Kisah Asisten Rumah Tangga Dan Ojek Pribadi Korban Sriwijaya Air Tidak Jadi Terbang Ke Pontianak

Nusantara  SELASA, 12 JANUARI 2021 , 01:57:00 WIB | LAPORAN: CR-2

Kisah Asisten Rumah Tangga Dan Ojek Pribadi Korban Sriwijaya Air Tidak Jadi Terbang Ke Pontianak

Yayu, asisten rumah tangga (ART) kyang tidak jadi ikut terbang dengan masjikannya ke Pontianak/CR-2

RMOLBANTEN Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air meninggal cerita pilu dari Kota Serang. Satu keluarga yang akan mengunjungi suaminya di Pontianak menjadi korban. Baca: Niat Susul Suami Ke Pontianak, Satu Keluarga Dari Kota Serang Jadi Korban Jatuhnya Sriwijaya Air

Dibalik itu semua, asisten rumah tangga salah satu orang terdekat keluarga korban insiden kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ-861 asal Kota Serang memberanikan diri menolak ajakan keluarga koban untuk bertolak ke Pontianak, Kalimantan Barat karena alasan tidak dizinkan keluarga.

"Kalau saya ikut, pasti saya hancur, untung saya ngga mau, karena kan ada keluarga, anak, ponakan saya di rumah yang harus saya urus," ucap Yayu, asisten rumah tangga (ART) keluarga Korban Pesawat Sriwijaya di Kota Serang, Senin (11/1)

Sebelum menolak ajakan keluarga korban, dikatakan Yayu, dirinya sempat berfikir panjang karena ada rasa kasihan terhadap anak-anak korban yang masih berusia dini.

Yayu mengakui, dirinya meminta restu ke orang tunya untuk ikut bersama keluarga korban namun tidak diizinkan.

"Pas saya diajakin itu saya izin dulu kan ke orang tua, terus saya ngga boleh, ngga dizinin (orang tua)," katanya.

Selain Yayu, hal serupa dialami ojek pribadi keluarga Korban bernama Ocit, Ia menambahkan, dirinya pun sempat ditawarin untuk menemani keluarga korban ke Pontianak.

"Saya juga di ajak Ibu Arenta, tapi saya tolak," ujarnya.

Sebelum kepergian keluarga Korban, Ocid menceritakan, dirinya sempat bolak balik ke rumah sakit mengantarkan keluarga korban untuk menyelesaikan persyaratan bebas Covid-19.

"Sebelum berangkat (Bandara), saya nganter Ibu (Arneta) ke RS, saya kaget tumben-tumbenan anak Ibu paling kecil nangis-nangis, terus ngamuk-ngamuk aja, biasanya ngga. Saya bingung, bahkan Ibu pun cuek gitu ke saya," ungkap Ocid.

Dimata Ocid, keluarga korban memiliki kepribadian baik bahkan sering berbagi ketika memiliki harta lebih.

"Orangnya baik ke semua juga, saya sering diajak jalan-jalan terus kalau ngojek itu ongkosnya suka dilebihin," terang Ocid.

Ocid pun merasa kehilangan serta terus mendoakan agar keluarga korban ditempatkan di tempat yang terbaik disisi Tuhan.

"Semoga keluarga ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi-NYA," pungkas Ocid. [ars]




Komentar Pembaca
UU ITE Bukan Membunuh Suara Kritis

UU ITE Bukan Membunuh Suara Kritis

RABU, 28 OKTOBER 2020 , 22:12:00

Suasana Penyambutan Imam Besar FPI

Suasana Penyambutan Imam Besar FPI

SELASA, 10 NOVEMBER 2020 , 09:33:00

Sertijab Kepala BPKP Banten

Sertijab Kepala BPKP Banten

KAMIS, 05 NOVEMBER 2020 , 11:40:00

The ads will close in 10 Seconds