Kabar Duka Dari Kuba

Opini  JUM'AT, 13 DESEMBER 2019 , 01:31:00 WIB | OLEH: TEGUH SANTOSA

Kabar Duka Dari Kuba

Teguh Santosa dan Achmad Soengkawa Soepardja/IST

RMOLBANTEN. Kabar duka itu datang kemarin pagi (Rabu, 11/12). Dari Havana, Kuba.

Achmad Soengkawa Soepardja meninggal dunia. Selasa (10/12) sekitar jam 06.00 waktu setempat.

Kabar kepergian pria kelahiran Jakarta, 2 Mei 1934 itu menghadap Illahi saya terima dari Staf KBRI Havana Dedi Supriadi.

Saya dikirimi foto sebuah kuburan di Pemakaman Colon, Vedado. Di tempat itulah, tubuh Achmad Soepardja yang kerap disapa Aki oleh masyarakat Indonesia di Kuba, dibaringkan.

Di tempat itu pula anaknya, Ruhaine Soepradja Delgado yang meninggal dunia karena leukimia pada 12 Oktober 1995, dikebumikan. Juga di tempat itu istrinya, Martha Maria Delgado Plana yang meninggal 24 Agustus 2008, dimakamkan.

Aki Soepardjo menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Manuel Fajardo, Vedado, setelah dirawat selama empat hari. Ia sempat juga dirawat satu hari di Rumah Sakit Instituto Cardiología y Cirugía Vascular, juga di Vedado.

Aki Soepardja disebutkan meninggal dunia karena komplikasi jantung, ginjal dan paruparu.

Dedi Supriadi juga mengirimkan dua foto yang memperlihatkan Aki Soepardja dalam perawatan di kedua rumah sakit.

Dalam foto pertama, yang diambil di Rumah Sakit Instituto Cardiología y Cirugía Vascular, Aki Soepardja tampak sedang berkomunikasi dengan dokter yang merawatnya. Ia mengenakan kaos merah marun, selimut oranye dan masker pernafasan.

Pada foto kedua, dari Rumah Sakit Manuel Fajardo, Aki Soepardja tampak begitu lemah. Tubuhnya ditutupi selimut oranye. Ia tampak tertidur atau mungkin sudah tidak sadarkan diri.

Saya bertemu Aki Soepardja ketika berkunjung ke Kuba awal bulan lalu.

Kami bertiga, saya, Dedi Supriadi dan Aki Soepardja, makan siang di sebuah restoran di China Town di tengah Havana. Di sela makan siang, Aki Soepardja banyak bercerita tentang perjalanan hidupnya.

Saya merekam pembicaraan kami. Tapi ternyata suara musik yang diputar di restoran itu mengalahkan suara Aki Soepardja. Banyak bagian dari ceritanya yang tak terdengar jelas. Dan saya baru mengetahui hal ini saat memutar rekaman itu beberapa jam lalu.

Aki Soepardja adalah satu dari sekian banyak mahasiswa Indonesia yang dikirim pemerintah Sukarno belajar ke luar negeri pada kurun 1960an. Mereka disebut sebagai Mahasiswa Ikatan Dinas dan biasa disingkat Mahid. Diharapkan, setelah menyelesaikan pendidikan mereka kembali ke tanah air untuk membangun bangsa dan negara.

Setelah peristiwa 30 September 1965, tak sedikit dari mereka yang tidak kembali ke tanah air. Ada yang merasa tak sejalan dengan era baru setelah peristiwa itu. Ada juga yang memilih tidak pulang karena khawatir hidupnya akan berakhir di dalam penjara.

Adapun Aki Soepardja masuk kelompok ketiga, ingin pulang tapi tak bisa pulang karena paspor sudah kadaluarsa dan tidak bisa diperpanjang.  

Achmad Soepardja dikirim ke Cekoslowakia pada awal 1960an. Ia memulai kuliahnya di jurusan ekonomi Vysoka Skola Ekonomicka di Praha pada 1962.

Sebelumnya Aki Soepradja pernah kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), namun tak lama. Ia berhenti dan memilih bekerja di perusahaan ekspedisi sampai dikirim sekolah ke Cekoslowakia.

Di negara itu Aki Soepardjo bertemu dengan istrinya yang warganegara Kuba. Di tahun 1968 ia dan istrinya berlayar ke Kuba dan tiba di Havana pada 1969.

Hubungan Indonesia dan Kuba di era 1960an sedang hangat-hangatnya. Diawali kunjungan Che Guevara ke Indonesia pada pertengahan 1959, hanya beberapa bulan setelah pemerintahan Batista terguling dan Fidel Castro berkuasa.

Setahun kemudian, giliran Bung Karno berkunjung ke Kuba. Ia disambut meriah. Fidel Castro dan Che Guevara menjemputnya di bandara udara.

Kedutaan Indonesia di Havana dibuka secara resmi pada 14 Agustus 1963. Di bulan Oktober 1971, KBRI Havana ditutup karena alasan ekonomi dan setelah itu hubungan bilateral dengan Kuba dihandle dari Meksiko.

Di bulan Desember 1995, KBRI Havana kembali dibuka. Aki Soepardja sempat bekerja di Wisma Duta.

Mimpinya untuk kembali ke Indonesia terlaksana di tahun 2000, tiga tahun setelah ia dan teman-temannya eks Mahid di Kuba mendapatkan paspor. lalu di tahun 2010, dua tahun setelah kematian istrinya.

Kenapa tidak tinggal di Indonesia?” tanya saya.

Sebetulnya bisa juga. Tapi umur saya sudah lanjut. Di sana mau kerja apa, mau apa? jawabnya. Dia juga mengatakan merasa tidak enak kalau harus menjadi beban keluarganya di Bandung.

Kalau di sini bagaimana?” saya tanya lagi.

Saya sudah pensiun. Rumah sakit dijamin,” jawabnya singkat.

Selesai santap siang di China Town kami berputar-putar sebentar. Saya meminta Dedi membawa kami ke museum Ernest Hemingway. Lalu dari sana kami kembali ke rumah Aki Soepardja di kawasan Vedado.

Mendekati rumah Aki Soepardja, Dedi mengajak kami singgah di sebuah taman untuk melihat patung John Lennon. Karena patung itu pula, taman ini dikenal sebagai Taman John Lennon. Sebelumnya, ia dikenal sebagai Parque Menocal.

Patung ini salah satu atraksi wisata di Havana, cerita Dedi. Biasanya orang antre untuk bisa berfoto dengannya.

Patung karya pematung Kuba, Jose Villa Soberon, selesai dibuat pada tahun 2000, persis di tanggal 8 Desember, bersamaan dengan peringatan 20 tahun pembunuhan John Lennon.

Setahun kemudian, penulis Kuba, Ernesto Juan Castellanos, menulis sebuah buku yang berjudul John Lennon en La Habana with a Little Help from My Friends” yang berkisah tentang The Beatles dan keinginan band itu manggung di Kuba pada kurun 1960an dan 1970an.

Walau telah berada di taman itu sejak akhir 2000, ternyata Aki Soepradja belum pernah mendatanginya, apalagi berfoto dengannya.

Maka Dedi pun menghentikan mobil. Kami beruntung sedang tidak banyak turis yang ingin berfoto dengan patung itu.

Maka kami pun menghabiskan beberapa waktu lamanya untuk berfoto bersama John Lennon.

Saya membuka kembali file foto selama di Kuba untuk menemukan foto kami di Taman John Lennon.

Kepada Dedi saya tuliskan pesan singkat ini.

Kasihan ya. Sedih di hari-hari terakhir sendiri. Tapi sekarang sudah bersama anak dan istri.”

Dedi menjawab singkat, Iya.”

Selamat jalan Aki Soepardja. [dzk]

Komentar Pembaca
Globalisasi Fobia

Globalisasi Fobia

SELASA, 18 FEBRUARI 2020

Catatan Singkat Naskah Akademik Omnibus Law RUU Cilaker
Kebal Virus

Kebal Virus

SENIN, 17 FEBRUARI 2020

Energi Jurnalisme Ilham Bintang

Energi Jurnalisme Ilham Bintang

SENIN, 17 FEBRUARI 2020

Radiasi Serpong

Radiasi Serpong

MINGGU, 16 FEBRUARI 2020

Bahagia Langit

Bahagia Langit

MINGGU, 16 FEBRUARI 2020

Airin Audensi Dengan Kapolri

Airin Audensi Dengan Kapolri

SELASA, 17 DESEMBER 2019 , 14:10:00

Wapres Di Wisuda UIN Banten

Wapres Di Wisuda UIN Banten

SENIN, 16 DESEMBER 2019 , 01:38:00

Penghargaan Istimewa KPK Buat WH

Penghargaan Istimewa KPK Buat WH

SELASA, 10 DESEMBER 2019 , 03:17:00

The ads will close in 10 Seconds