Gde Sumarjaya: Kita Dukung Kemenperin Lawan Penimbunan Di Jatim Oleh PT KTM

Hukum  MINGGU, 09 MEI 2021 , 15:48:00 WIB | LAPORAN: FIRMANSYAH

Gde Sumarjaya: Kita Dukung Kemenperin Lawan Penimbunan Di Jatim Oleh PT KTM

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih/Net

RMOLBANTEN Masih maraknya permainan pengusaha nakal yang menimbun stok pangan saat puasa dan jelang lebaran dengan tujuan permainan harga dan mendesak impor, menjadi sorotan DPR RI. Aparat hukum diminta bertindak tegas melawan mafia pangan.

Wakil Ketua Komisi VI DPR Gde Sumarjaya Linggih mengatakan, perusahaan nakal itu sengaja menumpuk barang itu agar bisa memonopoli perdagangan.

"Setelah melakukan penumpukan, entah dengan desain atau tidak, beberapa pihak lantas berteriak kelangkaan gula rafinasi,” ujar Gde dalam keterangan tertulisnya, Minggu (9/5).

Gde merespons upaya Satgas Pangan Polda Jatim melakukan penegakan hukum terhadap PT Kebun Tebu Mas (KTM). Perusahaan tersebut diketahui melakukan penumpukan 15 ribu ton gula rafinasi dan 22 ribu ton gula kristal putih, pasca sidak yang dilakulan pada akhir April lalu.

Legislator asal Bali itu mengetahui, selama ini KTM mengeluh tak mendapatkan izin impor bahan baku untuk produksi gula rafinasi.

Kenyataannya, bahan baku sengaja ditumpuk. Mereka juga menyalahkan Permenperin Nomor 3 Tahun 2021 tentang Jaminan Ketersediaan Bahan Baku Industri Gula dalam rangka Pemenuhan Kebutuhan Gula Nasional.

"Saya rasa apa yang dilakukan oleh perusahaan ini adalah modus yang biasa dipakai oleh para mafia pangan. Dalam hukum positif sudah diatur kok, oknum yang mengambil keuntungan dengan menimbun barang dapat dijerat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan," tegas Gde.

Gde lantas merujuk pada beleid tersebut, pelaku usaha yang menyimpan barang kebutuhan pokok atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat atau terjadi hambatan kelangkaan barang, dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Rp 50 milar.

"Tindakan curang seperti ini harus ditindak tegas. Mereka bermain playing victim, seolah-olah menjadi korban kebijakan pemerintah, padahal ingin mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar," katanya

Sebelumnya sejumlah industri makanan dan minuman di Jawa Timur mengeluhkan langkanya gula rafinasi setelah terbitnya Permenperin Nomor 3 Tahun 2021. Kemenperin kemudian melakukan pengecekan, ternyata stok aman. Lalu Satgas melakukan sidak dan ditemukan praktik penimbunan.

Sementara itu, Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kemenperin, Supriadi mengatakan, temuan ini membuktikan bahwa tidak ada kelangkaan gula rafinasi seperti yang dikeluhkan sebelumnya.

"Memang nggak ada (kelangkaan). Itu terbukti (dengan adanya temuan)," ucapnya.

Ia melanjutkan, pihaknya justru heran dengan adanya tumpukan gula rafinasi. Karena, cadangan gula rafinasi yang dimiliki PT KTM sudah habis didistribusikan ke pelaku usaha yang membutuhkan dan sudah terdaftar paling lambat Februari 2021.

"Harusnya dia itu sudah mulai edarkan gula itu sejak Januari karena kita sudah berikan itu pada Januari. Harusnya sudah habis dong Januari Februari," tegasnya.

Kini, Kemenperin tengah menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari Satgas Pangan dan Kementerian Perdagangan untuk dilakukan tindak lanjut.

"Satgas Pangan dari Dirjen Perdagangan dalam negeri rekomendasi ke kita nanti kemudian kita berikan punishment," demikian Spriadi.[ars]

Komentar Pembaca
Irna-Tanto Dan Benyamin-Pilar Resmi Kepala Daerah
Kebangkitan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Kebangkitan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

SABTU, 29 MEI 2021 , 01:14:00

Penampakan Gerhana Bulan Total

Penampakan Gerhana Bulan Total

KAMIS, 27 MEI 2021 , 00:41:00

The ads will close in 10 Seconds