3M dan 3T "Vaksin" Covid-19 Paling Ampuh

Kesehatan  JUM'AT, 20 NOVEMBER 2020 , 14:33:00 WIB | LAPORAN: TANGGUH

3M dan 3T

3M dan 3 T/Net

RMOLBANTEN. Penerapan 3T (Tracing, Testing, dan Treatment) sama pentingnya dengan penerapan perilaku 3M (Menggunakan masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak). Dengan harapan praktek 3M dan 3T dapat memutus mata rantai penularan Covid-19.

Hanya saja, penerapan praktek 3T masih perlu ditingkatkan pemahamannya di masyarakat. Mengingat masyarakat lebih mengenal 3M karena kampanyenya sudah sejak lama dan gencar.

"3M banyak membicarakan tentang peran kita sebagai individu. Sementara 3T berbicara tentang bagaimana kita memberikan notifikasi atau pemberitahuan pada orang di sekitar kita untuk waspada. Jadi memang ada satu proses yang tidak hanya melibatkan individu, tapi juga orang yang lebih banyak," kata penasihat Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menkomarinvest), Monica Nirmala dalam siaran persnya, Jumat (20/11).

Monica menjelaskan, pemeriksaan dini menjadi penting agar bisa mendapatkan perawatan dengan cepat. Dengan mengetahui lebih cepat, kita bisa menghindari potensi penularan ke orang lain.

Sedangkan pelacakan, dilakukan pada kontak-kontak terdekat pasien positif COVID-19. Setelah diidentifikasi oleh petugas kesehatan, kontak erat pasien harus melakukan isolasi atau mendapatkan perawatan lebih lanjut. "Seandainya ketika dilacak si kontak erat menunjukkan gejala, maka perlu dilakukan tes, kembali ke praktek pertama (testing)," tutur Monica.

Kemudian, tahapan perawatan dilakukan apabila seseorang positif Covid-19. Jika tidak ada ditemukan gejala, maka orang tersebut harus melakukan isolasi mandiri di fasilitas anjuran pemerintah. Sebaliknya, jika orang tersebut menunjukkan gejala, maka para petugas kesehatan akan memberikan perawatan di rumah sakit anjuran pemerintah.

Monica mencatat, ada tiga indikator yang menjadi standarisasi pemeriksaan Covid-19. Yakni, jumlah spesimen, kecepatan hasil pemeriksaan, dan rasio positif. "Angka testing di Indonesia rata-rata mencapai 24-34 ribu orang per hari," jelas Monica.

Saat ini, laboratorium milik Indonesia berkapasitas tes hampir 80 ribu orang. Sesuai standar WHO. Kendalanya justru pada individu. Ketika seseorang menunjukkan gejala Covid-19, kontak eratnya takut untuk memeriksakan diri (testing).

"Setiap orang harus mengambil peranan untuk memutus rantai dengan berpartisipasi kooperatif menerapkan 3M dan 3T. Jadi, 3M dan 3T sama pentingnya dan satu kesatuan. Kita berupaya memutus mata rantai penularan Covid-19 dengan kita melindungi diri dan melindungi sesama," imbuh Monica.

Sementara itu, Managing Director IPSOS Indonesia, Soeprapto Tan mengemukakan masih ada 29 persen masyarakat yang tidak paham mengenai 3T. Sebaliknya, 99 persen masyarakat mengaku paham terhadap 3M. Artinya, masih ada masyarakat yang menganggap perilaku 3M dan 3T adalah dua hal yang terpisah. Padahal kenyataannya, justru kedua hal tersebut diakuinya merupakan satu paket dalam memutus mata rantai penularan COVID-19.

"Kampanye 3M di awal-awal sangat kencang sekali dan terus berjalan sampai sekarang. Jika 3M tidak berjalan, maka 3T pasti akan lebih parah. Sekarang 3M sudah berjalan, saatnya kita mulai membicarakan 3T," jelas Soeprapto.

Selanjutnya Soeprapto mengemukakan, salah satu faktor yang menghambat kampanye 3T adalah ketakutan atas stigma masyarakat. Pemerintah perlu menhimbau masyarakat agar tidak mengucilkan pasien positif Covid-19. Sebaliknya, perlu dukungan dan keprihatinan agar stigma negatif di mata publik bisa menghilang.

Menurut Monica ada beberapa strategi yang dilaksanakan pemerintah untuk memperkuat upaya perubahan perilaku di masyarakat. Yakni, kampanye 3M. Sedangkan 3T dengan melakukan deteksi awal penyebaran Covid-19 dengan testing dan tracing yang tepat sasaran. Sementara untuk treatment pemerintah memperkuat manajemen perawatan pada pasien Covid-19.

Meskipun vaksin Covid-19 nantinya sudah ditemukan dan bisa didistribusikan, perilaku 3M dan 3T harus tetap dijalankan. Artinya, jika misalkan vaksin baru tersedia Mei atau Juni (2021), kebiasan terhadap 3M dan 3T harus tetap berjalan sampai pemerintah benar-benar memberikan informasi bahwa Covid-19 sudah tidak ada.

"Saat ini 3M masih satu-satunya cara 'vaksin' paling ampuh. Jadi kita harus konsisten dan jangan lengah untuk melakukan 3M. Bersamaan dengan itu kita semua serta masyarakat harus mendukung pelaksanaan 3T. Terutama dalam hal testing. Karena apabila masyarakat tidak mau melakukan testing, maka tracing tidak akan terjadi," tutup Soeprapto. [tsr]


Komentar Pembaca
Tutup Jalan Jenderal Sudirman

Tutup Jalan Jenderal Sudirman

RABU, 07 OKTOBER 2020 , 00:55:00

UU ITE Bukan Membunuh Suara Kritis

UU ITE Bukan Membunuh Suara Kritis

RABU, 28 OKTOBER 2020 , 22:12:00

Sertijab Kepala BPKP Banten

Sertijab Kepala BPKP Banten

KAMIS, 05 NOVEMBER 2020 , 11:40:00

The ads will close in 10 Seconds