Mau Tahu Bapak Pers Nasional, Ini Sejarahnya

Pendidikan  MINGGU, 08 DESEMBER 2019 , 19:30:00 WIB | LAPORAN: RIZKI AKBAR GUSTAMAN

Mau Tahu Bapak Pers Nasional, Ini Sejarahnya

Haul Tirto 101 Tahun/RAG

RMOLBANTEN. Tirto Adhi Soerjo, tak setenar nama pahaan perjuangan di masa penjajahan Belanda. Padahal, priyayi Jawa di dekade abad 19 ini mempunyai peran besar dalam kemerdekaan melalui tulisannya.

Demikian riwayat Bapak Pers Nasional Tirto Adhi Soerjo yang dibacakan penulis Muhidin M Dahlan di Kota Serang, Sabtu (7/12).

Muhidin M Dahlan atau Gus Muh biasa disapa, di tahun 50-an akibat kegigihan salah satu penggawa Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) paling tekun bernama Pramoedya Ananta Toer. Namanya menghiasi kembali wajah koran-koran di masa Sukarno.

"Pada masa itu, kadang sepertiga, kadang separuh halaman ada serial tentang sepak terjangnya. Hingga akhirnya banyak yang terbuka matanya atas peran besar yang hilang," tuturnya.

Pada periode orde baru, pemerintah menyebutnya sekadar tokoh perintis pers. Setelah reformasi berjalan sewindu, ia dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional dengan Keppres RI No 85/TK/2006.

"Kemudian Tirto mengambil dan menjalankan Privelese. Di tengah jalan, kemudi privelese yang diangankan orang tuanya dipatahkannya di tengah jalan dan memilih jalan bangsawan cendekia," ujarnya.

Kemudian ia memasuki jalan dokter sebagai modus bergabung dengan mereka yang memiliki akses kepada rakyat jajahan yang paling lemah.

"Jalan dokter adalah jalan pelayanan yang memiliki privelese merasakan langsung sesaknya dada kaum terprentah. Bagi Tirto, itu saja tidak cukup. Suaranya mestilah punya gaung yang luas hingga ke daratan Eropa," ucapnya.

Untuk menunjukkan keseriusan di bidang ini, dikatakan Muhidin Tirto memutuskan Drop Out (DO) dari Stovia mula-mula ia menjadi jurnalis Pemberita Betawi. Di koran orang Belanda itu ia meraih jabatan sebagai redaktur kepala.

Namun, bukan karier seperti itu yang ia inginkan, juga bukan koran seperti itu yang diimpikannya. Tirto ingin ada koran yang dipimpin oleh seorang pribumi dan biaya cetaknya juga diongkosi orang-orang pribumi.

Soenda Brita di tahun 1903 adalah percobaan pertama, disusul lain-lain seperti Medan Prijaji, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia.

Nama-nama koran lain yang turut diurus Tirto, Sri Pasoendan (Tirto bertindak sebagai editor), Pantjaran Warta (pemimpin redaksi), Militair Djawa (editor), Sarotomo (redaktur kepala), De Maleische Pers (redaktur), Pewarta Staatspoor (editor, redaktur), Soeara B.O.W. (editor, redaktur), dan Soeara Pegadaian (editor).

Bagi Tirto, jalan jurnalistik adalah jalan pewartaan dan sekaligus menyuluh dan menjadi medan penyadaran politik. Sejak awal terjun secara profesional di bidang jurnalistik, Tirto sudah memiliki kesadaran ini.

"Kesadaran itu ada dua golongan manusia di Hindia Belanda, yaitu golongan yang memerintah dan golongan terperintah, golongan yang kedua ini hidupnya tidak lepas dari penindasan dan hisapan dari golongan pertama,  pers adalah alat untuk melawannya dan langkah awalnya dia harus memiliki penerbitan sendiri," ungkapnya.

Koran yang dibangun Tirto menunjukkan eklektisme-nya memandang kehidupan. Sekaligus, jalan ini menjadi gelangganya untuk menyalurkan potensi dirinya sebagai dewa konten.

"Menulis kronik, laporan daerah, berita investigasi, kabar teknologi fotografi, sulam-menyulam, tips merawat kesehatan keluarga secara mandiri, mengenal bakteri, tips berdandan, penyalin dan penerjemah lembaran negara (staatblad), dan sebagainya. Sosok ini memiliki perhatian khas dan sekaligus generalis," ucapnya.

Selain itu, Tirto juga  membangun banyak sekali media dalam satu payung usaha bernama NV Medan Prijaji atau Maskapai MP. Inilah rintisan bisnis pers mula-mula dengan menggunakan sistem saham.

"Betapa pun, jika mandiri dalam posisi politik dan pergerakan, mestilah mandiri dalam bisnis yang melingkupinya. Tirto sangat sadar, mengelola satu media dan banyak sekaligus sama saja," katanya.

"Itu tidak sekadar prinsip jurnalistik yang independen, tetapi juga prinsip politik pergerakan. Koran adalah medan bagi bangsawan fikiran mengawal pikiran umum. Mesin utama menjalankan itu adalah organisasi pergerakan," katanya.

Setahun sebelum Boedi Oetomo, Tirto sudah men-declare organisasi yang bertumpu pada penguatan pendidikan dengan lima program utama yakni rumah pemondokan siswa, taman kanak-kanak, lembaga pengumpul dana, beasiswa, dan taman-taman bacaan.

"Sarekat Priyayi belum berkembang maksimum, Tirto mulai sibuk ikut Boedi Oetomo (BO)," ujarnya.

Hubungan antara pergerakan dan pers ini kemudian menginsyafkan Tirto betapa bahayanya posisi para jurnalis ini dihadapan kekuasaan.

"Jurnalis tidak boleh tidak harus peduli dan paham hukum untuk membela dirinya, membela kedudukan usaha korannya, dan sekaligus membela masyarakat yang dirugikan," ujarnya.

Ketujuh jalan itu dikerjakan secara sekaligus dalam satu tindakan oleh Tirto Adhi Soerjo. Terutama, pada periode 1907-1912. Periode itu merupakan lima tahun amal Tirto yang penuh ledakan, berapi, dan sekaligus menciptakan jaring-jaring yang menjeratnya hingga mati dalam kemiskinan yang menggetarkan. [ars]

Komentar Pembaca
Dua Ketum Muhammadiyah Di Pemakaman

Dua Ketum Muhammadiyah Di Pemakaman

KAMIS, 21 NOVEMBER 2019 , 13:25:00

Airin Audensi Dengan Kapolri

Airin Audensi Dengan Kapolri

SELASA, 17 DESEMBER 2019 , 14:10:00

Wapres Di Wisuda UIN Banten

Wapres Di Wisuda UIN Banten

SENIN, 16 DESEMBER 2019 , 01:38:00

The ads will close in 10 Seconds