Pengangguran Terbuka Dan Terselubung Sudah Hampir 30 Juta, Didik J Rachbini: Negara Harus Prihatin!

Politik  KAMIS, 22 APRIL 2021 , 00:03:00 WIB | LAPORAN: FIRMANSYAH

Pengangguran Terbuka Dan Terselubung Sudah Hampir 30 Juta, Didik J Rachbini: Negara Harus Prihatin!

Ekonom Senior Institute for Develompent of Economics and Finance (INDEF), Didik J Rachbini/Net

RMOLBANTEN Ekonom Senior Institute for Develompent of Economics and Finance (INDEF), Didik J Rachbini, melihat kondisi perekonomian dalam negeri selama setahun lebih masa pandemi Covid-19 masih dinilai belum membaik.

Jumlah pengangguran yang ada sekarang ini semakin naik jika dibandingkan masa sebelum pandemi Covid-19.

Didik mengurai, ada dua kategori pengangguran yang sekarang ini ada.

Pertama, pengangguran terbuka atau warga Indonesia yang sama sekali tidak bekerja, yang jumlah kenaikannya cukup pesat.

"Dengan adanya Covid ini pengangguran itu bertumbuh dari sekitar 7 juta menjadi 10 (juta) hampir 11 juta orang. Jadi 3-4 juta meningkat. Itu pengangguran terbuka," ujar Didik dalam wawancara di kanal Youtube Bravos Radio Indonesia pada Selasa (20/4).

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) ini menjelaskan kategori pengangguran yang kedua. Yaitu, yang dia sebut sebagai pengangguran terselubung.

Pengangguran terselubung ini dia definisikan sebagai orang-orang yang tidak sepenuhnya menganggur. Tapi masih bekerja beberapa jam dalam kurun waktu satu pekan lamanya.

"Orang-orang yang dalam survei satu minggu yang lalu (ditanya), 'kamu bekerja enggak?' Bekerja. 'Seminggu berapa jam?' Dua jam tiga jam. Itu pengangguran terselubung," ucap Didik.

"Jumlahnya dua kali lipat. Jadi pengangguran terbuka dan terselubung itu hampir 30 juta, 29 juta sekian. Jadi jumlahnya besar dan masif," sambungnya.

Ketua Dewan Pengurus Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) ini meminta negara, dalam hal ini pemerintahan Presiden Joko Widodo, untuk memberikan kebijakan yang serius membantu dan memperbaiki keadaan ekonomi masyarakat.

Sebab disamping itu, ada sektor informal yang menurut Didik jumlahnya naik dari 45-50 persen menjadi 60 persen.

Hal ini menegaskan banyaknya orang yang kehilangan kerja dan harus memilih aktif di sektor informal yang pemasukannya tidak pasti.

"Apa sektor informal? (Misalnya) dia jualan yang tidak bermutu, pendapatannya rendah, jam kerjanya rendah, semuanya rendah. Jadi sekarang kita menghadapi hal-hal yang betul-betul riskan," paparnya.

"Maka kita harus prihatin, negara dan lingkungan sekitar harus berupaya mengatasi ini. Itu keadaannya," demikian Didik J Rachbini dilansir dari Kantor Berita Politik RMOLID. [dzk]



Komentar Pembaca

The ads will close in 10 Seconds