Inovasi, Solusi Pandemi Covid-19

Ekbis  SABTU, 21 NOVEMBER 2020 , 23:36:00 WIB | LAPORAN: TANGGUH

Inovasi, Solusi Pandemi Covid-19

Ilustrasi Inovasi/Net

RMOLBANTEN. Inovasi yang dapat membantu Indonesia keluar dari kondisi ketidakpastian. Terutama saat mengahadapi pandemi Covid-19. Untuk itu, perlu sensitivitas yang tinggi dalam menemukan peluang yang tepat.

"Produk-produk solutif yang dihasilkan wirausahawan bukanlah sesuatu yang dihasilkan tiba-tiba, tapi dilakukan secara sistematis, dan memiliki tujuan untuk menyelesaikan masalah," kata Dr. Avanti Fontana, Dosen dan Fasilitator Strategi dan Manajemen Inovasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dalam siaran persnya, Sabtu (21/11).

Hal ini juga pernah disampaikan Fontana saat menjadi narasumber dialog produktif bertema "Berinovasi dan Optimis Meningkatkan Usaha di Masa Pandemi" yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) beberapa waktu lalu. Saat itu. Fontana juga membahas solusi inovasi dalam menghadapi pandemi Covid-19.

"Kalau bicara pandemi, tentu tujuannya bagaimana mengatasi pandemi dan tujuan yang lebih besar adalah menggapai kesejahteraan baik dalam jangka dekat maupun jangka panjang," paparnya.

Avanti menambahkan, pemerintah turut berperan dalam menciptakan kondisi ekosistem yang kondusif agar inovasi tersebut berjalan dengan baik. Pada tahun 2017-2020, lanjut Avanti, tingkat inovasi Indonesia cukup stabil di angka 30 per 100. Mengacu pada data Index Inovasi Global yang diterbitkan oleh INSEAD bekerjasama dengan WIPO.

"Di tahun 2020, skor Indonesia 26 per 100. Di sini menunjukkan bahwa betapa besarnya peluang inovasi bisa tumbuh di Indonesia. Itu butuh regulasi yang kondusif," terang Avianti.

Adapun perihal dampaknya, inovasi yang berhasil tidak hanya berdampak ekonomi namun juga berdampak sosial yang luas. Seperti halnya yang dilakukan pemerintah saat ini adalah bentuk inovasi di bidang publik, untuk membangkitkan ekonomi nasional.
 
"Para inovator harus kritis dan peduli serta mau melakukan analisis kondisi. Terapkan empati kepedulian sosial dari hulu sampai hilir. Lalu turunkan dalam analisis kekuatan dan kelemahannya kemudian peluang dan tantangannya. Dari situ kemudian bisa digali apa masalah yang bisa disolusikan dan ditawarkan ke masyarakat. Negara juga memiliki peran dalam menjaga ekosistem ini tetap kondusif," demikian Avianti.

Terkait inovasi, juga diakui oleh Doddy Lukito, Chief (In Hospital) Business Officer dan Co Founder HaloDoc. Menurutnya, saat seseorang menemukan solusi pertama kali, mungkin itu tidak langsung tepat guna. "Kita pantau terus hasilnya seperti apa? Sambil kita terus beradaptasi untuk mencapai hasil yang kita harapkan. Dari situ kita terus berevolusi," terangnya.

Data internal HaloDoc, saat pandemi Covid-19 (Maret-Mei) transaksi telekonsultasi dengan dokter melalui platform HaloDoc meningkat enam kali lipat. Lalu terjadi juga peningkatan sebesar 300 persen terhadap transaksi pembelian obat melalui aplikasi. Kemudian jumlah pengguna aktif HaloDoc sempat mencapai 20 juta per bulan. Semua ini berkat tersedianya layanan tes Covid-19 secara drive thru.

Peluang di lapangan ini perlu dilihat secara holistik. Inovasi biasanya tumbuh dalam kondisi lingkungan yang tidak nyaman. Dengan begitu para inovator ini merasa perlu mengintervensi kondisi tersebut, untuk mencapai kondisi yang lebih baik. Kegagalan justru terjadi bagi mereka yang tidak beradaptasi pada lingkungan.

"Memang, kita harus tahu apa sasaran atau pasar yang akan menerima solusi kita. Teknologi hanyalah salah satu faktor. Solusi tidak harus bersifat teknologi. Intinya bagaimana solusi tersebut dapat menjawab kebutuhan pengguna”, pungkas Doddy. [tsr]


Komentar Pembaca
Tutup Jalan Jenderal Sudirman

Tutup Jalan Jenderal Sudirman

RABU, 07 OKTOBER 2020 , 00:55:00

UU ITE Bukan Membunuh Suara Kritis

UU ITE Bukan Membunuh Suara Kritis

RABU, 28 OKTOBER 2020 , 22:12:00

Sertijab Kepala BPKP Banten

Sertijab Kepala BPKP Banten

KAMIS, 05 NOVEMBER 2020 , 11:40:00

The ads will close in 10 Seconds