COVID-19

Kebijakan Tidak Jelas, Pengusaha Rental Mobil Di Tangsel Menjerit

Ekbis  RABU, 01 APRIL 2020 , 22:23:00 WIB | LAPORAN: LANI PAHRUDIN

Kebijakan Tidak Jelas, Pengusaha Rental Mobil Di Tangsel Menjerit

Ilustrasi/Net

RMOLBANTEN. Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan aturan melalui Otoritas Jasa Keuangan, yakni Peraturan OJK (POJK), untuk menunda pembayaran angsuran kendaraan selama 1 tahun.

Namun aturan itu, masih belum dirasakan oleh para pengusaha rental mobil. Salah satunya, seperti yang dikeluhkan oleh Slamet Effendy salah satu owner rental mobil di Pamulang, Tangsel.

Slamet menjelaskan, pertanggungan terhadap leasing merupakan hal yang paling berat disaat situasi darurat Covid-19. Terlebih, sudah ada imbaun untuk diam di rumah.

"Yang paling berat itu pertanggungan kita ke leasing atau Bank, sudah jelas kita enggak mampu. Semua pengusaha rental mobil keluhannya sama, jadi bagaimana kebijakan dari pada perbankan atau lembaga keuangan," tutur Slamet, Rabu (1/4).

Menurutnya, pemerintah yang sudah mengeluarkan aturan melalui Otoritas Jasa Keuangan, yakni Peraturan OJK (POJK), untuk menunda pembayaran angsuran kendaraan selama 1 tahun belum sepenuhnya dijalankan oleh leasing.

"Pemerintah telah mengeluarkan relaksasi atau penundaan angsuran, tetapi jasa keuangan seperti leasing belum mengambil kebijakan, ini yang kita sayangkan. Kami pengusaha transportasi berharap ada imbauan atau ada petunjuk langsung teknis pengurangannya seperti apa penundaannya seperti apa. Kami harap OJK yang bisa memberikan arahan kepada leasing," paparnya.

Bahkan, Slamet yang sudah berkecimpung di usaha transportasi cukup lama, berharap pemerintah dapat memberikan keringanan waktu untuk membayar kepada leasing hingga situasi normal kembali.

"Kami harapkan, adalah petunjuk langsung pemerintah bagaimana pemerintah membantu keringanan kami, agar diberikan tenggang waktu mungkin sampai situasi ini membaik. Misalkan pembayaran bisa mundur gitu dan tidak ada embel lain-lain," jelas Slamet.

"Pemerintah saat ini ngambang (kebijakannya), jadi leasing masih bisa ngeles. Jadi mohon dengan sangat ada kebijakan yang pro kepada pengusaha transportasi," tambahnya.

Akibat pandemi Covid-19 ini, usaha Slamet merugi hampir 99,9 persen. Jika dihari biasa, dalam jangka waktu seminggu mobil yang disewakannya laris manis kini mobil-mobilnya hanya dipajang di garasi.

"Kalau sekarang persentase, kalau retail harian bisa 99.9 persen. Biasanya yang harian itu kalau weekend mobil sampai kurang unit. Sekarang, seminggu sekali aja belum tentu ada order, satu itu kadang-kadang, bahkan enggak ada sama sekali. Kerasa banget, jangankan untuk bayar leasing," kata Slamet.

Slamet pun mengaku pendapatannya bisa Rp 15 juta hingga 25 juta tiap minggunya, hilang. Dan, untuk mendapatkan Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta pun dirasanya sangat sulit.

"Sekarang ini kita ini sudah enggak bisa gerak. Biasanya seminggu bisa dapat angka Rp 15-25 juta, sekarang ini jangankan nyari puluhan juta nyari Rp 1 juta atau Rp 500 ribu saja sudah berat," tutupnya. [dzk]



Komentar Pembaca
Kampung Ubud Rumah Gleen Fredly

Kampung Ubud Rumah Gleen Fredly

KAMIS, 09 APRIL 2020 , 00:15:00

Rush Money Bank Banten

Rush Money Bank Banten

KAMIS, 23 APRIL 2020 , 17:28:00

Check Poin Kota Tangerang

Check Poin Kota Tangerang

SABTU, 18 APRIL 2020 , 02:03:00

The ads will close in 10 Seconds