Adhie Massardi: Kapan Mau Nangkap Harun Masiku, Honggo Wendratno, DLL

Politik  RABU, 05 AGUSTUS 2020 , 01:30:00 WIB | LAPORAN: FIRMANSYAH

Adhie Massardi: Kapan Mau Nangkap Harun Masiku, Honggo Wendratno, DLL

Kordinator GIB, Adhie Massardi/Net

RMOLBANTEN. Hukum harus tegak berdiri dan tidak boleh mengikuti keinginan atau perintah dari rezim politik yang berkuasa. Pendapat itu disampaikan pakar hukum tata nega Refly terkait perbandingan perlakuan terhadap pengejaran Djoko Tjandra dan Harun Masiku.

Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi meyentil situasi hukum yang ada di Indonesia. Ia sepakat denga Refly idealnya hukum harus tegak berdiri tidak ikut kepentingan rezim.

Mantan jubir era Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) itu lantas membuat kiasan, keadilan sosial  bagi seluruh kriminal Indonesia perlu juga ditegakkan. Hal itu berkaca pada kasus JokoCan (Djoko Tjandra) yang gampang masuk, gampang keluar tapi juga gampang ditangkap.

"Untuk ini, persoalannya kan "tergantung kemauan" saja," kata Adhie Massardi dalam twitter pribadinya sesaat lalu.

Sama dengan kasus Djoko Tjandra yang gampang keluar dan gampang ditangkap, Adhie Massardi lantas bertanya.

"Kapan mau nangkap Harun Masiku & Honggo W TPPI, dll?" ujar Adhie.

Sebelumnya, pakar hukum tata negara Refly Harun menyampaikan terkait perbandingan perlakuan terhadap pengejaran Djoko Tjandra dan Harun Masiku.

Djoko Tjandra, kata Refly, memang secara nominal maka korupsinya berkategori besar. Tetapi yang dilakukan Masiku meski hanya bernilai Rp 500 juta dipandang lebih berbahaya lantaran dia menyuap penyelenggara pemilu.

Penyelenggaraan pemilu membutuhkan dana triliunan. Selain itu, jika penyelenggara yang harusnya menjadi juri bisa disuap maka proses demokrasi bisa menghasilkan pemimpin tak berintegritas.

"Integritas pemimpin secara keseluruhan, berpikir bukan hanya Harun Masiku. Penyelenggara pemilu yang tak berintegritas bermasalah kerugian trilunan, yang akhirnya penyelenggara pemilu bisa disuap. Fenomena ini bisa terjadi sebelumnya,” ujar Refly kepada wartawan, Selasa (4/8).

"Djoko Tjandra gak ada apa-apanya. Ketika Harun Masiku menyuap lebih bahaya karena terkait integritas, dari Harun Masiku semua terkuak,” imbuhnya.

Menurut Refly hebohnya penangkapan Djoko Tjandra lantaran terpidana kasus hak tagih Bank Bali itu dipandang sebagai musuh bersama.

Sementara Masiku yang awalnya merupakan orang biasa dinilainya sontak menjadi orang luar biasa karena adanya konflik kepentingan.

Refly menggarisbawahi fakta Masiku sebagai caleg PDIP harus kembali dianalisa apakah lambatnya penangkapan karena partai ini tengah menjadi penguasa di Indonesia.

"Satu melindungi (Masiku), satu pihak ingin menangkap. Caleg PDIP adalah fakta, terkait PDIP ini analisis. Jalau hanya Harun Masiku sendiri harusnya ditangkap, tapi gak tau kalau ada kasus apa di belakang ini, bahkan gawat kalau memang ada kabar dia meninggal,” jelasnya.

"Kalau hukum ikutin rezim akan tumpul ke atas. Makanya sebagai penegak hukum jangan ikutin rezim tapi ikutin negara,” tukas Refly. [dzk]  

Komentar Pembaca
Wartawan <i>RMOLBanten</i> Melepas Lajang

Wartawan RMOLBanten Melepas Lajang

SABTU, 08 AGUSTUS 2020 , 14:55:00

Kejaksaan Agung Kebakaran

Kejaksaan Agung Kebakaran

SABTU, 22 AGUSTUS 2020 , 20:07:00

Simulasi Pilkada Kota Tangsel

Simulasi Pilkada Kota Tangsel

SABTU, 12 SEPTEMBER 2020 , 20:00:00

The ads will close in 10 Seconds