Keindahan Persoalan

Opini  MINGGU, 23 JANUARI 2022 , 05:13:00 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

Keindahan Persoalan

Foto: Disway

RMOLBANTEN Penantian dua tahun Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) mendapat pengakuan dari Dewan Pers tuntas sudah, setelah Wakil Ketua Dewan Pers, Hendry Ch Bangun menyerahkan Surat Keputusan (SK) penetapan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) sebagai konstituen Dewan Pers.

Penetapan JMSI sebagai konstituen Dewan Pers melalui SK Dewan Pers No: 15/SK-DP/I/2022 tanggal 10 Januari 2022 yang ditandatangi oleh Ketua Dewan Pers Muhammad Nuh.

Hendry Ch Bagun menyerahkan SK  tersebut dilakukan bersamaan dengan pelantikan pengurus daerah JMSI Jawa Barat dan dihadiri oleh Ketua KPK RI Firli Bahuri serta sejumlah pejabat Jawa Barat di hotel Horison Bandung Jawab Barat, Jumat (21/1).

Dalam sambutannya, Hendry Ch Bangun mengatakan bahwa JMSI merupakan organisasi pendatang baru di Dewan Pers bersama organisasi perusahan pers media siber bersama 2 organisasi perusahan pers lainnya seperti AMSI dan SMSI. Dirinya mengatakan jika kehadiran JMSI akan banyak membantu tugas Dewan Pers untuk memverifikasi media siber.

Kehadiran JMSI membahagiakan Dewan Pers. Ini tentunya berkaitan dengan media yang bernaung di orgasasinya masing-masing.

"Kami sangat bangga atas kehadiran JMSI. Ini akan sangat membantu Dewan Pers dalam menangani verifikasi media anggotanya. Media yang baik adalah media yang bergabung dengan organisasi, baik itu organisasi wartawan maupun organisasi perusahan pers," tegas Hendry.

JMSI sendiri menyerahkan berkas ke Dewan Pers sejak tahun 2020 setelah melakukan Munas JMSI pada bulan Juni 2020 yang memilih dan menetapkan Ketua Umum JMSI periode 2020-2025.

Terdapat 29 berkas Pengurus Daerah (Pengda) JMSI diserahkan ke dewan pers untuk dilakukan verfikasi adminstrasi. 23 diantaranya dinyatakan memenuhi ketentuan seperti dalam AD-ART JMSI yakni terdapat minimal 10 perusahan pers yang berbadan hukum PT, Yayasan atau Koperasi di setiap daerah.

Ketentuan lain yang menjadi persyaratan adminstrasi adalah terdapat minimal 200 media siber yang bergabung sebagai anggota JMSI di seluruh Indonesia.

Menariknya, dari batas minimal 10 daerah yang akan dilakukan verifikasi, Pengurus Pusat JMSI mengajukan 12 daerah untuk dilakukan verifikasi faktual di antaranya Pengda Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Barat, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa Timur dan Sulawesi Tenggara.

Dari 12 Pengda yang dilakukan verfikasi faktual, 11 diantaranya dinyatakan lulus verifikasi yang menghantarkan JMSI sebagai konstituen Dewan Pers.

Kepada 12 Pengda yang telah sukses mengantarkan JMSI menjadi konstiuen Dewan Pers diberikan penghargaan oleh Ketua Umum JMSI, Teguh Santosa dan diterima langsung oleh masing-masing Ketua Pengda yang diundang khusus sebagai kehormatan perjuangan mereka di daerah.

Sebelum ditetapkan sebagai konstiuen Dewan Pers, JMSI kini sudah berada di 31 provinsi termasuk provinsi paling ujung Papua dan Papua Barat.

Sementara, Sekretaris Jenderal JMSI, Mahmud Marhaba juga mengapresiasi semua pengurus dan anggota JMSI se-tanah air yang dengan setia menopang pelaksanaan verifikasi hingga ditetapkan JMSI sebagai konstituen dewan pers.

"Ini adalah hasil kerja keras dan kerja cerdas semua pengurus JMSI di tingkat daerah. Penghargaan besar diberikan kepada mereka yang telah susah payah berkorban secara materi, pikiran dan tenaga. Kesetiaan dan kesabaran pengurus pusat dan daerah patut diajungi jempol, apalagi ada upaya dari pihak luar yang mencoba menggagalkan JMSI sebagai konstituen Dewan Pers. Saya salut kepada semua kita yang terlibat di dalamnya," ungkap Mahmud. [ars]

-----


Keindahan Persoalan


RMOLBANTEN Iinformasi yang mengandung optimisme itu bisa mendorong gerak. Itu nyata. Setidaknya saya lakukan.

Semangat saya untuk ke Tambora lagi pekan lalu antara lain karena informasi baik ini: "Semua sungai yang dulu bapak seberangi itu sekarang sudah ada jembatannya. Bisa lebih cepat," ujar teman saya di Bima.

Saya pun percaya. Sudah empat tahun saya tidak ke Tambora. Saya ingat kali pertama ke Tambora lebih berat lagi. Tapi yang pertama itu musim kemarau. Kalau toh harus menyeberangi sungai mudah saja: airnya sedikit sekali. Sesekali justru merasa seperti Indiana Jones.

Di lain waktu saya juga pernah ke Tambora pakai jalan pintas: speed boat. Dari kota Sumbawa Besar langsung motong Teluk Saleh. Melewati Pulau Moyo yang Anda sudah tahu itu: Lady Di pernah tinggal di situ seminggu. Rocker Mike Jagger juga. Beberapa bintang film Hong Kong ikutan.

Dua jam di speed boat sudah sampai Tambora.

Pernah juga ke Tambora dari Bima. Tujuh jam naik mobil. Zaman itu jalan lebih banyak lubangnya -lubang beneran- daripada ratanya. Juga lebih banyak sungainya daripada jembatannya.

Saya belum pernah ke Tambora dari Sumbawa Besar lewat Empang. Memutari Teluk Saleh itu.

Sekarang!

"Delapan jam lho pak," ujar teman saya yang akan mengemudikan mobil.

"Kita bisa gantian. Saya sudah mulai terbiasa berkendara 8 jam. Surabaya-Jakarta," jawab saya.

Dari UTS (Universitas Teknologi Sumbawa) kami langsung ke Tambora. Sepanjang jalan ada obrolan yang menarik: salah satunya tentang si Nurul Huda, mahasiswi Lebanon berpaspor Palestina yang lima ”I” itu. Saya lirik foto Nurul sampai dizoom berkali-kali. Terutama ingin lihat alis dan matanya.

Saya ingat sajak berjudul ”Alis” karya Raani Rasyad yang saya baca di Bima.


Saking asyiknya perjalanan ini  sampai saya lupa: belum memilih komentar-pilihan untuk Disway edisi besok paginya.

Tentu ada keasyikan lain yang juga lima ”I”: alam Sumbawa di musim basah seperti ini. gunung dan lembahnya hijau semua. Seperti lukisan. Rasanya tidak kalah dengan pemandangan di Selandia Baru. Saya lebih senang melihat yang Sumbawa ini: hijaunya memberi harapan. Itulah hijau tanaman jagung. Di lembah, di lereng, di bukit semuanya jagung.

Sepanjang lima jam dengan mobil berkecepatan 90 km/jam hanya ada jagung. Jagung. Jagung. Jagung.

Bukan main semangat rakyat Sumbawa menanam jagung. Banyak juga silo penyimpan jagung yang sudah dikeringkan.

Melihat semua itu imajinasi saya ke Iowa, bagian tengah Amerika Serikat. Lima jam mengemudi mobil di sana hanya pemandangan serba jagung yang terlihat.

Sumbawa mengalahkan Iowa itu -indahnya. Di Iowa tanahnya datar. Everything flat. Sama sekali tidak punya bukit -berbukitannya di rumah masing-masing.

Saya langsung ingat seorang bupati yang dua periode memegang kekuasaan di Dompu: HBY -Haji Bambang Yasin. Entah di mana HBY sekarang. Bukan ia yang memulai, tapi HBY-lah yang mewabahkan jagung di sana. Ia mulai dari Dompu. Lalu menjalar ke seluruh Sumbawa.

Seorang bupati ternyata bisa meninggalkan sejarah yang hebat - -kalau mau.

Tak terasa hari sudah senja. Belum juga sempat membaca komentar mana yang akan terpilih. Juga belum menulis artikel untuk Disway.

Datang pula daya tarik lain Sumbawa yang ”mengganggu” pemilihan komentar: sapi.

Kian dekat Tambora alam Sumbawa berubah bentuk. Dari serba jagung ke padang rumput. Sepanjang jalan, hampir 1 jam perjalanan, saya hanya melihat sapi, sapi dan sapi. Di kanan dan di kiri. Terselip banyak kuda di tengah-tengah sapi itu.

Padang rumput, bukit, sapi, kuda dan pohon rindang di sana-sini.

"Ini mirip di Kentucky," teriak saya di dalam hati. Saya jadi ingat perjalanan di sekitar Lexington. Hanya di sana hijaunya sepanjang masa. Di Sumbawa hanya kalau di musim basah seperti ini.

Hari pun mulai gelap. Tidak bisa lagi lihat kanan-kiri. Ini saatnya saya membaca komentar Disway.

Saya pun merogoh saku celana. Tidak ada HP. Merogoh saku jaket. Nihil. Saku tempat duduk. Suwung. Kotak di dashboard. Kadada.

Mobil berhenti.

Penggeledahan dilakukan.

Sami mawon.

"Berarti ketinggalan di Sumbawa Besar," kata saya.

Mau balik sudah tujuh jam di belakang.

"Oh... Ketinggalan di apotek," kata saya.
Memang, tadi mampir apotek. Cari obat. Tidak dapat. Obat saya ketinggalan di Lombok.


Untuk menulis naskah, sih, bisa pinjam HP teman. Kebetulan ada bahan tulisan yang sudah siap di kepala: Dian Ciputra itu.

Tapi untuk memilih komentar tidak ada waktu lagi. Memilih komentar lebih lama dari menulis naskah. Itu karena semua komentar harus saya baca.

Kadang, ketika baru membaca sepertiga, sudah mendapat banyak komentar pilihan. Tapi selalu muncul perasaan seperti ini: tidak adil kalau tidak dibaca semua, siapa tahu di bawah-bawah juga ada yang layak dipilih.

Supaya adil: tidak ada yang dipilih!

Kebetulan, kami sudah sampai di rumah kepala dusun. Sudah pukul 20.00. Hujan pula. Lelah. Ngantuk. Lapar. Jadi satu di puisi kehidupan.

Saya lihat putri kepala dusun bergegas masak: di dapur kayu itu. Tidak hanya api yang menyala dari dapur itu. Hope dari perut pun ikut menyala-nyala.

"Di mana ayahanda?" tanya saya.

"Di kebun. Jaga tanaman jagung," jawabnya.

"Ibu di mana?"

Tengok cucu yang di Mataram".

"Suami?"

"Juga di kebun. Kalau tidak dijaga takut diserbu babi hutan," jawabnya.

Saya lihat bayinyi tidur pulas di lantai. Juga kakak bayi itu.

Mertua-menantu itu di kebun jagung semalam suntuk. Tiap malam. Di lereng Tambora. Jaraknya: satu jam jalan kaki dari rumah ini.

"Kuah ayam ini sedap sekali. Kuahnya segar. Ayamnya gurih," kata saya. Ngantuk pun hilang. "Ini diberi bumbu apa?" tanya saya.

"Sedikit kunyit, jahe, merica, bawang putih. Bawang putihnya agak banyak. Itu saja. Bumbu itu diuleg lembut. Lalu dimasukkan wajan -yang sedikit minyak gorengnya sudah panas. Tambahkan air. Setelah mendidih barulah ayamnya dimasukkan," katanyi.

Pukul 04.00 saya sudah bangun. Saya lihat nenek bayi itu. Rupanya, tengah malam, ketika saya lelap, dia pulang.

Bukan baru kali ini saya tidur di rumah itu. Ada kamar kosong. Atau tidur di terasnya. Nyenyak sekali. Diiringi suara debur ombak dari kejauhan. Lenguh sapi. Ringik kuda. Dan kokok ayam di pagi hari. [red]


Komentar Pembaca
Hadiah Lebaran

Hadiah Lebaran

MINGGU, 22 MEI 2022

Reputasi Segalanya

Reputasi Segalanya

SABTU, 21 MEI 2022

Monas Lokal

Monas Lokal

JUM'AT, 20 MEI 2022

Mengapa Indonesia Harus Prabowo-Puan 2024-2029?
PKB Daun Salam

PKB Daun Salam

KAMIS, 19 MEI 2022

Geger Abdul Somad Batubara (UAS) Vs Otoritas Singapura
Ketua KPK Resmikan Kantor JMSI Riau

Ketua KPK Resmikan Kantor JMSI Riau

SABTU, 19 MARET 2022 , 13:19:00

Zaki Resmikan Masjid Ash-Shomad

Zaki Resmikan Masjid Ash-Shomad

SABTU, 12 MARET 2022 , 21:06:00

Presiden Dan Gubernur Se-Indonesia Di IKN

Presiden Dan Gubernur Se-Indonesia Di IKN

SENIN, 14 MARET 2022 , 15:23:00

The ads will close in 10 Seconds