Penyelundupan Bahan Baku Ganja Sintetis Dari China Digagalkan Bea Cukai

Hukum  RABU, 16 SEPTEMBER 2020 , 22:42:00 WIB | LAPORAN: MAYA AUL

Penyelundupan Bahan Baku Ganja Sintetis Dari China Digagalkan Bea Cukai

Penyelundupan ganja sintetis/AUL

RMOLBANTEN. Petugas Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta menggagalkan penyelundupan serbuk bahan baku narkotika jenis ganja sintetis yang dikirim melalui jasa pengiriman barang FedEx. Paket tersebut diketahui dikirim dari China.

Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta, Finari Manan mengatakan, paket tersebut diselundupkan dengan modus dimasukkan ke dalam bungkus kosmetik.

"Paket tersebut dibungkus dengan menggunakan aluminium foil dan diisi ke dalam tempat krim wajah," ujar Finari, Rabu (16/9).

Finari menuturkan, petugas yang mencurigai paket tersebut lantas melakukan pemeriksaan dan ditemukan terdapat bahan baku ganja sintetis yakni 5-Fluoro-MDMB-PICA dengan berat 26.9 gram.

"Lalu kita berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan lanjutan untuk mendapatkan pemilik paket tersebut," kata Finari.

Kanit Subdit 3 DITTIPID Narkoba Mabes Polri AKBP Dodi Suryadin menerangkan pihaknya langsung mengamankan penerima paket yaitu NA yang beralamat di Bandung, Jawa Barat. Berdasarkan keterangan dari NA, pelaku membeli barang tersebut untuk diracik dan dijual kembali bersama dengan ke 4 orang temannya.

"Rumah tersebut digunakan sebagai tempat untuk meracik kembali ganja sintetis tersebut. Tersangka ada lima orang, mereka berteman sejak kecil dan saling mengenal," ujar Dodi.

Dodi juga menjelaskan barang hasil racikan tersebut dipasarkan lewat media sosial. Para pelaku juga memiliki tugas masing-masing dalam proses peracikan, satu pelaku bertugas memesan barang baku dari China, sementara 4 lainnya menerima barang dari China, mengedarkan barang hasil racikan, dan 1 orang mengendalikan seluruh kegiatan peracikan.

"Barang yang mereka buat bisa habis dalam satu minggu sehingga keuntungan yang didapat juga besar," lanjut Dodi.

Para pelaku sebelumnya diketahui sebagai pemakai narkoba, lalu berinisiatif untuk meracik dan membuat sendiri untuk meraup keuntungan yang besar. Dari bahan baku seberat puluhan gram itu, mereka mampu memproduksi hingga 1 kilogram narkoba dan dijual dengan harga Rp 300 ribu per 5 gram.

"Tergiur dengan untung besar, mereka menjual per 5 gram dengan harga Rp 300ribu dan dalam waktu seminggu sudah habis," tutur Dodi.

Pelaku pun dikenakan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana mati, seumur hidup, atau pidana paling lama 20 tahun.

"Dan denda maksimum Rp. 10 miliar," pungkasnya. [ars]



Komentar Pembaca
Wartawan <i>RMOLBanten</i> Melepas Lajang

Wartawan RMOLBanten Melepas Lajang

SABTU, 08 AGUSTUS 2020 , 14:55:00

Kejaksaan Agung Kebakaran

Kejaksaan Agung Kebakaran

SABTU, 22 AGUSTUS 2020 , 20:07:00

Simulasi Pilkada Kota Tangsel

Simulasi Pilkada Kota Tangsel

SABTU, 12 SEPTEMBER 2020 , 20:00:00

The ads will close in 10 Seconds