Pelecehan Surat Kabar Dengan "Kartun Erdogan", Turki Ambil Tindakan Hukum

Internasional  KAMIS, 29 OKTOBER 2020 , 07:26:00 WIB | LAPORAN: RMOL NETWORK

Pelecehan Surat Kabar Dengan

Presiden Recep Tayyip Erdoğan/Net

RMOLBANTEN Tindakan "hukum dan diplomatik" akan dilakuka pemerintah Turki terhadap surat kabar satir Prancis Charlie Hebdo setelah menerbitkan karikatur Presiden Recep Tayyip Erdoğan di halaman depan edisi terbarunya.

Karikatur Erdogan menambah bahan bakar baru atas pertengkaran antara Turki dan Prancis yang telah memanas setelah Presiden Emmanuel Macron berjanji akan mengambil sikap yang lebih keras terhadap Islam radikal dan membebaskan kartun Nabi Muhammad.

Sekularisme negara adalah pusat identitas nasional Prancis.

Membatasi kebebasan berekspresi untuk melindungi perasaan satu komunitas tertentu merusak persatuan, kata negara itu.

"Kami meyakinkan orang-orang kami bahwa tindakan hukum dan diplomatik yang diperlukan akan diambil terhadap kartun ini," kata kepresidenan Turki dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Rabu pagi waktu setempat, seperti dikutip dari AFP, Rabu (28/10).

Kantor kejaksaan Ankara meluncurkan ‘penyelidikan resmi’ terhadap publikasi tersebut, lapor kantor berita Anadolu.

"Kami mengutuk keras publikasi tentang Presiden kami di majalah Prancis yang tidak menghormati kepercayaan, kesucian, dan nilai apa pun,” tulis juru bicara kepresidenan Ibrahim Kalin di Twitter.

"Mereka hanya menunjukkan vulgar dan amoralitas mereka sendiri. Serangan terhadap hak pribadi bukanlah humor dan kebebasan berekspresi,” katanya.

Kartun di sampul Charlie Hebdo  menunjukkan Erdogan duduk dengan kaus putih,  memegang minuman kaleng, sambil mengangkat gaun wanita berkerudung .

Wakil Presien Turki Fuat Oktay juga mengecam hal yang sama.

Di akun Twitter pribadinya Oktay menyerukan kepada komunitas internasional untuk menentang publikasi yang tidak bermoral dari Prancis.

"Saya mengutuk publikasi tidak bermoral Prancis yang tidak dapat diperbaiki ini tentang presiden kami. Saya menyerukan kepada komunitas internasional yang bermoral dan teliti untuk berbicara menentang aib ini,” tulis Oktay.

Ketegangan antara kedua negara meningkat selama akhir pekan ketika Erdogan mengatakan Presiden Prancis Emmanuel Macron membutuhkan pemeriksaan kesehatan mental, tindakan yang mendorong Prancis menarik duta besarnya dari Ankara.[dzk]



Komentar Pembaca
Tutup Jalan Jenderal Sudirman

Tutup Jalan Jenderal Sudirman

RABU, 07 OKTOBER 2020 , 00:55:00

UU ITE Bukan Membunuh Suara Kritis

UU ITE Bukan Membunuh Suara Kritis

RABU, 28 OKTOBER 2020 , 22:12:00

Sertijab Kepala BPKP Banten

Sertijab Kepala BPKP Banten

KAMIS, 05 NOVEMBER 2020 , 11:40:00

The ads will close in 10 Seconds