Ketua FKS Tangsel Ajak Kaum Milenial Sadar Jaga Ketahanan Pangan

Parlemen  SENIN, 18 OKTOBER 2021 , 10:58:00 WIB | LAPORAN: LANI PAHRUDIN

Ketua FKS Tangsel Ajak Kaum Milenial Sadar Jaga Ketahanan Pangan

Shinta Wahyuni Chairuddin/Net

RMOLBANTEN Ketua Tatanan Masyarakat Sehat Mandiri Forum Kota Sehat (FKS) Tangsel, Shinta Wahyuni Chairuddin mengajak seluruh masyarakat harus bisa lebih peduli menjaga ketahanan pangan.

Ajakan Shinta masih dalam suaasana memperingati Hari Pangan Sedunia yang diperingati pada 16 Oktober 2021.

Data Global Hunger Index (GHI) atau Indeks Kelaparan Global tahun 2020 merilis jumlah orang yang tidak mendapatkan nutrisi secara layak sebanyak 2,4 miliar atau hampir sepertiga populasi dunia. Jumlah ini jauh meningkat dari sebelumnya yang hanya 320 juta.

Anggota Komisi IV DPRD Tangsel ini mengajak, seluruh masyarakat untuk sadar dan peduli terhadap ketahanan dan kemandirian serta kedaulatan pangan.

"Kenapa? Sistem ketahanan pangan baik skala global maupun nasional masih rapuh. Hal ini sangat dimungkinkan beberapa tahun ke depan akan terjadi rawan pangan. Sebagai dampak dari pemanasan global atau perubahan iklim, alih fungsi lahan pertanian, serta rendahnya masyarakat akan produksi pangan," tutur Shinta dalam keterangannya, Minggu (17/10).

Lanjutnya, perubahan iklim memiliki dampak serius dan mengancam kehidupan. Dimulai dari perubahan musim, seperti musim hujan dan kemarau tidak menentu, krisis air bersih, produksi panen hingga gagal panen, sampai dengan penyebaran penyakit.

"Negara-negara yang tidak responsif terhadap perubahan iklim akan mengahadapi kondisi buruk dari adanya perubahan iklim. Apalagi saat ini suhu sudah berapa pada level optimal, artinya pemanasan kecil saja akan menurunkan produktivitas sehingga sulit untuk menumbuhkan sumber pangan, ironinya kondisi ini akan banyak dialami oleh negara-negara yang berada pada kawasan tropis," tandasnya.

Tak hanya itu saja, bertambahnya populasi manusia juga bisa menyebabkan ketahanan pangan tidak terkendali, jika pemerintah tidak serius memperhatikan ketahanan pangan.

"Peningkatan jumlah penduduk semestinya diikuti oleh peningkatan produktivitas pangan yang ditandai dengan peningkatan luas pertanian. Namun faktanya, tidak. Selain semakin ditinggalkan para generasi petani karena dianggap tidak menjanjikan, lahan pertanian juga banyak yang beralih fungsi menjadi tanaman beton," kata Shinta.

Masih kata Shinta, peran pemerintah harus bisa menyadarkan generasi milenial guna melanjutkan program-program ketahanan pangan melalui urban farmer terus tumbuh pesat.

"Di Kota Tangsel misalnya, lahan pertanian masih minim dan terus berkurang setiap tahunnya. Data Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kota Tangerang Selatan misalnya menyebutkan 98 persen lahan pertanian yang ada sudah beralih fungsi sejak tahun 2011 sejak masuknya para pengembang. Pada tahun 2011 lahan pertanian (sawah) di Kota Tangerang Selatan masih 220 hektar, menyusut menjadi tinggal 3 hektar pada tahun 2021, kondisi ini juga terjadi pada daerah-daerah lain. Sementara Kota Tangerang Selatan sangat tergantung pada hasil pangan dari daerah lain. Jika kondisi ini terus berlanjut maka kelangkaan pangan di Kota Tangerang Selatan tinggal menunggu waktu yang tidak lama," paparnya.

Oleh karena itu, pemerintah harus bisa mendesain sektor pertanian di wilayahnya yang minim akan lahan pertanian melalui desain kebijakan yang ideal sehingga tercapai kemandirian pangan.

"Pemerintah daerah atau kota dapat membenahi ketahanan dan kemandirian pangannya mulai dari sebuah gerakan penyadaran masyarakat akan pentingnya kesediaan pangan terutama pada generasi milenial. Mulai dari Gerakan menanam pohon produktif yang sekaligus sebagai tanaman pelindung," tutup Shinta. [ars]


Komentar Pembaca
Mural Tikus Di Tangsel

Mural Tikus Di Tangsel

KAMIS, 14 OKTOBER 2021 , 06:18:00

Penghargaan WTP Ke-13

Penghargaan WTP Ke-13

SABTU, 16 OKTOBER 2021 , 06:23:00

Penghargaan Peraih Medali PON

Penghargaan Peraih Medali PON

SABTU, 09 OKTOBER 2021 , 06:30:00

The ads will close in 10 Seconds