Survei IPSOS: Masyarakat Indonesia Optimis Ekonomi Pulih

Ekbis  MINGGU, 22 NOVEMBER 2020 , 00:49:00 WIB | LAPORAN: TANGGUH

Survei IPSOS: Masyarakat Indonesia Optimis Ekonomi Pulih

Ilustrasi ekonomi/Net

RMOLBANTEN. Masyarakat Indonesia punya optimisme tinggi bahwa ekonomi bisa segera pulih dan pandemi Covid-19 bisa dilalui dengan baik. Sesuai hasil survei IPSOS, perusahaan riset pemasaran dan opini masyarakat global.

"Survei ini melibatkan masing-masing 500 responden dari enam negara di Asia Tenggara, Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam, Singapura, dan Thailand," kata Managing Director IPSOS Indonesia, Soeprapto Tan dalam keterangan persnya, Sabtu (21/11).

Menurut Soeprapto, ada tiga tujuan survei. Pertama, melihat di tahap mana setiap negara di Asia Tenggara bereaksi terhadap Covid-19. Kedua, melihat sejauh mana dampak Covid-19 terhadap penghasilan masyarakat dan bagaimana harapan mereka dalam enam bulan ke depan. Ketiga, bagaimana kegiatan perekonomian selama pandemi dan produk apa saja yang terdampak atau tidak terdampak pandemi.

Hal ini juga berkaitan dengan optimisme masyarakat di enam negara terhadap pengadaan vaksin Covid-19. Empat negara yakni, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam yakin vaksin bisa ditemukan dan didistribusikan pada semester I 2021. Sementara dua negara yakni, Singapura dan Thailand, berharap vaksin bisa ditemukan pada semester II 2021.

Dalam survei tersebut, terlihat bahwa Indonesia menjadi negara dengan optimisme ekonomi tertinggi dibanding lima negara lain. Soeprapto menyebutkan, survei sempat dilakukan dua kali, yakni Mei 2020 dan September 2020. Pada survei pertama, hampir semua negara menunjukkan respon yang sama yakni pendapatan masyarakat yang menurun akibat pandemi.

"Di awal kita melakukan studi di Mei 2020, Indonesia dibanding negara Asia Tenggara lain tidak jauh. Banyak masyarakat mengatakan, pendapatan mereka menurun. Jauh berkurang dibanding sebelum pandemi," terang Soeprapto.

Namun memasuki survei kedua, September 2020, Indonesia terlihat cukup unggul dibanding lima negara lain. Dari 500 responden yang disurvei di Indonesia, empat persen di antaranya mengaku sudah mengalami kenaikan pendapatan. "Sedangkan 21 persen responden mengaku pendapatannya sudah stabil alias tidak lagi berkurang," imbuh Soeprapto.

Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki optimisme terhadap pemulihan ekonomi yang lebih tinggi dibanding negara lain di ASEAN. Bahkan kalau dibanding Vietnam yang memiliki jumlah kasus Covid-19 lebih rendah, optimisme pemulihan ekonomi Indonesia lebih tinggi.

"Kenapa? Karena di Indonesia ini masyarakatnya merasa terbantu dengan sejumlah pendampingan yang dilakukan pemerintah," ujar Soeprapto.

Setelah ditelisik, optimisme yang ditunjukkan masyarakat Indonesia dilatari adanya bantuan pemerintah yang cukup masif. Catatan yang didapat dari survei menunjukkan, masyarakat Indonesia merasa terbantu dengan pendampingan atau insentif terhadap UMKM yang diberikan pemerintah.

Selain itu, masyarakat Indonesia juga optimis vaksin bisa segera ditemukan dan diproduksi. Penyaluran bantuan sosial, kartu Prakerja, dan stimulus untuk pengusaha juga dianggap punya andil besar dalam mendongkrak optimisme masyarakat Indonesia dalam menyongsong ekonomi yang lebih baik.

Sebanyak 60 persen responden Indonesia, ingin agar masalah Covid-19 dari sisi kesehatan benar-benar dibereskan terlebih dulu. Ini menunjukkan bahwa prioritas masyarakat Indonesia selama pandemi adalah aspek kesehatan. Sementara 16 persen responden Indonesia berharap bantuan sosial tetap dilanjutkan. Sisanya, ingin agar pemerintah memberi kepastian lapangan kerja dan mengontrol harga agar tidak naik.

"Beda sama Singapura yang lebih memprioritaskan pekerjaan. Ini juga sesuai dengan misinya KPCPEN bahwa prioritas di Indonesia adalah menangani pandemi dan secara bersamaan mengakselerasi ekonomi," urai Soeprapto.

Sementara itu, Editor Majalah SWA, Dede Suryadi juga sepakat bahwa masyarakat Indonesia memang menunjukkan optimisme bahwa ekonomi nasional segera pulih dalam enam bulan ke depan. Hal ini sejalan dengan kampanye yang selalu dilakukan pemerintah, salah satunya soal vaksin.

Dede pun mengutip hasil survei Inventure yang menunjukkan bahwa, kendati pendapatan masyarakat mengalami penurunan, namun optimisme cenderung semakin meningkat. Hasil riset terhadap 1.121 responden sepanjang Agustus-September 2020 juga mengungkapkan bahwa 47,2 persen responden optimistis pandemi Covid-19 akan berakhir di akhir 2020.

"Sedangkan 51,4 persen nyatakan kondisi keuangan mereka akan kembali normal di akhir 2021. Tahun depan akan kembali optimis," timpal Dede. [tsr]


Komentar Pembaca
Begini Strategi Pelaku Usaha Baja Ringan Bertahan Saat Pandemi Covid-19
Tutup Tahun, Pengembang Di Tangerang Sabet Tiga Penghargaan Sekaligus
Pecel Impor

Pecel Impor

SELASA, 24 NOVEMBER 2020

Inovasi, Solusi Pandemi Covid-19

Inovasi, Solusi Pandemi Covid-19

SABTU, 21 NOVEMBER 2020

Wirausahawan Mikro, Pejuang Ekonomi Garis Depan
Digitalisasi Dukung UMKM Maju

Digitalisasi Dukung UMKM Maju

JUM'AT, 20 NOVEMBER 2020

Tutup Jalan Jenderal Sudirman

Tutup Jalan Jenderal Sudirman

RABU, 07 OKTOBER 2020 , 00:55:00

UU ITE Bukan Membunuh Suara Kritis

UU ITE Bukan Membunuh Suara Kritis

RABU, 28 OKTOBER 2020 , 22:12:00

Sertijab Kepala BPKP Banten

Sertijab Kepala BPKP Banten

KAMIS, 05 NOVEMBER 2020 , 11:40:00

The ads will close in 10 Seconds