Dewan Minta Pemprov Banten Persiapkan Sekolah Tatap Muka Dengan Matang

Pendidikan  RABU, 05 MEI 2021 , 00:18:00 WIB | LAPORAN: JEJEN MUHAMAD

Dewan Minta Pemprov Banten Persiapkan Sekolah Tatap Muka Dengan Matang

Sekolah tatap muka/Net

RMOLBANTEN Pemprov Banten diminta untuk mematangkan konsep sekolah Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara komprehensip pada Juli 2021 mendatang.

Demikian disampaikan Sekretaris Komisi V DPRD Banten Fitron Nur Ikhsan kepada awak media di Plaza Aspirasi, KP3B, Curug, Kota Serang, Selasa (4/5).

Sebelum digelar kembali PTM secara terbatas pada Juli semua harus dipersiapkan secara komprehensif jangan sampai pelaksanaan tatap muka nanti berujung pada kegagaglan hingga memicu klaster Covid-19 di dunia pendidikan.

"Blueprint-nya harus jelas, agar tidak terjadi klaster baru di sekolah setelah pembelajaran tetap muka secara terbatas dibuka. Itu harus dibuat regulasinya secara utuh mulai merumuskan aspek lingkungan, aspek KBM semua harus diperhatikan agar tidak terjadi cluater baru," ujar Fitron.

Fitron menegaskan, jika seluruh persiapan telah matang beserta memenuhi standar Covid-19 maka barulah PTM secara terbatas bisa digelar dengan efektif.

Sejauh ini, kata Fitron sejak pandemi menerjang Indonesia dunia pendidikan dipaksakan untuk melakukan peralihan metode pembelajar dari ofline ke online. Namun peralihan ini justru menimbulkan persoalan baru karena pembelajan berjalan kurang efektif hingga dikeluhkan orang tua siswa.

"Semua orang tua mengeluh, pendidikan daring jadi bentuk lepas tangan guru. Orang tua lebih sibuk daripada guru," katanya.

Fitron mewanti-wanti bila persoalan pendidikan daring terus dibiarkan tanpa ada evaluasi maka akan berdampak negatif.

Ia menganalogikan kekhawatiran tatap muka dimasa pandemi dengan sekumpulan tikus yang berada di dalam sangkar yang takut keluar karena diisukan ada kucing diluar. Lama kelamaan sekumpulan tikus itu akhirnya saling makan karena lapar tidak keluar.

"Yang seharusnya tikus-tikus itu lakukan adalah belajar menghindar dari kucing, bukan diam didalam sangjar hingga akhrunya saling makan diantara mereka sendiri," terang Fitron.

Politisi Golkar itu juga tidak ingin akibat kebiasaan belajar daring, pejalar menjadi lupa bagaimana caranya mewujudkan mimpi mereka secara nyata.

"Banyak contoh orang-orang yang hidupnya dibelakang layar, orang lain hanya bisa mengomentari orang-orang sukses," pungkasnya. [ars]


Komentar Pembaca

The ads will close in 10 Seconds