Cerita Sedih Wasit Sepak Bola Tak Ada Job Saat Pandemi Covid-19

Olahraga  MINGGU, 03 JANUARI 2021 , 19:06:00 WIB | LAPORAN: LANI PAHRUDIN

Cerita Sedih Wasit Sepak Bola Tak Ada <i>Job</i> Saat Pandemi Covid-19

Syaiful Anwar saat memimpin pertandingan bola/IST

RMOLBANTEN. Menjadi pengadil lapangan atau wasit dalam pertandingan sepak bola, tentu bukanlah hal yang mudah.

Butuh fisik, konsentrasi hingga kecekatan dalam mengeluarkan kebijakan saat memimpin jalannya pertandingan selama 2x45 menit. Terkadang, jalannya pertandingan semakin menarik dengan keputusan kontroversi yang dilakukan hakim lapangan hijau.

Kontroversi tersebut yang membuat penonton atau penikmat sepak bola, semakin menarik. Namun, situasi pandemi covid-19 merusak semuanya yang membuat adanya larangan pertandingan sepak bola baik level nasional maupun level amatir.

Seluruh lini terdampak, bukan saja pemain yang terkena imbas ganasnya covid-19. Sang pengadil lapangan dari level kota/kabupaten maupun nasional juga turut merasakan dampak panjang dari larangan sepak bola digelar selama pandemi covid-19.

Seperti wasit berlisensi C3 atau tingkat kota/kabupaten asal Tangsel yakni Syaiful Anwar yang terkena dampak dari covid-19.

Pria yang akrab disapa Ipul ini, selama pandemi covid-19 jarang menjadi pengadil lapangan di kompetisi sepak bola. Kini, hanya pertandingan persahabatan saja yang bisa ia pimpin, tentunya dengan bayaran yang diterima jauh sebelum adanya pandemi covid-19.

"Paling Trofeo (persahabatan) saja. Itu juga kan jarang, sedih kalau diceritain. Mainnya juga enggak tentu, tergantung yang manggil, dampak nya luar biasa," tutur Ipul kepada Kantor Berita RMOLBanten, Minggu (3/1).

"Selama pandemi dalem seminggu bisa dapat Rp 300 ribu lebih. Sebelum pandemi bisa dapat Rp 800 ribu dalam seminggu. Yang Rp 800 ribu aja masih kurang untuk kebutuhan keluarga, apalagi sekarang Rp 300 ribu seminggu," tambahnya.

Bahkan, kata Ipul, banyak wasit yang hanya mengandalkan penghasilan dari tugas memimpin pertandingan sepak bola. Meski tidak sesuai dengan bayarannya, terpaksa mereka terima, karena kebutuhan.

"Apalagi banyak wasit yang cuma mengandalkan dari tugas wasit, apalagi mereka punya keluarga. Bayarannya bervariatif tergantung yang ngadain, kadang sesuai kadang juga enggak sesuai. Tapi karena kebutuhan, jadi bayaran kecil tetap diterima, karena Liga dan tarkam terhenti akibat covid-19," papar Ipul yang juga anggota dari Komite Wasit Tangsel.

Untuk itu, Ipul berharap pandemi covid-19 segera berakhir, agar dirinya dan rekan sejawatnya bisa memimpin kembali pertandingan sepak bola level kota/kabupaten atau level tarkam.

"Karena memang sebelum pandemi , tournament bola dan trofeo banyak jadi pemasukan juga lumayan bisa 3 atau 4 kali pertandingan selama seminggu. Selama pandemi paling banyak 2 kali tugas. Semoga pandemi covid-19 bisa hilang dan aktivitas sepak bola bisa berjalan kembali," pungkasnya. [ars]


Komentar Pembaca
Tongkat Komando Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo
Titik Jatuh Sriwijaya Air

Titik Jatuh Sriwijaya Air

SENIN, 11 JANUARI 2021 , 01:01:00

Tanggap Darurat Banjir Kalsel

Tanggap Darurat Banjir Kalsel

SABTU, 16 JANUARI 2021 , 00:41:00

The ads will close in 10 Seconds