Dua Periode Jadi Pemimpin, TRUTH: Airin-Benyamin Gagal Sejahterakan Masyarakat Tangsel

Kota Tangerang Selatan  RABU, 23 SEPTEMBER 2020 , 14:36:00 WIB | LAPORAN: LANI PAHRUDIN

Dua Periode Jadi Pemimpin, TRUTH: Airin-Benyamin Gagal Sejahterakan Masyarakat Tangsel

Nuraini (42), warga Tangsel yang tinggal di gubug reot/LAN

RMOLBANTEN. Potret Tangsel selama dua periode kepemimpinan Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany dan Wakil Walikota Benyamin Davnie masih menyisahkan pekerjaan rumah yang begitu banyak. Baca: Miris, Warga Tangsel Tinggal Di Rumah Reot Ditemani Tikus

Salah satunya, mengenai kesejahteraan masyarakat yang selama ini masih menjadi catatan hitam Airin-Benyamin.

Seperti, Nuraini (42) ibu tiga anak warga Kampung Jaletreng, Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong, Tangsel harus tinggal di rumah sangat tidak layak, yang sudah ditempatinya selama lima tahun.

Disisi lain tidak jauh rumah Dinas Walikota Tangsel yang begitu mewah yang telah menelan anggaran Rp 9 Miliyar seolah congkak berdiri tidak bergeming.

Melihat adanya ketimpangan tersebut, Wakil Koordinatir TRUTH, Jupry Nugroho mengatakan, sebagai masyarakat mempertanyakan bagaimana Pemkot Tangsel melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimta) memetakan persoalan Rumah Tak Layak Huni (RUTLH).

"Karena jika program tersebut sudah berjalan sejak tahun sebelumnya, bagaimana mungkin Ibu Nuraini tidak masuk dalam penerima manfaat sedangkan dirinya ber-KTP Tangsel, lalu timbul pertanyaan Lurah dan Camat sudahkah berkerja untuk berkordinasi atau mungkin tidak tau jika ada warganya harus tidur digubuk reot," terang Jupry dalam keterangan tertulisnya, Rabu (23/9).

Lanjut Jupry, anggaran Rp 22 Miliyar untuk Rumah Tak Layak Huni (RUTLH) di tahun 2020 ini, jika memang sudah ada pemetaan sebelumnya lalu bagaimana proses pelaksanaannya.

"Cerita Ibu Nuraini adalah potret muram Pemkot Tangsel dalam mensejahterakan masyarakatnya, 10 tahun sudah Walikota Airin Rachmi Diany dan Wakil Walikota Benyamin Davnie menjabat sudah seharusnya tidak ada lagi cerita seperti Ibu Nuraini yang harus berbagi tidur dengan tikus atau warga yang harus tidur dikandang bebek seperti yang terjadi di Kademangan beberapa waktu yang lalu," paparnya.

Untuk itu, pihaknya bersama masyarakat Tangsel ingin adanya keterbukaan informasi anggaran tentang RUTLH yang selama ini sudah berjalan serta bagaimana hasil dan evaluasi pelaksanaannya.

"Sudah seharusnya Pemkot Tangsel melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimta) mempublikasi terkait anggaran RTLH dan sudah sejauh mana evaluasi dan monitoring yang sudah dilakukan  serta proses laporan pemetaan RTLH yang sudah dilakukan agar dikemudian hari," jelas Jupry.

Jupry berharap, anggaran sebesar Rp 22 Miliar untuk RUTLH jangan sampai dijadikan proyek sampingan untuk mendapat keuntungan.

"Kita sebagai masyarakat dapat berpartisipasi serta tidak ada lagi cerita seperti Ibu Nuraini, jangan sampai program seperti RTLH dijadikan bancakan segelintir orang untuk mendapatkan keuntungan," tutupnya. [ars]

Komentar Pembaca
Simulasi Pilkada Kota Tangsel

Simulasi Pilkada Kota Tangsel

SABTU, 12 SEPTEMBER 2020 , 20:00:00

Pos Terpadu Covid-19

Pos Terpadu Covid-19

KAMIS, 17 SEPTEMBER 2020 , 16:08:00

Sabu Di Blender

Sabu Di Blender

SELASA, 22 SEPTEMBER 2020 , 13:16:00

The ads will close in 10 Seconds