Dokter RSU Persahabatan: Masyarakat Disarankan Swab Test Covid-19 Jika Kehilangan Mencium Bau

Kesehatan  JUM'AT, 27 NOVEMBER 2020 , 19:06:00 WIB | LAPORAN: FIRMANSYAH

Dokter RSU Persahabatan: Masyarakat Disarankan Swab Test Covid-19 Jika Kehilangan Mencium Bau

dr. Deasi Anggraini dalam acara Bincang Sehat/RMOLID

RMOLBANTEN Kemampuan mencium bisa jadi menjadi diteksi dini salah satu ciri seseorang terinfeksi Covid-19. Jika kehilangan kemampuan mencium bau dimungkinkan baiknya masyarakat segera memeriksakan diri untuk selajutnya di test PCR.

Hal itu disampaikan dokter Spesialis THT Rumah Sakit Umum (RSU) Persahabatan Jakarta, dr. Deasi Anggraini alam acara Bincang Sehat virtual Kantor Berita Politik RMOL bertajuk "Kenali Covid-19 Lewat Gangguan Penciuman", Jumat (27/11).

Menurut Deasi, seseorang yang mengalami gangguan penciuman dalam dunia medis disebut Anosmia.

Munculnya gejala Anosmia dalam kondisi Covid-19 sekarang ini perlu diantisipasi masyarakat. Sebab, bukan tidak mungkin gejala tersebut adalah satu ciri seseorang terinfeksi virus asl Wuhan, China tersebut.

"Jika mengalami ganguan penciuman (Anosmia) secara sadar atau tidak secara tiba-tiba, kalau bisa lakukan tes PCR," paparnya.

Deasi menyarankan cara lain untuk masyarakat yang mengalami gejala Anosmia. Yaitu melakukan isolasi mandiri di rumah selama 7-14 hari, guna mencegah penlaran dan penyebaran Covid-19.

Selain itu, Deasi juga menyarankan masyarakat yang Anosmia untuk mendeteksi secara mandiri mengenai gejala Anosmia ini.

"Karena ada yang sering tidak menyadari dirinya Anosmia. Nah, di era pandemi ini bisa mendeteksi di rumah dnegan mencium minyak kayu putih, lemon, atau benda-benda lain yang punya aroma kuat," ungkapnya.

Jika diketahui ada gejala Anosmia, atau tidak bisa mencium aroma, maka langkah uatama yang bisa dilakukan masyarakat adalah mealkukan cuci hidung.

Deasi menceritakan pengalaman salah seorang mahasiswa kedokteran yang magang di RSUP Persahabatan. Di mana mahasiswa tersebut tidak memiliki gejala Covid-19 pada umumny, seperti sesak nafas, demam, batuk dan pilek.

Mahasiswa yang positif Covid-19 tersebut merasa kehilangan penciuman, dan akhirnya melakukan terapi cuci hidung untuk meminimalisir penularan.

"Ada mahasiswa kedokteran positif. Dia cuci hidung, dan alhamdulillah mencegah terjadinya penularan di keluarganya," demikian Deasi Anggraini. [dzk]



Komentar Pembaca
UU ITE Bukan Membunuh Suara Kritis

UU ITE Bukan Membunuh Suara Kritis

RABU, 28 OKTOBER 2020 , 22:12:00

Suasana Penyambutan Imam Besar FPI

Suasana Penyambutan Imam Besar FPI

SELASA, 10 NOVEMBER 2020 , 09:33:00

Sertijab Kepala BPKP Banten

Sertijab Kepala BPKP Banten

KAMIS, 05 NOVEMBER 2020 , 11:40:00

The ads will close in 10 Seconds