Empat Tambang Emas Ilegal Penyebab Banjir Bandang Lebak Ditutup Polda Banten

Keamanan  SELASA, 21 JANUARI 2020 , 00:19:00 WIB | LAPORAN: RMOL NETWORK

Empat Tambang Emas Ilegal Penyebab Banjir Bandang Lebak Ditutup Polda Banten

Irjen Agung Sabar Santoso/Net

RMOLBANTEN. Lokasi penambangan emas ilegal yang menjadi penyumbang bencana longsor dan banjir bandang di Lebak, Banten awal Januari 2020 yang lalu ditutup Satgas Penambang Tanpa Izin (PETI) Polda Banten.

Hal itu disampaikan Kapolda Banten, Irjen Agung Sabar Santoso,  Senin (20/1).

Agung menyampaikan, jajarannya berhasil mengidentifikasi lokasi tambah ilegal yaitu di Kampung Cikomara RT 04/02 Desa Banjar Irigasi, Kecamatan Lebak Gedong; Kampung Hamberang RT 04/06 Desa Luhur Jaya, Kecamatan Cipanas dan di Kampung Tajur RT 06/04 Desa Mekarsari, Kecamatan Cipanas.

Ketiga lokasi tambah ilegal itu kini sudah ditutup.

Selain di lokasi tersebut, timnya juga telah melakukan penyelidikan di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Kabupaten Lebak, dan didapati keberadaan tambang ilegal.

"Investagasi yang kita lakukan, penyebab terjadinya banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak, akibat curah hujan yang sangat tinggi, tanahnya labil, adanya garapan sawah di TNGHS dan salah satunya adalah aktivitas PETI,” terang Agung.

Saat ini, kata Agung, tim Satgas PETI telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan beberapa barang bukti serta telah memeriksa sejumlah saksi-saksi.

Jelas Agung, Satgas PETI ini terdiri dari Gabungan Penyidik Bareskrim Polri, Ditkrimsus Polda Banten, Polres Lebak dan Satgas dari Dinas Terkait di Pemerintahan.

"Empat tempat pengolahan tambang di wilayah Lebak Gedong dan Cipanas, kita lakukan penindakan berupa pemasangan garis police line. Kita juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap 12 saksi, baik pekerja, pengawas dan empat saksi ahli," jelasnya.

Hasil pemeriksaan saksi-saksi, didapati keterangan bahwa pekerja yang mengoperasikan mesin pengolah emas atau gelundung dibayar Rp 100 ribu per harinya, sementara pekerja dibagian pemecah urat emas dari batu menjadi serbuk diberi upah Rp 25 ribu per karung.

Pihaknya, lanjut Agung, masih melakukan penyelidikan dan pengembangan. Pasalnya dari keempat lokasi pengolahan tambang ilegal saat dilakukan pengecekan dan penyegelan sedang tidak beroperasi atau tidak ada kegiatan pengolahan emas.

"Para pemilik juga belum kita periksa, karena saat dilakukan penyisiran dan tindakan di lokasi, mereka sedang tidak di rumah, namun akan terus kita lakukan interogasi dan pemeriksaan,” demikia Agung. [dzk] 

Komentar Pembaca
Wartawan <i>RMOLBanten</i> Melepas Lajang

Wartawan RMOLBanten Melepas Lajang

SABTU, 08 AGUSTUS 2020 , 14:55:00

Rekomendasi Gerindra Untuk Muhamad-Rahayu Saraswati
Kejaksaan Agung Kebakaran

Kejaksaan Agung Kebakaran

SABTU, 22 AGUSTUS 2020 , 20:07:00

The ads will close in 10 Seconds