Tuduhan Pesantren Di Banten Jadi Sarang Radikalisme Adalah Kejahatan!

Suara Publik  SELASA, 15 JUNI 2021 , 00:30:00 WIB

Tuduhan Pesantren Di Banten Jadi Sarang Radikalisme Adalah Kejahatan<i>!</i>

Ilustrasi/Net

RMOLBANTEN Tidak habis pikir, barangkali menjadi kata yang paling tepat untuk menyikapi statement dari seseorang yang disebut-sebut tokoh masyarakat, namun menuduh pesantren di Banten terpapar Radikalisme.

Bahkan ia menyebut beberapa pesantren menjadi sarang paham-paham khilafah yang berafiliasi dengan gerakan separatis sekaligus ormas terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Tuduhan yang demikian itu adalah sebuah kejahatan, apabila tidak didukung dengan bukti-bukti empirik. Bahkan, bisa berujung pidana, karena dianggap menyebarkan berita bohong alias hoaks.

Lebih jauh daripada itu, ucapan itu bisa kena delik hukum lainnya, lantaran telah mencoba mencemarkan nama baik pesantren se-provinsi Banten.

Pesantren sebagai tempat menimba ilmu, tidak hanya ilmu umum, melainkan ilmu agama juga kehidupan, dirusak secara sadar dan meyakinkan oleh pihak yang disebut-sebut tokoh masyarakat itu, lantaran menuding pesantren di Banten disusupi gerakan radikal.

Radikalisme, dewasa ini acap kali dijadikan alat legitimasi untuk menggiring opini terhadap seseorang/organisasi/sekolah dll dengan tujuan tertentu agar publik merasa ketakutan dan menghindari yang demikian itu.

Selaras dengan itu, jika radikalisme disematkan kepada pesantren, bahkan pimpinan pesantren, tanpa bukti permulaan yang cukup adalah bentuk penghinaan terhadap pesantren itu sendiri.

Bagiamana tidak? Alumni-alumni pesantren di seluruh pelosok negeri telah banyak berkiprah di berbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Pos-pos strategis mulai dari masalah keummatan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) hingga sosial, ekonomi, politik, telah lama diisi oleh jebolan-jebolan pesantren. Karena itu, adalah sebuah penghinaan apabila pesantren di Banten dituduh menjadi sarang radikalisme.

Teringat era rezim otoriter orde baru, kala itu setiap warga negara yang kritis terhadap penguasa malah dituduh berafiliasi dengan komunis.

Sebagai contoh, di saat gerakan mahasiswa pada tahun 1998 seperti FORKOT (Forum Kota) melakukan sejumlah aksi unjuk rasa karena menginginkan reformasi karena terjadi krisis moneter, sehingga kaum terpelajar (mahasiswa) mengupayakan agar orde baru tumbang, malah dituduh komunis. Pada zaman itu, FORKOT dituduh Forum Komunis Total. Betapa tuduhan yang demikian itu adalah jahat.

Jika dikontekstualisasikan dengan kondisi saat ini, seperti tidak jauh berbeda, pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dengan gampangnya melabeli seseorang/organisasi/ dll dengan label radikal. Miris, radikalisme dijadikan alat legitimasi untuk kepentingan tertentu oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

Seperti diketahui, ramai diperbincangkan pernyataan dari KH Embay Mulya Syarief yang menyebut Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Banten telah disusupi paham Islam radikal.

Sebagai salah satu alumni pesantren yang diasuh oleh KH. Sulaiman Effendi yang juga Ketua Presidium Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Banten, saya sangat menyesalkan pernyataan tendensius yang tidak berdasar dilontarkan oleh Embay Mulya Syarief tersebut.

Sebab, saya bersaksi selama kurun waktu empat tahun mondok di Pondok Pesantren Manahijussadat yang diasuh oleh KH. Sulaiman Effendi, tidak pernah ada ajaran paham-paham radikal sebagaimana dituduhkan Embay.

Ukhuwwah insaniyah, ukhuwwah islamiah, ukhuwwah wathaniyah, sangat ditekankan dalam Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) yang menjadi kurikulum pendidikan di pondok pesantren. Melalui KMI, diharapkan peserta didik dalam hal ini santri, bisa menjaga keseimbangan yang proporsional antara pengetahuan agama dan umum, serta integrasi antara intra, ekstra dan co-kurikuler.

Selain itu, sangat jelas, dalam motto pondok termaktub; berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas. Juga dalam Panca Jiwa Pondok termaktub; jiwa keikhlasan, jiwa kesederhanaan, jiwa berdikari, jiwa ukhuwwah islamiah, jiwa bebas.

Dari Motto dan Panca Jiwa Pondok itu sudah sangat jelas maksud dan orientasi pendidikan di pondok pesantren. Betapa nilai-nilai kebijaksanaan, kesederhanaan, dan inklusivitas sangat ditekankan di pondok pesantren.

Singkatnya, bagaimana mungkin paham radikal tumbuh subur dengan sikap inklusif? Sebab, paham-paham agama yang kaku, bukan hanya Islam, dan bisa mengarah pada ekstremisme bermula dari sifat ekslusif dan merasa benar sendiri. Seperti halnya menuduh pihak lain dengan tudingan radikal.

Sikap yang demikian itu antara lain merupakan bentuk ekspresi lantaran menganggap dirinya paling benar, toleran, hingga menuding pihak yang diluar dirinya adalah radikal.

Atas dasar itu, Embay harus bertanggungjawab atas ucapannya yang telah membuat gaduh tersebut. Sebagai seorang tokoh masyarakat, dia harusnya meminta maaf kepada para alim ulama dan kiyai di Banten akibat ucapannya tersebut, yang tidak hanya memperkeruh suasana, tetapi, membuat sakit hati para pengasuh pondok pesantren se-Banten.

Kepadamu (Embay) kami meminta pertanggungjawaban!

Wallahu 'alam bis shawab


Faisal Aristama
Alumni Pondok Pesantren Manahijussadat angkatan 2012


Komentar Pembaca
Prabowo Serahkan
Kursi Roda Buronanan 10 Tahun

Kursi Roda Buronanan 10 Tahun

MINGGU, 27 JUNI 2021 , 01:30:00

De Oranje Angkat Koper

De Oranje Angkat Koper

SENIN, 28 JUNI 2021 , 01:02:00

The ads will close in 10 Seconds