Diakui Tidak Efektif Diagnosa Corona, Dinkes Banten Kok Anggarkan Rp 25 M Buat Beli Rapid Test?

Kesehatan  KAMIS, 25 JUNI 2020 , 08:54:00 WIB | LAPORAN: RIZKI AKBAR GUSTAMAN

Diakui Tidak Efektif Diagnosa Corona, Dinkes Banten Kok Anggarkan Rp 25 M Buat Beli Rapid Test?

Ilustrasi rapid test drive thru/Net

RMOLBANTEN. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten tengha menyiapkan anggaran untuk pembelian alat rapid test. Total dana yang dibutuhkan adalah untuk pembelian rapid test ini Rp 25.993.268.000.

Hal itu disampaikan Jurubicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti, Rabu (24/6).

"Saat ini, sisa alat rapid test ada sekitar 35.000 ribu dimana sisa rapid test tersebut diperuntukan untuk ponpes sebanyak 20.000 dan Drive Thru di Lebak dan Kabupaten Pandeglang," katanya.

Dari sisi diagnostik Rapid test tidak efektif karena rapid Test bukan sebagai diagnosa pasti orang terpapar Covid-19 atau tidak karena untuk diagnosa pasti dilakukan swab.

Namun, kata Ati, dalam Pandemi Covid-19 ini, dalam rangka mempercepat pemutusan rantai penularan Covid-19, diperlukan penjaringan atau screening massal sebagai langkah awal menentukan siapa saja yang menjadi prioritas orang yang harus di Swab.  

"Karena mengingat pemeriksaan Swab dilakukan tenaga khusus yang terbatas, waktu pemeriksaan dengan hasil yang cukup lama atau memakan waktu," katanya.

Selain itu juga ketersediaan Lab rujukan Covid-19 hanya sedikit, reagen dan bahan habis pakai yang dibutuhkan membelinya harus indent, biaya yang dikeluarkan besar.
 
"Sehingga rapid test masih terus digunakan dan efektif di masa pandemi ini," ujarnya.

Ati juga berpesan untuk ibu yang akan melahirkan dan pasien yang akan dilakukan tindakan, terlebih dahulu dilakukan Rapid Test. Hal ini dilakukan dalam rangka menjaga keamanan dan keselamatan pasien dan petugas kesehatan.

"Untuk biaya rapid test bagi RS yang tidak memberlakukan gratis berkisar antara Rp 350 rb sampai Rp 500 rb," tegasnya.

Untuk rata-rata biaya pasien Covid-19 di Rumah Sakit berkisar Rp 10 juta sampai Rp 25 juta perhari bergantung pada jenis ruang perawatannya apakah di ICU atau di ruang isolasi perawatan biasa.

"Pasien Covid-19 yang dirawat di RS di seluruh indonesia dibiayai oleh Kemenkes. Untuk perawatannya rata-rata 14 sampai 30 hari bergantung kepada kondisi klinis dan penyakit penyerta," ucap Ati.

"Untuk biaya penangan jenazah Covid-19 di RS dari mulai pemulasaraan, peti jenazah sampai di antar ke tempat penguburan berkisar antara tiga sampai empat juta rupiah," demikian Ati. [dzk]

Komentar Pembaca
Batik Kuning Dan Biru

Batik Kuning Dan Biru

KAMIS, 25 JUNI 2020 , 21:07:00

Rapid Test BIN Di Tangsel

Rapid Test BIN Di Tangsel

KAMIS, 14 MEI 2020 , 13:06:00

Novel Baswedan dan Para Aktivis

Novel Baswedan dan Para Aktivis

MINGGU, 14 JUNI 2020 , 20:04:00

The ads will close in 10 Seconds