project pun dekat dengan bahan baku, rantai distribusinya tidak terlalu panjang. Central produksi kelapa sawit dimudahkan dan fokus mengembangkan ke pilot bioetanol," paparnya.

"Tapi nantinya pusat Iptek bisa bergeser ke Kalimantan, sedikit mendekatkan fasilitas ke sumber baku khsusunya untuk pengembangan bioetanol dari tandan kelapa sawit," tambah Arthur.

Arthur sangat berharap, nilai bioetanol di Indonesia bisa sedikit ekonomis. Namun, tergantung kebijakan dari peran pemerintah dalam menyikapi pengembangan bioetanol sebagai pengganti bahan bakar transportasi.

"Kita sudah memiliki teknologinya, yang jadi tantangan kita mengoptimalkan nilai ekonimis, karena bioetanol sendiri harganya cukup tinggi. Banyak cara yang ditempuh melalui pemerintah, industri dan litbang," tutupnya. [ars]




Komentar Pembaca
Dua Ketum Muhammadiyah Di Pemakaman

Dua Ketum Muhammadiyah Di Pemakaman

KAMIS, 21 NOVEMBER 2019 , 13:25:00

Sandiaga Uno Usai Upacara Senja

Sandiaga Uno Usai Upacara Senja

RABU, 16 OKTOBER 2019 , 21:18:00

Gubernur dan Kapolda Sambangi RSUD Pandeglang

Gubernur dan Kapolda Sambangi RSUD Pandeglang

KAMIS, 10 OKTOBER 2019 , 17:04:00

The ads will close in 10 Seconds