Pesantren Era Digital

Dr. Fauzan MA*

Suara Publik  SABTU, 23 OKTOBER 2021 , 11:03:00 WIB

Pesantren Era Digital

Ilustrasi santri digital/Net

RMOLBANTEN Pesantren identik dengan lembaga tradisional yg senantiasa hidup dan berkembang di tengah masyarakat Indonesia.

Sejak awal kelahirannya, pesantren identik dengan lembaga yang mengajarkan nilai-nilai tasawuf, mempertahankan kemurnian ajaran Islam, sehingga tujuan utama pendirian lembaga inipun sederhana yakni menyiapkan generasi muslim Indonesia yg memiliki kemampuan pendidikan agama dan berakhlak al-karimah.

Hal ini sebagaimana ungkapan Manfred Ziemek bahwa pendidikan pesantren bertujuan untuk mempersiapkan akhlaq dan keagamaan”.  Para santri diharapkan ketika pulang ke masyarakat bisa menjadi pemimpin yang bisa mengayomi dengan kemampuan keagamaan dan akhlak yang baik.

Sebagai lembaga sudah dikenal sejak abad 16, pesantren sudah mampu menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga yg berkontribusi besar dalam Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan Pendidikan Nasional sendiri berfokus pada pilar "pembentukan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berilmu, sehat jasmani dan rohani, serta cakap/kreatif".

Sebuah target pencapaian pembentukan pribadi-pribadi santun (al-akhlak al-karimah) antar sesama manusia (hablum minannas) maupun ketundukkan kita kepada Allah SWT (hablum minallah) yang dibarengi dengan kompetensi pengetahuan dan skill yg memadai.

Disadari atau tidak, lembaga pendidikan pesantren sejak dahulu kala ecara substansi (program dan kurikulum) sudah menerapkan kebutuhan tujuan SPN. Betapa tidak, pembentukan akhlak al-karimah (baca: sikap spritual dan sosial dalam kurikulum 2013) butuh proses panjang, keterlibatan semua pihak, dan semua sistem/program pendidikan harus disiapkan dengan baik.

Indikator lainnya (sekarang sdh menjadi kenyataan) banyak sekolah/madrasah yang tidak lagi melihat pendidikan secara parsial yang hanya pembelajaran formal, tetapi dipadukan dengan pembiasaan sebagai aktifitas lainnya.

Saat ini bermunculan sekolah berasrama (boarding school), terahir ada kebijakan yg cukup menarik yakni penerapan sistem Full Days School. Kelembagaan pendidikan keagamaan yang terus memberikan "model" tersendiri bagi keberlangsangsungan pendidikan nasional. Keberadaannya pun terus diberikan ruang dan legalitas yang pasti (lihat Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan dan Keagamaan).

Secara kelembagaan, pesantren sudah memberikan kontribusi dan peran yang tidak sedikit, yaitu (1) sebagai lembaga pendidikan keagamaan (Islam); jika dulu lembaga ini hanya mampu memproduksi ahli-ahli agama dengan target ahir keilmuan Islam semata, tentu tidak pada masa sekarang. 

Pesantren sudah menawarkan gagasan tentang pentingnya integrasi keilmuan, pola yang memadukan keunggulan ilmu keislamanan (tafaqquh fil din) di pondok pesantren dengan konsep pengembangan ilmu pengetahuan yang biasa diajarkan di sekolah/madrasah.

(2) secara sosial, pesantren juga sudah berusaha menunjukkan jati dirinya sebaga lembaga pendidikan inklusif dengan menghilangkan skat-skat sosial yang berkembang di masyarakat, hanya ada komponen utama dalam pesantren, yakni Kyai (ustadz) dan Santri.

Kyai berperan sebagai pendidik, pembimbing, pembina, pengasuh, panutan, sekaligus bisa sebagai orang tua. Sementara santri biasanya berposisi sebagai subjek pembelajar yg sedang mencari ilmu pengetahuan, pribadi yg masih butuh bimbingan dan pembinaan dari orang-orang di sekitarnya. Keduanya kerap menjadi unsur utama pesantren yang saling membutuhkan (patron klien) satu sama lain.  

Pesantren di Era Digital


Pesantren dengan model integrated kurikulum kerapkali dijadikan alternatif bagi masyarakat sebagai model pendidikan yang bisa mengantarkan peserta didik memiliki keutuhan kompetensi. Pembentukan pribadi yang memiliki akhlak al karimah, penguasaan dan pengamalan ilmu agama secara baik, serta penguasaan ilmu pengetahuan umum yang menjadi tuntutan kehidupan global.

Sistem pendidikan pesantren yang selama ini hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dan lebih menekankan sisi moralitas, hari ini  terasa sangat kurang jika sistem tersebut tidak membuka diri dengan sistem pendidikan umum yang sarat dengan nilai-nilai rasionalitas, sebagai upaya untuk menghadapi tuntutan zaman.

Bagi Malik Fajar (1999; 118), bahwa sudah waktunya dicari usaha ke arah tercapainya suatu sintesa, konvergensi, atau sinergisitas, sehingga dapat dicapai kesatuan antara moralitas dan rasionalitas. Penggabungan sistem pendidikan pesantren (local genius) sebagai satu sistem pendidikan tradisional yang telah menjadi great tradition dengan sistem pendidikan yang punya corak moderen (pendidikan umum).

Lembaga ini bukan saja merupakan sub-culture yang unik, tetapi juga lembaga pendidikan Islam yang cukup relatif tua di Indonesia yang terus survive hingga sekarang, keberadaannya terus eksis sejalan dengan kemauan dan kegigihan  tokoh pendiri (Kyai).

Bagi penulis sendiri, keberadaan lembaga pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang tidak saja menempa para santri menjadi lebih dewasa”, paham terhadap ilmu-ilmu keislaman, tapi yang lebih penting dari itu semua, para santri dibentuk dengan pola pembiasaan positif yang menjadi bekal hidup di kemudian hari.

Pembiasaan baik yang coba diberlakukan pihak pesantren, mulai dari pemanfaatan waktu (kedisplinan) selama 24 jam, salat berjamaan (tahajud dan salat sunah lainnya), mengaji, musyawarah, memasak, istirahat, bahkan dalam mengalokasikan budjet keuangan selama satu bulan.

Pada mulanya, semua aktifitas tersebut terasa berat, tapi setelah dijalankan semua berjalan apa adanya, hingga akhir masa pendidikan. Pengalaman atau tradisi baik itulah yang kemudian melekat menjadi sebuah nilai karakter. Suatu pengalaman pendidikan nilai yang tentu saja tidak didapatkan di bangku sekolah” tapi justru dari sebuah lembaga pendidikan sederhana, yakni pesantren.

Pada saat yang lain, sebagai lembaga alternatif pendidikan keagamaan keberadaan pesantren juga perlu penyesuaian dan inovasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sejak masa keemasan Islam (golden age) keberadaan ilmu dipahami sebagai hasil pemikiran yang secara empiris sudah teruji dan dapat bisa dibuktikan. Oleh karenanya, ilmu sendiri tidak pernah memiliki jenis kelamin, keberadaannya harus dipelajari tanpa ada diskriminasi. Adanya perbedaan cara pandang terhadap ilmu lebih dilihat karena objeknya, bukan pada substansi ilmu sendiri.

Dalam The Book of Knowledge, al-Ghazali (450/1058-505/1111) mendifinisikan ilmu agama (al-ulum al-syariah) sebagai ilmu yang diperoleh dari nabi-nabi dan tidak hadir pada mereka melalui akal.

Sementara ilmu pengetahuan, al-Ghzali menyebutnya dengan istilah ilmu intelektual dipahami sebagai ilmu yang dicapai atau diperoleh melalui intelek manusia semata (Osman Bakar: 1998, h. 233). Kedua ilmu tersebut yang ikut mewarnai perjalanan dan kejayaan ummat Islam pada abad keemasan.

Dalam konteks kelembagaan pesantren, semua ilmu harus dilihat sebagai satu kesatuan (integrated) yang saling melengkapi.

Pola integrasi kurikulum yang memadukan antara penguatan ilmu agama (tafaqquh fil din) dan ilmu pengetahuan umum (sains) sudah menjadi kebutuhan. Terlebih di era digital, sudah barang tentu lembaga pendidikan pesantren harus mampu memanfaatkan teknologi informasi sebagai media dan/atau sumber kegiatan pembelajaran.

Semoga, pesantren terus menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang mampu melahirkan generasi berkualitas. [red]

*Dosen FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Alumni Pondok Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon, PP Ali Maksum Krapyak Bantul Yogyakarta



Komentar Pembaca
Mural Tikus Di Tangsel

Mural Tikus Di Tangsel

KAMIS, 14 OKTOBER 2021 , 06:18:00

Penghargaan WTP Ke-13

Penghargaan WTP Ke-13

SABTU, 16 OKTOBER 2021 , 06:23:00

Penghargaan Peraih Medali PON

Penghargaan Peraih Medali PON

SABTU, 09 OKTOBER 2021 , 06:30:00

The ads will close in 10 Seconds