Menangis Di Antara Puing, Gubernur Beirut Sebut Ledakan Seperti Di Hirosima Jepang

Internasional  RABU, 05 AGUSTUS 2020 , 11:45:00 WIB | LAPORAN: RMOL NETWORK

Menangis Di Antara Puing, Gubernur Beirut Sebut Ledakan Seperti Di Hirosima Jepang

Kota Beirut Lebanon porak poranda pasca ledakan/Net

RMOLBANTEN. Tepat pada pukul 18.02 Waktu setempat, terjadi ledakan yang sangat besar di Port of Beirut.

Tingkat kehancuran dan kerusakan properti terjadi dalam radius beberapa kilometer dari pusat ledakan. Kerusakan yang sangat parah dan memakan puluhan korban tewas dan ribuan korban luka.

Suasana getir tak terelakan, orang-orang yang terluka berlumuran darah dan masih sanggup merangkak, berusaha keluar dari reruntuhan, berjalan di jalanan, tidak yakin apa yang harus dilakukan atau ke mana harus pergi.

Sementara suara sirene ambulans bergema di jalan-jalan yang tercekik bersahutan dengan jeritan dan tangis warga.

Rumah-rumah terbakar dan hancur. Pecahan kaca bercampur puing dan asap, debu, pohon yang tumbang, anak-anak yang ketakutan, semua menyatu.

Gubernur Beirut Marwan Abboud menangis di tempat ledakan. Abboud mengatakan sedikitnya 10 petugas pemadam kebakaran yang dikirim untuk mengatasi kebakaran pertama menghilang tanpa jejak.

"Saya belum menyaksikan begitu banyak kehancuran dalam hidup saya," katanya, dikutip dari TN, Rabu (5/8).

"Ini mirip dengan apa yang terjadi di Jepang, di Hiroshima, dan Nagasaki. Ini adalah bencana nasional," katanya dalam kesedihannya yang sangat dalam.

Bencana ledakan seperti ini bisa terjadi kapan saja dan menyerang negara mana saja, tetapi saat ini Lebanon tengah bergulat dengan krisis ekonomi terburuk dalam sejarahnya.

Belum lagi krisis sampah yang semakin meningkat, meningkatnya pengangguran dan kemiskinan, dan -di atas segalanya- peningkatan kasus Covid-19.

Ini benar-benar sebuah kehancuran bagi Lebanon, negara yang selalu dengan sabar menghadapi semuanya, dan Pemerintah sudah berjuang untuk menangani berbagai krisis yang sedang dihadapi.

Ketika langit menjadi gelap malam, asap hitam masih naik dari pelabuhan Beirut ketika helikopter menjatuhkan air dari atas dan petugas pemadam kebakaran di tanah menyemprot situs dengan selang.

Para pemilik toko duduk di seberangnya, memandang bisnis mereka yang hancur. Lainnya menyisir puing-puing mata pencaharian mereka.

Faris, seorang pria berusia 60-an, sudah mulai membersihkan tokonya yang hancur.

Meskipun kehancuran di sekelilingnya, ia mempertahankan sikap tenangnya, di mana orang Lebanon menjadi terkenal dengan ketenangannya dalam menghadapi setiap krisis.

"Kami sudah terbiasa dengan ini," kata Faris miris Ini yang ke 10 kalinya kita dibom. Itu dimulai dengan Jerman pada tahun 1948." [dzk]



Komentar Pembaca
Koalisi Partai Dukungan Muhyiddin Yassin Menang Di Sabah, Akankah Pemilu Malaysia Dipercepat?
Zhong Vs Zong

Zhong Vs Zong

MINGGU, 27 SEPTEMBER 2020

Mobil Terbang Buatan Turki Siap Mengudara, Semua Orang Bisa Jadi Pilot
Thailand Dilanda Gelombang Protes Perubahan Sistem Negara Dari Kerajaan Menjadi Republik
Grand Jury

Grand Jury

JUM'AT, 25 SEPTEMBER 2020

Pengadilan Di Jerman Izinkan Azan Berkumandang Lagi
Wartawan <i>RMOLBanten</i> Melepas Lajang

Wartawan RMOLBanten Melepas Lajang

SABTU, 08 AGUSTUS 2020 , 14:55:00

Kejaksaan Agung Kebakaran

Kejaksaan Agung Kebakaran

SABTU, 22 AGUSTUS 2020 , 20:07:00

Simulasi Pilkada Kota Tangsel

Simulasi Pilkada Kota Tangsel

SABTU, 12 SEPTEMBER 2020 , 20:00:00

The ads will close in 10 Seconds