Didi Kempot Antitesa Dari K-Pop

Seleb  SABTU, 09 MEI 2020 , 22:18:00 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Didi Kempot Antitesa Dari K-Pop

Didi Kempot semasa hidup/Net

RMOLBANTEN. Karakter musik khas serta penampilannya yang penuh dengan kesederhanaan membuat maestro campursari Didi Kempot lewat karya-karyanya mewarnai industri musik tanah air.

Karya almarhum pun banyak digandrungi oleh semua kalangan lintas generasi.

Almarhum Didi Kempot, pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 31 Desember 1966 itu disebut sebagai antitesa dari musik impor dari Korea yang mewabah di dalam negeri, yakni K-Pop.

Hal itu seperti disampaikan pengamat seni budaya, Wicaksono Adi saat mengisi diskusi daring yang digelar Populi Center bertajuk "Didi Kempot dan Kita", Sabtu (9/5).

"Didi Kempot ini memang antitesa dari K-Pop, dia (Didi Kempot) tampil apa adanya, sederhana, tidak sombong, dan itu membuat distingsi yang signifikan dengan icon K-Pop," ujar Wicaksono.

Kata Wicaksono, dahulu orang yang menggemari musik dangdut hingga campursari disebut tidak trendy.

Namun berbeda setelah The God Father of Broken Heart, begitu Didi Kempot dijuluki, karena karya-karyanya yang melankolia, masuk lokal itu kembali ngetrend di era sekarang.

"Nah, maka orang yang memilih (ngefans) Didi Kempot menjadi ekslusif, menjadi keren. Karena selain terkesan mewakili diri saya (bagi para fansnya) juga ada sesuatu yang unik di situ," kata Wicaksono.

Lanjut Wicaksono, alasan lain kenapa Lord Didi Kempot masih tetap eksis dan digandrungi oleh millenial di era digital seperti sekarang.

Hal ini tidak terlepas dari konsistensi pelantun lagu Stasiun Balapan dalam berkarya.

Selain lebih dari 800 lagu diciptakannya, karya-karyanya Didi Kempot yang bertema melankolia itu cenderung mudah dicerna, dinikmati, dan tidak ektrem.

Persona kearifan lokal nan sederhana sang mendiang ini melekat serta dekat dengan kebiasaan masyarakat Indonesia sehari.

Lebih jauh daripada itu, dia bersama timnya serta para fans setianya terus mereproduksi karya-karyanya.

"Kekuatan pada Didi Kempot adalah memiliki kesederhanaan. Cara menyampaikan tema melankoli dengan budaya popular yang mudah diterima dengan ringan, bisa dinikmati, tetapi juga tidak ekstrem; tidak ada kritik, tidak ada kemarahan, tidak ada beban-beban ideologis dan misi-misi dibaliknya," tuturnya.

"Budaya popular itu salah satunya adalah reproduksi. Kalau hari ngetren besok udah basi. Karena konsumen butuh, dan kebutuhan itu besar. Didi Kempot hadir dengan cepat, diamplifikasi terus direproduksi oleh konsumen (fans) itu sendiri. Meskipun pihak senimannya (Didi Kempot) atau produser, melakukan desain promosi, perencaan," demikian Wicaksono dilansir Kantor Berita Politik RMOLID. [dzk]



Komentar Pembaca
Batik Kuning Dan Biru

Batik Kuning Dan Biru

KAMIS, 25 JUNI 2020 , 21:07:00

Wartawan <i>RMOLBanten</i> Melepas Lajang

Wartawan RMOLBanten Melepas Lajang

SABTU, 08 AGUSTUS 2020 , 14:55:00

Rekomendasi Gerindra Untuk Muhamad-Rahayu Saraswati

The ads will close in 10 Seconds