Melihat Wabah Dari Mata Perawat

Suara Publik  KAMIS, 09 APRIL 2020 , 21:54:00 WIB

Melihat Wabah Dari Mata Perawat

Ilustrasi/Net

RMOLBANTEN. MANUSIA biasa. Tanpa memandang profesi, kita semua berkedudukan sama. Pandemik menciptakan ruang ketakutan akan kematian, bagi seluruh populasi. Tenaga kesehatan rentan tertular dan menulari.

Kajian ini, ditujukan dalam upaya melihat bagaimana tenaga medis, khususnya profesi perawat dalam mempersepsi kondisi wabah yang terjadi. Pada pemaknaan dirinya sebagai pemberi layanan.

Perawat sebagai bidang keahlian, memiliki peran ganda. Pertama: sebagai profesi yang disumpah dan berkewajiban untuk memberikan pelayanan tanpa terkecuali. Kedua: menjadi individu bagi diri sendiri dan untuk keluarganya.

Beban itu diperankan, melalui upaya perimbangan. Pada situasi normal, bahkan jauh sebelum pandemi, tenaga kesehatan terkategori sebagai profesi yang berisiko tinggi tertular berbagai penyakit.

Dalam kondisi wabah, maka derajat risiko yang ditanggung semakin bertambah tinggi. Hal ini tentu mampu menurunkan motivasi pemberian layanan, terlebih bila persepsi atas situasi yang dihadapi, tidak terkonstruksi secara positif.

Temuan Lapangan

Melalui riset kecil, dengan lingkungan yang terbatas. Di salah sebuah rumah sakit swasta, pada daerah penyangga ibukota. Melibatkan sekitar 60 responden, dengan model kuisioner singkat.

Diketahui bahwa para perawat mengaku pernah memberikan pelayanan kepada pasien yang diindikasi penderita Covid-19, sekitar 56 persen. Tingkat interaksi yang terbilang tinggi.

Pertemuan dengan pasien terpapar wabah, terjadi di berbagai ruang pelayanan. Mulai sejak pada tahap penanganan awal, baik di UGD, rawat jalan, hingga pada akhirnya fase lanjutan rawat inap.

Selama ini, informasi mengenai pandemik Covid-19, diperoleh melalui media televisi 34 persen, disusul media sosial 33 persen, lantas media online 20 persen dan di bagian akhir media cetak 13 persen.

Data tersebut mencerminkan, tenaga kesehatan berupaya melakukan pembaharuan informasi dari waktu ke waktu. Konsumsi informasi diperoleh melalui media mainstream, disusul media digital.

Atas seluruh informasi yang tersedia, sekitar 45 persen menyatakan dapat memahami sebagian, sisanya 55 persen telah paham secara utuh.

Hal ini dapat dipahami, karena ulasan pemberitaan media menempatkan kajian pandemi, melalui berbagai sisi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik dan kesehatan. Perawat yang memantau media secara beragam, mampu menyerap lebih banyak informasi.

Membangun Perspektif

Sebagian besar, tenaga kesehatan dalam hal ini perawat, mengasumsikan atas hasil cermatan pemberitaan, dalam posisi yang mengkhawatirkan sekitar 65 persen.

Sebagian diantaranya 30 persen melihat informasi berbeda, yakni fokus pada hal-hal positif. Sedangkan sisanya, 5 persen menganggap pemberitaan sebagai hal yang wajar.

Kondisi tersebut, pada akhirnya membawa mereka untuk menerapkan kewaspadaan, dalam perilaku pemberian pelayanan. Sesuai dengan janji dan sumpah profesi, para perawat menyatakan diri tetap berlaku profesional 54 persen.

Selebihnya 38 persen, menyatakan untuk lebih berhati-hati memberikan pelayanan. Pada bagian yang lebih rendah 8 persen, akan melakukan pelayanan secara selektif.

Merespons hal tersebut, maka menjadi bagian penting dari catatan penelitian, bila 55 persen dari total responden menyatakan hal utama dalam pelayanan adalah kebutuhan Alat Pelindung Diri-APD.

Sementara sisanya terpecah menjadi 24 persen terkait proses rujukan, serta 21 persen berkenaan dengan keharusan informasi yang lebih jelas dan lengkap terkait wabah Covid-19.

Tenaga kesehatan, termasuk perawat adalah elemen terdidik dan terlatih. Kualifikasi standar penerimaan seorang perawat, minimal diploma keperawatan, bersertifikat kegawatdaruratan, dan teregister pada asosiasi profesi perawat.

Seluruh responden yang terlibat sebagai partisipan terlihat dalam kualifikasi individu sebagaimana berikut: sekurangnya 85 persen adalah wanita.

Para perawat berada dalam rentang usia produktif 20-30 tahun berjumlah 54 persen, diatasnya 30-40 sekitar 40 persen, sisanya diatas 40 tahun.

Secara keseluruhan, 51 persen perawat yang mengisi kuisioner memiliki masa kerja diatas 5 tahun, sisanya tersebar 17 persen telah bekerja 3-5 tahun, selebihnya 32 persen perawat baru.

Penempatan posisi para perawat merata di semua unit bagian pelayanan, baik rawat jalan, rawat inap, intensif dan kamar operasi serta ruang gawat darurat.

Merangkai Kesimpulan

Keseluruhan data singkat ini memberikan gambaran, bila perawat sebagai bagian dari elemen tenaga kesehatan, yang memainkan peranan penting dalam pemberian pelayanan pada periode pandemi, tetap menjalankan profesionalitas kerjanya.

Meski demikian, diperlukan perhatian yang terbilang khusus untuk menyediakan sarana pendukung alat keselamatan, guna mencegah penularan.

Situasi ini perlu dipecahkan segera, mengingat kelangkaan dan harga yang tidak normal terkait tingginya demand. Instrumen kementerian kesehatan sebagai pemangku kebijakan, harus melakukan intervensi kedaruratan.

Lebih jauh lagi, paparan informasi yang dikonsumsi secara langsung, dapat berkontribusi pada sikap dan perilaku khalayak penerima pesan.

Konstruksi kekhawatiran, menciptakan ruang ketakutan, sehingga bersikap ragu-ragu, meski hal ini tampak samar, karena konsekuensi dan risiko tersebut, diterima secara rasional ketika menetapkan diri dalam profesi perawat.

Formulasi ini menjadi penting, kehati-hatian menjadi pilihan rasional dibandingkan ketakutan, dan profesionalitas profesi mengalahkan keragu-raguan. Persis layaknya kehadiran ilmu pengetahuan dalam mengatasi mitos irrasional.

Tentu kita tidak bisa berlepas tangan dalam hal tersebut, lantas berbicara tentang pengabdian serta penghormatan profesi semata.

Perlu dipersiapkan bekal antisipasi, agar tenaga kesehatan, dalam hal ini direpresentasikan oleh para perawat, untuk mampu melayani dengan baik. Sehingga pemberi layanan, merasa aman serta terlindungi, tidak menjadi sumber persoalan baru.

Tidak bisa tidak, harus ada keseriusan menyediakan perangkat peralatan pendukung tersebut. Perlu peran kolaboratif dan otoritatif dalam hal ini.

Dilain pihak, dibutuhkan asupan informasi positif yang adekuat, agar konstruksi pesan yang dibentuk melalui media dapat membangun kepercayaan diri para pemberi pelayanan kesehatan, agar mereka bisa menuntaskan tugasnya yang mulia, dengan gegap gempita.

Selamat bertugas bagi seluruh tenaga medis, dimanapun Anda berada. Salam hormat, sehat selalu dan kita dapat melewati semua ini dengan kebaikan bersama. Amin. [dzk]

Yudhi Hertanto
Mahasiswa program doktoral Ilmu Komunikasi, Universitas Sahid.

Komentar Pembaca
Kampung Ubud Rumah Gleen Fredly

Kampung Ubud Rumah Gleen Fredly

KAMIS, 09 APRIL 2020 , 00:15:00

Rush Money Bank Banten

Rush Money Bank Banten

KAMIS, 23 APRIL 2020 , 17:28:00

Check Poin Kota Tangerang

Check Poin Kota Tangerang

SABTU, 18 APRIL 2020 , 02:03:00

The ads will close in 10 Seconds