Direktur LP3ES: Kemarahan Jokowi Dalam Perspektif Jawa Dapat Dibaca Sebagai Tanda Kekuasaan Melemah

Politik  KAMIS, 09 JULI 2020 , 03:05:00 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIANTO

Direktur LP3ES: Kemarahan Jokowi Dalam Perspektif Jawa Dapat Dibaca Sebagai Tanda Kekuasaan Melemah

Foto: Repro

RMOLBANTEN. Dalam sebuah diskusi daring pidato marah-marah Presiden Joko Widodo di hadapan para menterinya, dalam Sidang Kabinet Paripurna 18 Juli lalu, masih menarik untuk dibahas.

Pidato Presiden Jokowi itu menuai pro kontra publik hingga beberapa minggu belakangan ini.

Director Center for Media and Democracy LP3ES Wijayanto menyampaikan pandanganya terkait kemarahan Jokowi melalui kacamata budaya Jawa.

Wijayanto mengurai, kemarahan seorang Jokowi yang notabene orang asli Jawa Solo adalah suatu hal yang di luar kebiasaan budaya Jawa.

"Jadi ketika Presiden Jokowi menampakkan secara terang-terangan kemarahan yang luar biasa, dengan mimik muka, kata-katanya, maka ini sebenarnya suatu hal yang luar biasa, yang tidak cocok dengan prinsip (budaya Jawa) ini sebenarnya," ujar Wijayanto, dalam diskusi daring dengan tema "Memaknai Kemarahan Jokowi: Analisa Big Data dan Budaya Politik Senin (6/7).

Menurut Wijayanto, seyogyanya seorang Jawa tulen seperti Jokowi cukup bersikap lemah lembut dalam menegur para menterinya yang tidak becus bekerja menangani pandemik virus corona baru (Covid-19).

Dalam prinsip Jawa lanjut Wijayanto, terdapat situasi ideal yang diharapkan muncul dalam setiap hubungan sosial, yaitu rukun.

Rukun adalah perasaan yang dalam keadaan harmonis, tenang, damai, saling membantu untuk satu tujuan yang sama. Bukan menciptakan pertengkaran atau perselisihan dalam suatu kehidupan sosial.

Dengan melihat sikap Jokowi yang marah-marah, dan disiratkan secara luas ke publik, maka tidak lain dan tidak bukan justru malah menunjukkan makna sebenarnya dari kondisi pemerintahan saat ini.

"Dalam perspektif budaya politik Jawa, kemarahan Presiden Jokowi yang ditampakkan secara terbuka di depan publik dapat dibaca sebagai pertanda semakin melemahnya kekuasaan politiknya," ucapnya.

"Karena kalau dia masih kuat, maka dia tidak akan bereaksi seperti itu, dia cukup tersenyum kepada menterinya yang dia nilai enggak bagus kinerjanya. Lalu dengan baik-baik mengatakan, maaf anda kinerjanya buruk, saya butuh reshuffle”,” pungkas Wijayanto. [dzk]



Komentar Pembaca
Batik Kuning Dan Biru

Batik Kuning Dan Biru

KAMIS, 25 JUNI 2020 , 21:07:00

Novel Baswedan dan Para Aktivis

Novel Baswedan dan Para Aktivis

MINGGU, 14 JUNI 2020 , 20:04:00

Rekomendasi Gerindra Untuk Muhamad-Rahayu Saraswati

The ads will close in 10 Seconds