Aktivis Pendidikan Nilai Penghapusan UN Pengaruhi Psikologi Siswa

Pendidikan  JUM'AT, 19 FEBRUARI 2021 , 20:01:00 WIB | LAPORAN: JEJEN MUHAMAD

Aktivis Pendidikan Nilai Penghapusan UN Pengaruhi Psikologi Siswa

Ujian Nasional/Ilustrasi

RMOLBANTEN. Peniadaan Ujian Nasional (UN) 2021 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) masih menuai pro kontra.

Pasalnya, penghapusan tersebut dinilai harus sejalan dengan spirit pendidikan nasional apalagi UN atau Ujian Kesetaraan sudah mengakar di sekolah.

Aktivis Pendidikan Jaringan Sekolah untuk Semua (Jarsus) Banten Ade Yunus mengatakan, nilai positif dihapusnya UN tentu akan mempengaruhi beban siswa karena mereka akan terbebas dari belenggu ancaman yang biasanya standarisasi nilai kelulusan sekolah ditentukan oleh UN kini berganti assesmen guru.

"Penghapusan UN ini menunjukan bukti pemerintah percaya pada pendidik, bahwa proses asesmen dilakukan oleh Guru dan sekolah," ujar Ade saat dikonfirmasi via seluller, Jumat (19/2).

Selain nilai positif, Ade memandang dampak negatif atas penghapusan UN harus dipertimbangkan dengan matang oleh pemerintah, sebab siswa akan memasuki fase kebiasaan baru. Soalnya, pemicu semangat belajar mereka awalnya UN kini harus diperhitungkan beban baru terhadap psikologis siswa.

"Kan ada standarisasi dan penyeragaman, dimana UN itu sebagai acuan dasar di sekolah untuk menentukan nilai standar siswa. Kemampuan siswa dan memacu siswa untuk giat belajar, maka hal ini jelas mempengaruhi psikologis siswa," tegasnya.

Bagi Ade pemerintah harus mengeluarkan keputusan secara bijak, meski ada metode penggati UN seperti peserta didik akan ditentukan berdasarkan nilai raport tiap semester, nilai sikap minimal baik, dan mengikuti ujian yang diselenggarakan sekolah.

"Ujian sekolah bisa dilakukan dalam bentuk portofolio, evaluasi nilai rapor, nilai sikap dan prestasi siswa, penugasan, tes secara ruling atau daring, dan bentuk kegiatan penilaian lain yang ditentukan sekolah," terangnya.

Senada, Anggota DPRD Banten dari Fraksi PKS, Gembong R Sumedi menambahkan penghapudan UN ada nilai kelebihan dan kekurangan sehingga perlu dicari akar solusinya.

"Saya pikir kedua duanya ada sisi positif dan negatif. Pemerintah waktu dulu diberlakukan UN supaya ada standarisasi, supaya siswa yang lulus memang sudah memenuhi standar nasional," jelasnya.

Sejauh ini, jelas Gembong, sistem pendidikan di Jawa dan di luar Jawa memiliki perbedaan signifikan sehingga perlu pemerataan kualitas pendidikan.

"Kita tahu bahwa standar pengajaran yang ada di Pulau Jawa dengan yang diluar Jawa itu kan berbeda. Nah ini mungkin pertimbangan-pertimbangan itu yang memutuskan UN ini dihapuskan," pungkasnya. [ars]

Komentar Pembaca
Tongkat Komando Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo
Titik Jatuh Sriwijaya Air

Titik Jatuh Sriwijaya Air

SENIN, 11 JANUARI 2021 , 01:01:00

Tanggap Darurat Banjir Kalsel

Tanggap Darurat Banjir Kalsel

SABTU, 16 JANUARI 2021 , 00:41:00

The ads will close in 10 Seconds